Membina Masyarakat Mewujudkan Pemilu Damai

KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) memberi sambutan dalam Seminar Nasional Integrasi Religius & Nasionalis Menuju Pemilu Damai, yang diadakan oleh Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. (Foto: Kopi Ireng)

Oleh: KH. Salahuddin Wahid*

Di dalam undang-undang, pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil,  tidak disebutkan kata damai di dalamnya, artinya damai itu sudah pasti tidak perlu disebutkan, harusnya damai. Tetapi kenyataannya tidak demikian, kita merasakan sekali suasana tidak damai itu beberapa bulan yang lalu. Kita semua yakin bahwa pemilu legislatif akan berjalan dengan damai walau banyak yang khawatir tidak berjalan dengan jujur.

Dalam beberapa kali pemilu legislatif dan pilkada maupun pilpres terdahulu telah terjadi kecurangan dalam bentuk jual beli suara. Alhamdulillah keluhan itu hampir semua tidak terbukti. Kini muncul gejala bahwa pilpres tidak akan berjalan dengan damai sehingga tema seminar kita kali ini terkait dengan upaya untuk mewujudkan pemilu damai. Kekhawatiran itu dilandaskan pada apa yang terjadi di dalam masyarakat.

Banyak orang mengatakan bahwa kampanye saat ini ramai sensasi kurang subtansi. Media elektronik dan media sosial banyak mengutip ucapan capres cawapres maupun tim kampanye yang menimbulkan kegaduhan, seperti kata tampang boyolali, politik genderuwo, politisi sontoloyo, tempe setipis ATM, budek, dan buta. Ucapan-ucapan itu ditanggapi dengan bahasa yang juga tidak positif sehingga kegaduhan dalam media sosial selalu hadir di tengah kita. Terjadilah perang kata-kata yang dilakukan oleh pendukung kedua pasangan dengan senjata gadget, debat kusir terjadi melalui media sosial, kedua kubu membela mati-matian,  calon yang mereka dukung dan menyerang calon yang lain.

Kata-kata di atas ditafsirkan sesuai kepentingan masing-masing. Maksudnya untuk mempengaruhi pemilih yang belum menentukan pilihan.  Tidak terelakkan ucapan kebencian juga muncul dalam perang kata-kata itu. Maka muncullah rasa tidak suka bahkan rasa benci antara kelompok ujaran kebencian, hoaks dan perang kata-kata ini sudah terjadi antara tahun 2016 dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ujaran kebencian melalui media sosial ini tidak hanya terjadi di Indonesia, hal itu juga terjadi di negara-negara lain bahkan di lembaga penelitian terkemuka di Amerika Serikat menyatakan bahwa kini masyarakat Amerika Serikat lebih mempercayai media sosial dibanding media cetak.

Pak Dahlan Iskan pernah menyatakan bahwa media cetak di Indonesia menjadi semacam clearing house. Bagi berita-berita di sosmed yang bertentangan. Jadi Maksudnya kalau ada berita yang bertentangan di media sosial,  maka yang menjadi wasitnya itu media cetak dan media elektronik. Bagaimana kita bisa menangani masalah itu? Jawaban tercepat yang biasanya kita pikirkan ialah kita perlu melawan dan memerangi dengan meluncurkan ujaran kontra yang berbeda dengan ujaran yang disampaikan, menyiapkan dan meluncurkan materi media yang menentang pesan-pesan negatif tentang kita itu,  lalu muncul pertanyaan : apakah yang selama ini dilakukan sudah efektif? Pesan yang bagaimana yang kita anggap efektif? Maksudnya efektif itu membantah pesan yang ada di media sosial.

Jadi kalau pesan itu merugikan kita, maka kita membantah dengan memberikan pesan yang bertentangan dengan pesan yang awal tadi. Perlu memperhatikan refleksi dari Karl Warren Box, dari seorang ahli sosiologi,  yang merekam dan mendokumentasi penanganan terhadap kejahatan kebencian. Hide crime di Jerman, dia menjelaskan bahwa masalahnya tidak semudah itu,  menurut dia ada cukup banyak program atau tindakan yang menyampaikan ucapan kontra yang disangka menarik dan efektif tetapi di dalam kenyataannya tidak efektif dan mungkin malah kontra produktif. Ada yang secara naif berasumsi bahwa ucapan kontra itu simple dan sudah jelas dengan sendirinya.  Intinya kita perlu menyampaikan,  menyebar luaskan ucapan yang berlawanan dengan yang disampaikan oleh kelompok yang menyuarakan kebencian dari pandangan radikal tentang diri kita.

Untuk membuka wawasan dan meluruskan prespektif,  kita perlu membalik ucapan radikal, sebanyak mungkin memerangi dan menghadang dengan memaparkan argumen secara logis dibarengi dengan data dan fakta. Sayangnya,  tindakan itu tidak langsung menderadikalisasi, sebaliknya itu dapat memprovokasi dan membuat kelompok radikal menjadi makin keras,  yang sudah terkena proses radikalisasi sangat sulit berpikir dari perspektif berbeda,  konstelasi psikologisnya membuat mereka selalu memiliki cara untuk melihat kebenaran posisinya dan menemukan lubang untuk menyerang ucapan pihak lain. Jadi mereka menunggu ucapan kontra mencari argumen untuk menyerang dan menyebarkan kembali dengan lebih pasif dan agresif ucapan radikalnya. 

🤔  Tebuireng & Polri Kemas Halal bi Halal dengan Seminar Kontra Radikal

Warren Box mengatakan “jangan terjebak pada hebat-hebatan perang ucapan di media, dalam arti ramai berargumentasi dan berdebat itu hanya akan makin mengencangkan, pengkotakan in group dan out group serta peningkatan kebencian antar kelompok. Untuk memahami yang disampaikannya ini mungkin baik jika kita berrefleksi ketika membaca suatu berita hoaks yang kita nilai amat rendahan, jahat, dan berbahaya, kita umumnya merasa heran, marah, sangat kesal, dan ingin membalas.  Tak lama kemudian ada yang menyebarkan tanggapannya dalam ucapan kontra panjang lebar menjelaskan logika berpikirnya dengan fakta-fakta pendukung. Kita pun merasa terwakili, senang, puas, dan menang, dalam tanda kutip.

Mungkin kita membatin, syukurin lo malu-maluin diri sendiri, dasar goblok ngomong tidak pakai otak, jadi kita ngomentari orang yang mengirim pesan tadi, diri kita menganggap seperti itu. Tetapi tak lama kemudian, ternyata menyerbu kembali berbagai postingan baru yang menyerang, penjelasan yang kita anggap logis dan benar itu  dan demikian seterusnya, orang ramai balas membalas berargumentasi dan berdebat. Apabila menyampaikan fakta dan ucapan yang dianggap logis dan obyektif pun pemaparannya di barengi dengan hati panas, jadi kalau kita panas tentunya apa yang kita omongkan atau apa yang kita keluarkan melalui pesan media sosial kita, tentunya tidak betul tidak baik, dan itu akan memberikan dampak yang kontra tidak baik yang produktif. Jadi dalam banjir tulisan yang menyebar sangat cepat dan luas itu, bertebaran kata-kata tidak pantas dan merendahkan.

Warren Box mengingatkan supaya berhati-hati membuat lelucon atau mengejek pihak lain yang kita anggap sebagai humor akan dipahami berbeda dapat dianggap sangat menghina hingga menghadirkan gelombang kemarahan luar biasa. Apabila itu tidak terkendali, akan dapat merugikan kita semua, hal-hal yang diungkap di atas jadi lebih berbahaya, karena kita sedang terkotak-kotak akibat pilihan politik daripada tergesa-gesa dan disertai nafsu ingin memenangi di media sosial, lebih baik berhenti sejenak dan berpikir untuk jangka panjang.

Apakah mengungkap fakta meski bukan hoaks mengenai pihak lain secara menghina, melecehkan atau berolok-olok akan menghadirkan simpati, apakah kita ingin menghadirkan perasaan positif ataukah ingin menang dan merasa suprior, tetapi pesan kita ternyata kontra produktif. Ucapan kontra yang baik atau positif, dapat disebarluaskan tanpa bergaya superior dan bernada merendahkan yang menyampaikan ucapan yang positif, mengambil sikap tidak sedang bertarung ataupun berusaha keras untuk menang, dia sedang berbagi dan ucapan positifnya itu dengan sendirinya telah menang,  karena menghadirkan rasa nyaman dan sekaligus membagi informasi positif,  tidak memperkuat pengkotakan dan kebencian.

Ucapan positif menghadirkan kepandaian dan kebajikan emosi daripada sibuk menampilkan diri lebih hebat dan dalam kecanggihan berlogika dan memaparkan fakta. Ucapan positif tidak berargumentasi tetapi ucapan itu sendiri telah menghadirkan argumentasi positif yang berpotensi mengundang ketertarikan lebih lanjut dari mereka yang membaca pesannya. Jadi daripada kita menanggapi ucapan negatif itu dengan kemarahan, lebih baik kita tenang dulu kita kemudian membalas itu dengan ucapan positif, tidak bernada merendahkan, kita menghargai pikiran orang, itu akan menghasilkan aura positif yang baik bagi kita semua.

*Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang.

Pewarta: Rafiqatul Anisah

Editor/Publisher: RZ