1. Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

  1. Rasulullah SAW pernah memarahi seorang sahabat yang merendahkan atau menghina Bilal yang berkulit hitam. Sahabat itu lalu meminta maaf kepada Bilal. Jadi jelas bahwa Islam menghargai semua orang, apapun asal usulnya. Islam tidak mengistimewakan atau merendahkan suatu ras atau etnis tertentu. Dalam khutbah Wada’ Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas orang ‘Ajam (non-Arab) dan tidak pula orang ‘Ajam atas orang Arab tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit putih dan orang berkulit hitam atas orang kulit merah, melainkan atas dasar ketakwaan.
  2. Islam menghargai HAM sejak awal tetapi dalam perjalanan sejarah, HAM itu lalu terabaikan dan terlupakan. Islam bahkan kemudian mempelajari HAM dari Barat. Pesan khotbah Haji Wada’ amat sarat dengan pesan menghargai kemanusiaan. Di dalam ajaran Islam, ada lima hal yang sangat dijaga karena merupakan hak dasar setiap manusia: hifdz al-diin (menjaga agama), hifdz al-nafs (menjaga jiwa), hifdz al-‘aql (mgeenjaga akal), hifdz al-maal (menjaga harta), hifdz al-nasl (menjaga keturunan).
  3. Islam tidak mendiskriminasi perempuan, yang dinilai hanya ketakwaannya saja. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan bahwa kita harus terlebih dulu menghormati Ibu (tiga kali) baru menghormati bapak. Bahwa di beberapa negara kini tampak bahwa perempuan dalam kehidupan sehari-hari mendapatkan perlakuan diskriminasi, menunjukkan bahwa budaya bangsa itulah yang memberi perlakuan diskriminasi itu.
  4. Saya bertanya pada Dubes Inggris, apakah muslim Pakistan memang melarang muslimah untuk belajar ke sekolah? Dia menjawab bahwa memang kebanyakan muslimin Pakistan begitu. Buat mereka, tugas perempuan hanya di rumah, tidak ada kesempatan bagi perempuan untuk mempunyai kegiatan di luar rumah atau berkarir. Kita pun ingat bahwa sampai tahun 1970-an perempuan di Afghanistan masih bebas untuk berpakaian seperti perempuan di negara Eropa atau Amerika. Kemudian Taliban muncul dengan dukungan Amerika untuk melawan tentara Rusia. Setelah Rusia berhasil diusir, maka kelompok Taliban menjadi penguasa dan mereka menerapkan kehidupan agama Islam yang sesuai dengan pandangan mereka, yaitu konservatif.
  5. Di Indonesia Bung Karno mengatakan bahwa beliau belajar nasionalisme pertama kali kepada Douwes Dekker (Setiabudhi Danudirja). Douwes Dekker bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij yang menganut prinsip Hindia untuk berpakaian orang Hindia. Nasionalisme yang dianut Douwes Dekker dkk. bukanlah nasionalisme atas dasar agama, etnis atau agama tertentu, tetapi atas dasar kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita.
  6. Bung Karno adalah tokoh pertama yang mengangkat isu agama dalam nasionalisme Indonesia, dengan gagasan “Nasionalisme, Marxisme, dan Agama” yang kemudian berkembang menjadi Nasakom pada tahun 1960. Pada saat proses pembentukan embrio kebangsaan Indonesia, belum banyak tokoh Islam yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan.
  7. Pada era penjajahan Jepang, peran tokoh Islam di bawah kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari yang diwakili KH. Wahid Hasyim mulai menonjol. Maka dalam sidang BPUPKI pada Mei-Juni 1945 aspirasi keislaman mulai muncul dalam proses pembentukan negara. Terdapat dua aliran pemikiran: pendukung dasar negara Pancasila dan dasar negara Islam. Komprominya tercapai melalui sila pertama Pancasila yang rumusannya adalah “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
  Mempelajari Keragaman Identitas dan Gender di Indonesia

*Artikel ini disampaikan oleh KH. Salahuddin Wahid pada Senin (01/04/17) dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Pascasarjana UNHASY Angkatan 2016.

Pentranskrip: M. Ali Ridho

Publisher:       Farha Kamalia