
Fenomena berbagi informasi secara berlebihan (oversharing) menimbulkan persoalan etika yang kompleks, selain dampak sosial seperti ancaman terhadap privasi dan menurunnya harga diri di ruang digital. Aktivitas bermedia sosial seharusnya mengikuti prinsip-prinsip Islam dalam menjaga kehormatan, tidak menyinggung keburukan orang lain, dan berkomunikasi secara jujur. Namun, perkembangan dunia digital sering membuat orang mengabaikan kehati-hatian demi mencari pengakuan dan eksistensi.
Pemahaman tentang oversharing sebagai praktik sosial yang dapat menimbulkan dilema moral belum banyak dibahas, terutama dari perspektif hadis. Padahal, tindakan ini dapat melanggar nilai-nilai Islam seperti menjaga martabat diri, menyimpan rahasia, serta tidak memamerkan dosa. Hadis-hadis Nabi menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengungkapkan informasi.
Baca Juga: Cara Rumi Menghadapi Overthingking dan Doomscrolling
Ketika oversharing dilakukan secara sadar sebagai bentuk presentasi diri atau bahkan dijadikan strategi dakwah tanpa mempertimbangkan batasan syar’i, persoalannya menjadi semakin rumit. Karena itu, ajaran Nabi berfungsi sebagai pengingat agar kita tidak berlebihan dalam membagikan informasi kepada orang lain.
Bahaya Oversharing Membuka Aib Diri dan Orang lain
Mengungkapkan kelemahan orang lain di media sosial kadang-kadang berujung pada saling menyebarkan kekurangan satu sama lain, bahkan sering kali hingga menarik orang lain yang seharusnya tidak terlibat untuk ikut mengungkapkan aib orang yang dibahas.
Hadis Nabi:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا
“Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.” (HR Bukhari)
Dalam hadis lain juga mengatakan bahanya adu domba dengan saling membuka aib.
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
“Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
Etika Bermedia Sosial Menurut Islam
Sebagai seorang Muslim, menjaga martabat diri adalah kewajiban. Di era digital yang serba cepat, sekali saja aib terungkap, dampaknya dapat menyebar luas dan sulit dikendalikan.
Baca Juga: 3 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Leader Newbie
- Tabayyun: memastikan kebenaran informasi
Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu”. (QS Al-Hujurat: 6).
Ayat ini menekankan pentingnya tabayyun atau klarifikasi sebelum menyebarkan informasi. Jangan sampai kita menjadi penyebar hoaks, fitnah, atau informasi yang tidak benar, yang bisa menyesatkan atau merugikan orang lain.
- Menjaga akhlak dalam berinteraksi
Rasulullah adalah teladan terbaik dalam tutur kata—beliau tidak pernah menghina atau berkata kasar. Di media sosial, sering muncul komentar pedas dan ujaran kebencian, padahal Allah menegaskan bahwa setiap kata kita dicatat oleh malaikat
Dalam Surah Qaf, ayat 18 dijelaskan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qaf: 18).
- Menghindari ghibah dan fitnah
Media sosial kerap membuat orang mudah membicarakan aib orang lain atau menyebarkan prasangka buruk. Islam melarang keras hal ini.
Baca Juga: Makna Kebahagiaan dalam Hidup, antara Uzlah dan Sikap Kaum Introvert
Allah Swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat: 12).
- Mengelola waktu dengan bijak
Media sosial bisa membuat kita lupa diri untuk scroll tanpa henti hingga melalaikan ibadah, pekerjaan, atau keluarga. Rasulullah saw bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari).
Gunakan media sosial untuk hal-hal bermanfaat: menyebarkan ilmu, dakwah, informasi yang benar, atau sekadar menjaga silaturahmi secara positif.
Ini Adalah beberapa langkah praktis untuk menghindari oversharing:
- Renungkan sebelum memposting. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini bermanfaat atau justru membuka kekurangan diri?
- Bedakan ruang pribadi dan ruang publik. Tidak semua hal pantas dibagikan di media sosial.
- Hormati privasi orang lain. Jangan membagikan cerita pribadi teman, pasangan, atau keluarga tanpa persetujuan mereka.
- Manfaatkan media sosial untuk hal positif. Sebarkan ilmu, inspirasi, dan kebaikan, bukan keluhan atau hal yang berdosa.
Penulis: Ibnu Ubaidillah, Mahasantri Tebuireng
Editor: Rara Zarary


















