
Malam Dua Puluh Satu
Hari bermula
burung-burung
menyiapkan malam
lailatul qadar
tumbuh di tanah dapur
menyerut seribu keheningan
yang alpa
pada nampan hantaran
nasi wangi pandan
contong sebagai mahkota
menjentikkan batas Ramadan
dan sisa kembara
(untuk apa?)
lantas engkau
menuju jalan ke langgar
menuruni undak yang lecak
-Mei, 2023.
Kesunyian Magrib
Dan magrib pun menangis
setelah Guluk-Guluk mengabarimu
perihal kepergian Kiai Zamiel
ke puncak cahaya
alir petang itu
hilir ke dingin jemarimu
sampai matamu gelap
dan dudukmu bak ditikam sembilu
kutanya, apakah berdiam di cerukmu?
puisi-puisi ribut di kedalamanmu
siapa paling lemah, siapa paling lemah
kutanya, “diriku atau engkau?”
-Maret, 2019.
Idah Nyai Alfu
Di kerumun warna-warna ini
di antara sesak uap bakso
dan rusuh denting mangkuk
kucari-cari senyum Nyai Alfu
nisan peristirahatan Kiai Miming
Nyai Alfu
ialah lembaran malam
cahaya bagi huruf-huruf puisi
rembang beterbangan
tiada usai melipur pandang
ia adalah rindang ketabahan
walau di batas setia perjumpaan
dan kukuh sendu bertahan
cemas memikirkan
sibuk lubuk Nyai Alfu
di kesendirian
-April, 2019.
Penulis: Ibna Asnawi, alumnus PP. Annuqayah Lubangsa Putri. Aktif di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep.
Editor: Rara Zarary


















