Lingkaran Bianglala

17
Ilustrasi keluarga

Di sebuah desa kecil, bernama ‘Kenanga’, aku lahir dan tinggal. Setiap pagi aku akan pergi ke sekolah, setelah itu pergi membantu ibuku bekerja di sawah milik tetanggaku. Sedangkan ayahku pergi merantau ke kota, dan pulang hanya Satu tahun dua kali. Bahkan terkadang, hanya sekali dalam setahun. Bisa dibilang sangat merindukan ayahku yang di kota.

“Bangunlah Reina, matahari akan mendahuluimu jika kau tak segera bangun.” Ucap ibu sambil melongokkan kepalanya di sela-sela pintu kamar. Setelah mendengar instruksi ibu, aku pun segera bangun, dan bersiap-siap untuk pagi ini.

Ibu terlihat sedang memasak sarapan di dapur, peluhnya mulai menetes. Menu sarapanku bisa dibilang setiap harinya sama. Yaitu nasi jagung dan tempe orek. Walaupun seperti itu, aku tidak pernah mengeluh ataupun protes kepada ibu. Karena, bisa makan sesuap nasi saja sudah sepatutnya kita bersyukur. Bayangkan saja, sehari tanpa makan bagaimana rasanya? Sudah dipastikan perut kita akan berbunyi sepanjang hari, akibat dari lapar. Maka dari itu syukuri apa yang ada.

“Bu, untuk biaya buku bulan ini, apakah ada uangnya?” Tanyaku dengan sedikit berhati-hati, takutnya ibu akan sakit hati bila kutanyai mengenai hal ini.

“Memangnya berapa nominalnya, Rei?” Wajah ibu terlihat sedikit lesu saat ini. Apakah ia sedang sakit? Aku khawatir dengan keadaannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Reina sudah terlambat bu! Reina pergi dulu ya?” Aku tak lupa untuk menyalami tangan ibuku, lalu bergegas pergi. Aku berkata seperti itu hanya untuk menghindar dari pertanyaan ibu. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku takut jika penyakit migrain ibu kambuh. Lebih baik disembunyikan terlebih dahulu. Mungkin solusinya hanya satu, yaitu aku harus menggunakan uang tabunganku yang ada di celenngan ayamku. Walaupun aku sudah membantu ibu bekerja di sawah, itu tidak akan cukup untuk membayar buku. Maka dari itu, tabunganku dari upah bekerja membantu ibu di sawah mungkin adalah cara yang tepat untuk membayar buku.

Sesampainya di gerbang sekolah, aku bertemu dengan teman sebangkuku bernama Ara. Ia terlihat menyapaku terlebih dahulu, setelah itu baru kubalas menyapa. Kita berdua berjalan beriringan menuju kelas.

Sama seperti biasanya, pelajaran di kelas berjalan lancar. Hanya saja, hari ini adalah hari terakhir untuk membayar buku pelajaran. Guruku mulai memanggil nama yang belum membayar buku. “Terakhir Reina Yasmin. Kapan kau akan membayar-nya Reina? Ibu tunggu dua hari lagi, ya?” Aku hanya membalas ucapan bu guru dengan anggukan kepala. Untung saja masih ada dua hari, batinku.

Saat istirahat sekolah, aku berbincang bersama Ara. “Aku ada cerita. Kemarin sore, aku diajak oleh ayahku untuk pergi ke kota! Disana menakjubkan Rei! Apalagi air mancur berkilau yang letaknya didepan mall Castlebrook. Aku menyarankanmu untuk pergi kesana! Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan. Contohnya adalah baju, tempat pensil, tas untuk sekolah, dan masih banyak lagi!” Aku hanya tersenyum menanggapi Reina. Ada luapan kecil di hatiku saat mendengar cerita Ara. Aku menginginkan pergi kota. Aku akan menyampaikan hal ini pada ibu.

Lonceng sudah berbunyi, itu tandanya waktu pulang sekolah sudah datang. Kakiku tak bisa diceah untuk berlari menuju rumah. Secepat mungkin aku mengganti bajuku, lalu makan. Setelah itu aku akan pergi ke sawah, membantunya seraya membawakannya makan siang.

“Ibuuu!!” Teriakanku terdengar nyaring, sampai ibuku yang sedang berada di ujung sawah mendengarnya. Ia tersenyum melihatku datang. Aku segera menghampirinya.

Suasana di siang hari memang panas. Tapi, akan terasa sejuk jika kita duduk di gubuk pinggir sawah sepertiku, dan ibu. Kami berdua sering bercengkrama di gubuk tua ini. Makan siang bersama, bercanda-tawa, sampai menangis pun aku pernah melakukannya disini. Entah sudah berapa memori yang tercipta di tempat ini. Intinya aku menyayangi tempat ini, dan orang yang menemaniku—ibu.

“Ibu, aku ingin pergi ke mall seperti temanku. Disana ada air mancur bagus, bu! Sepertinya menyenangkan? Jika ayah pulang kampong, kita pergi kesana ya?” Mataku mungkin sudah berbinar saat mengatakan hal ini. Aku benar-benar membayangkan untuk pergi ke kota, dan mengelilingi mall bersama kedua orang tuaku. Senangnya!

“Semoga kita bisa kesana ya ,Rei? Jika ibu dan ayah ada biaya, kita mungkin bisa pergi. Oh ya, ibu mau bertanya mengenai biaya bukumu. Berapa nominalnya?” Ibu berkata dengan suara lembutnya. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjawab hal ini. “Emm, jumlahnya 60.000 rupiah. Tapi ibu tenang saja, aku akan memakai uang tabunganku!” Ibu kemudian tersenyum sendu, dan berkata, “Maafkan ibu ya nak, belum bisa memenuhi kebutuhanmu.” Pada saat itu juga, bulir air mata ibu membasahi wajah cantiknya. Aku pun ikut menangis dan memeluknya.

“Tak perlu minta maaf bu. Reina tak pernah menganggap hal tersebut adalah kesalahan.” Tangisan ibu semakin pecah setelah aku mengatakan hal seperti itu. Aku menyayangi ibu.

~ ~ ~

Mataku yang semulanya terpejam mulai terbuka perlahan. Matahari sudah mendahuluiku pagi ini. Sinarnya dapat menembus jendela kamarku yang terbuka. Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku tak sabar untuk segera memulai hari.

Ayah terlihat sedang duduk di ruang tamu sedang menyeruput teh buatan ibu. Aku terlonjak kaget dan segera mengahmpirinya. Dia memelukku dan berkata, “Selamat ulang tahun putri kecil! Semoga di tahun ini sang putrri bisa jadi seseorang yang lebih baik lagi!” Setelah itu ibu datang dan melakukan hal yang serupa.

Saat malam tiba, ibu bilang aku harus menggunakan pakaian yang cantik. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi intinya aku senang sekaligus tak sabar.

Aku, ibu, dan ayah pergi menaiki becak. Tak tahu akan kemana. Saat becak sudah berhenti, aku langsung melompat dan takjub akan apa yang kulihat sekarang. ‘Pasar Malam’! Aku ada di pasar malam!

Kami pertama menaiki bianglala. Kami bertiga lekas masuk kedalam wahana tersebut. Saat di ketinggian ibu berkata, “walaupun kita tidak bisa ke mall ber-gedung tinggi, tetapi kita dapat melihat indahnya pemandangan melalui ketinggian.”

“Terima kasih ayah ibu!” ucapku.



Penulis: Gadiza Fatimah Azzahra, Siswi SMA Trensains.