ilustrator: amiruddin/to

Novel bergenre paling dicari anak muda muslim/muslimah zaman sekarang adalah yang bernuansa romantic islami. Terutama remaja yang memiliki niat dalam berhijrah. Novel cinta islami romantis yang akan dibahas kali ini adalah novel 29 Juz Harga Wanita. Yang mana novel ini merupakan salah satu novel cinta islam  yang ditulis oleh Ma’mun Affany.

Ma’mun Affany, mungkin salah satu penulis yang jarang didengar di telinga pembaca Indonesia, namun di kalangan pesantren namanya cukup dikenal melalui karya novel Adzan Subuh Menghempas Cinta yang menghadirkan kisah tentang santriwati jatuh cinta dengan anak kiai. Oleh sebab itu ia dikenal sebagai salah satu penulis novel cinta islami terbaik yang Indonesia miliki.

Novel dengan judul 29 Juz Harga Wanita adalah novel yang menarik dari segi judul. Yang mana judulnya benar-benar menekankan pada seorang wanita. Dan memang benar, dalam novel ini membahas sosok wanita begitu kental. Dalam novel ini peresensi kagum dengan penulis yang berhasil menempatkan wanita pada posisi yang dikejar, dan dimuliakan. Di sinilah pembaca wanita akan sangat menyukai novel cinta islami paling romantis ini.

Kisah yang dimuat dalam novel islami ini bukanlah cinta segitiga, atau pengkhianatan, atau restu yang tertolak. Akan tetapi, 29 Juz Harga wanita ini justru memiliki titik fokus pada unsur bagaimana laki-laki mengejar perempuan yang terhormat. Dari awal hingga akhir bisa dikatakan fokus pada aspek ini. Di sinilah kemudian perasaan perempuan tertinggikan. Saya akui penulis pintar memuja perempuan. 55% bagaimana mengejar perempuan, 45% bagaimana menjaga perempuan. Oleh sebab itu novel ini identik dengan novel cinta islami romantis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kisah dalam novel ini bermula dari seorang pria bernama Toni Saputra. Sosok ini cukup kontroversial, karena hidup bersama orang tua kandung yang justru membencinya. Setiap pagi selalu disiram dengan air satu ember untuk membangunkan. Adegan pertama menurut peresensi begitu menggugah. Keringnya sentuhan kasih sayang dan cinta dari sosok wanita menjadi aspek ternadir dari sosok Toni Saputra ketika bertemu dengan sosok Naela Hasna, yang tak lain adalah santriwati pesantren tahfidz quran. Jangan dibayangkan jatuh cinta kemudian dibalas. Inilah unsur yang tidak terduga dalam novel ini. Toni yang hanya kuli bangunan terpesona dengan sosok santriwati yang sangat islami. Gilanya Toni justru membiarkan mimpinya mengenal Naela liar. Ia kemudian ingin mengenal.

Toni kemudian berbicara sembari melamun, “Rasanya indah dunia ini kalau kita beristri salah satu gadis yang tinggal di pesantren ini…”

Teman-teman Toni mentertawakannya. Karena toni sossok yang jauh dalam memeluk agama, ingin bersentuhan dengan sosok santriwati yang hidupnya penuh dengan suasana agama. Tapi Toni terlanjur gila. Naela dikejar dari balik penjara suci dengan segala usaha yang dia bisa.

Malang tak bisa tertolak, Naela sebagai gadis suci begitu cerdas, cinta Toni ditolak. Saya mengira diterima, kemudian seperti kebanyakan sinetron Indonesia. Tapi ditolak. Dengan cantik adegan istimewa bermain, Naela menolak cinta Toni sembari menyampaikan satu al Quran, “Naela sudah siapkan Quran untuk kakak.” Inilah yang menurut saya menjadikan novel ini disebut sebagai salah satu novel cinta islami paling romantis.

Naela menghindar dan terus menghindar, sampai taka da kabar. Tapi Toni, justru belajar al Quran. Perjuangan Toni untuk mendapat cinta Naela dalam novel 29 Juz Harga Wanita menurut saya sangat patut menjadi inspirasi laki-laki saat ini. Novel ini menyuguhkan bagaimana kemudian perempuan menaikkan harga dirinya dari laki-laki. Naela fokus belajar di pondok pesantren dan hijrah ke pulau jawa untuk bisa mengkhatamkan al Quran.

Anehnya, Toni bisa membaca Al Quran. Selepas itu ia ingin membaca al Quran depan Naela, dan mencari persembunyian Naela di pesantren pulau Jawa. Saya sendiri heran ketika membacanya. Adakah laki-laki seperti itu mengejar wanita. Adakah benar-benar tergila wanita karena agamanya.

Sampai di sini cerita novel yang monoton berputar tentang bagaimana menjalin asmara justru berpindah pada usaha Toni Saputra memperbaiki diri, dan Naela Khasna menyempurnakan dirinya. Toni mendekat pada agama, dan Naela mengkhatamkan hafalan qurannya. Menurut saya mengapa novel ini kemudian banyak diminati pembaca karena aspek ini yang menjadi titik penting inspirasi. Oleh sebab itu novel ini disebut sebagai salah satu novel cinta paling romantis.

Terkagum dengan penulis yang ternyata juga lulusan pesantren dengan pandainya membawa alur yang mampu menggugah emosi pembaca. Kita dituntut terlibat hanyut dalam cerita. Siapapun yang membaca saya yakin tanpa sadar ikut trenyuh, bahkan tidak jarang meneteskan air mata karena haru dengan perjuangan yang sudah dilakukan. Oleh sebab itu jika Anda searching di Google tentang novel 29 Juz Harga Wanita, rata-rata kesan membacanya adalah menangis ketika Toni dan Naela menyatakan cinta.

Bagi Anda yang menyukai novel cinta islami paling romantis, disarankan membaca novel ini. Banyak pelajaran di setiap kalimat dialog yang dibangun oleh tokoh-tokoh dalam novel. Berikut beberapa kalimat-kalimat yang menurut kami istimewa.

“Jagalah kehormatanmu Naela, jaga kehormatan suamimu. Jika kamu lebih pintar darinya, tuntunlah ia, tapi jangan kamu gurui dia. Anggap dia anakmu saat mengajarinya agar berisi penuh kasih dan sayang. Anggap dia ayahmu saat dia mengajarimu agar kau dengar dengan penuh hormat dan kerendahan.”

Kalimat lain,

“Kalaulah kamu berjodoh dengan Naela, terpisah ribuan pulau pun Allah pasti akan temukan kalian berdua, di manapun Naela bersembunyi Allah pasti akan berikan petunjuknya.”

Masih banyak lagi kata-kata dan kalimat-kalimat kuat yang terbangun dari dialog antara tokoh utama laki-laki dan perempuan.

Sayangnya novel ini tidak banyak beredar luas. Hanya bisa dipesan di toko-toko online atau di nomor 0857-4777-7728. Pengalaman saya tidak mengecewakan, 4 hari selepas transfer sampai, bahkan mendapatkan tanda tangan dari penulis.

Judul Buku: 29 Juz Harga Wanita

Penulis: Ma’mun Affany

Penerbit: Affany

Tebal Buku: 352 Halaman

Peresensi: Anisa Faiqotul Jannah

SebelumnyaMenyisir Makna Khilafah yang Sebenarnya
BerikutnyaSilaturahmi Universitas Gajah Mada (UGM) ke Pesantren Tebuireng