Kritik Integritas, KH Musta’in Syafi’i: Negeri Ini Paling Aman bagi Koruptor

114

Tebuireng.online- Sidoarjo — Pakar Tafsir dan Ketua Majelis Masyayikh Tebuireng, Dr KH Musta’in Syafi’i M.Ag, melontarkan kritik tajam terhadap merosotnya integritas di Indonesia. Dalam acara Halalbihalal dan Temu Alumni Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Sidoarjo, Rabu (25/3/2026), ia menyebut Indonesia saat ini menjadi wilayah yang sangat ramah bagi para koruptor.

“Permasalahan sekarang, koruptor semakin banyak. Pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sesuai sasaran, banyak dikorupsi, dan makin banyak orang sengsara. Negeri ini paling aman bagi koruptor,” ujar Kiai Musta’in dalam mauidhoh hasanah di Masjid KH M Hasyim Asy’ari, Gedung Auditorium BPVP Sidoarjo.

Menurut beliau, kondisi ini terjadi akibat kombinasi antara kuatnya kelompok yang ia istilahkan sebagai “bajingan” dan sikap diamnya orang-orang saleh. Ia mendesak para ulama untuk lebih lantang menyuarakan persoalan negara, termasuk mendorong terciptanya undang-undang hukuman mati bagi koruptor.

“Jangan ikuti kiai yang diam saja melihat kemungkaran negara. Harus ikut andil,” tegas Dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari tersebut di hadapan ratusan santri dan alumni Tebuireng Raya.

Mengawali ceramahnya, Kiai Musta’in menyinggung keunikan istilah halalbihalal. Meski menggunakan kata bahasa Arab, tradisi ini tidak dikenal di tanah Arab dan merupakan murni kreativitas ulama Nusantara sebagai sarana rekonsiliasi sosial.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menjadikan realitas sosial di negara-negara Arab sebagai satu-satunya tolok ukur keislaman. Menurutnya, meski memiliki simbol besar seperti Ka’bah dan Masjid Nabawi, beberapa wilayah di sana dinilai mulai kehilangan identitas keislaman dalam perilaku sosialnya.

“Berkumpul dengan sesama Muslim adalah sumber keberkahan. Kita tidak perlu meniru kondisi di sebagian negara Arab yang kehilangan identitasnya,” tambahnya.

Kiai Musta’in juga menekankan bahwa esensi ibadah, seperti shalat, harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial. Isyarat salam ke kanan dan ke kiri di akhir shalat ia maknai sebagai mandat bagi setiap Muslim untuk peduli pada lingkungan sekitar, seperti membantu tetangga yang kesulitan.

Terkait hubungan antarmanusia, ia menawarkan perspektif fikih yang fleksibel. Dalam mazhab Syafi’i, meminta maaf idealnya dibarengi dengan penjelasan rinci atas kesalahan. Namun, jika hal itu justru memicu konflik baru, ia menyarankan penggunaan pendekatan mazhab Hanafi yang lebih umum.

“Ini menunjukkan pentingnya sikap fleksibel dalam beragama, sebagaimana tradisi di lingkungan Nahdlatul Ulama yang mengakomodasi empat mazhab,” jelasnya.

Menutup tausiyahnya, Kiai Musta’in mengajak para alumni yang kini menjadi pengajar di daerah masing-masing untuk menjaga muruah sebagai “penerus nabi”. Ia menyayangkan fenomena mudahnya integritas tokoh agama diuji dengan materi.

Ia berharap para santri dan alumni mampu menjaga keikhlasan agar ilmu yang dimiliki memberikan manfaat nyata bagi bangsa, bukan sekadar menjadi simbol formalitas keagamaan tanpa kontribusi aktif dalam memperbaiki karut-marut persoalan negara.


Pewarta: Aulia Rachmatul Umma

Editor: Sutan