Kiai Syansuri Badawi: Romantisme Nyantri di Tebuireng

558
Pesantren Tebuireng Jombang.

Oleh: Ananda Prayogi*

“Dari santri sampai kiai”, mungkin itu salah satu sebutan yang cocok untuk kiai karismatik yang satu ini. Berawal dari keseriusan serta kebulatan tekad Kiai Syansuri muda untuk nyantri (menimba ilmu dalam pesantren) di Pesantren Tebuireng dengan bimbingan langsung dari Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari ketika itu yang sungguh tidak dapat dilunturkan. Berbagai godaan dan rintangan untuk menggagalkan niatnya tersebut pun dengan gampang ia patahkan dan lewati.

Di tempat masa kecil beliau, Cirebon, kealiman dan kehebatan Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari kian hari semakin menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Tidak bisa ditampik pula antara tokoh-tokoh dan jaringan elit Islam Cirebon dan Tebuireng menyambung hubungan khusus. Sejarah mencatat dengan baik kedekatan antara Pesantren Buntet dan Pesantren Tebuireng, sehingga uluran tangan datang dari Kiai Abbas saat maraknya gangguan terhadap Pesantren Tebuireng.

Masuk akal dan mudah dimengerti jika impian siang malam Kiai Syansuri adalah nyantri (istilah untuk menempuh pendidikan agama di pesantren) ke Pesantren Tebuireng. Terlebih lagi, tersebar kabar ke seantero Nusantara bahwa kiai-kiai sepuh tabarrukan (mengambil barokah) mengaji Shahih Bukhori dan Muslim kepada Hadrotusyaikh di setiap bulan Ramadhan.

Jika tekad telah menggumpal dan apalagi bau wangi ketinggian ilmu Hadrotusyaikh telah terendus penciuman Kiai Syansuri muda, tak ada kata yang dapat meluluhkan hasrat beliau. Segala rintangan pun tak mampu mengusik keinginan beliau untuk nyantri di Tebuireng. Dan, seizin keluarga bergegas menuju Pesantren Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tak menjadi kendala apa pun, kendati berbekal pas-pasan dan kelanjutan kehidupan beliau pikirkan sambil berjalan. Di seisi pikiran Kiai Syansuri yang ada adalah niat-an yang baik, apalagi dalam hal tafaqquh fid-din, Allah pasti memberi jalan. Berbalut tawakkal yang membuncah, kaki diayunkan dan kelak satu per satu kendala dilewati.

Usai sowan ke Hadratusyaikh agar diterima sebagai santri beliau, dipancangkanlah road map untuk menutupi persoalan ekonomi yang berpotensi menjadi kendala bagi sang Kiai Syansuri muda saat nyantri. Ternyata, pilihan beliau jatuh kepada berdagang kecil-kecilan dan juga membuka jasa laundry bagi kalangan santri.

Tidak seperti kebanyakan santri lainya yang dapat dengan fokus mengais ilmu di pesantren seratus persen. Kiai Syansuri muda ketika Maih nyantri juga dituntut untuk berjibaku pula dengan urusan bagaimana hajat hidupnya terpenuhi. Kendati demikian, tentunya semangat dan tekad Kiai Syansuri tak kendur dan tak kalah dengan santri lainya.

Tak sedikitpun kondisi demikian menjadikan Kiai Syansuru rendah diri dan jatuh harga diri. Realistis, empiris, dan toritis rasanya sulit bersaing dan berkompetisi dengan mereka yang diuntungkan oleh faktor ekonomi. Namun demikian, sekali lagi, kondisi itu tidak membuat spirit Kiai Syansuri runtuh tetapi sebaliknya, justru hal itu malah mlecut tekad beliau yang semakin berkobar agar kadar keilmuan beliau tak kalah dengan santri yang lainya.

🤔  Syaikh Mahfudz at Tarmasi, Ulama Indonesia Diakui Dunia (Bagian 1)

Kiai Syansuri menunjukan bahwa nyantri sembari bekerja tak mengurangi kualitas dan kadar keilmuan yang diperoleh beliau. Predikat kiai, yang terutama dilekatkan pada beliau, lantaran penguasaan dan ketinggian keilmuan beliau. Hal itu memperlihatkan bahwa bekerja dan menuntut ilmu bisa berjalan beriringan. Di sinilh Kiai Syansuri suksen dalam bekerja dan thalab al-ilm yang hal ini merupakan keteladanan yang luar biasa.

Peran ganda (nyantri sembari bekerja) itu bertahun-tahun dijalani dengan mulus oleh Kiai Syansuri muda. Dengan prinsip bahwa bekerja tak mengurangi kesempatan mengaji dan mengeruk ilmu sebanyak-banyaknya dari Hadrotusyaikh.

Sungguh kisah nyantri yang impresif dan romantis. Terlebih, prestasi dan kedudukan sebagai sosok yang alim berikut jabatan terhormat menghampiri dan melekat pada diri Kiai Syansuri Badawi.

Wajar bila suatu hari Kiai Syansuri meminta kepada wali santri mengurungkan niat menarik putranya lantaran persoalan ekonomi. Masya Allah, ternyata kelak santri yang hendak boyongan balik kampung itu malah menjadi kiai.

Perjuangan beliau terus berlanjut hingga ia menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Jabatan yang pernah ia dapat selain menjadi pengasuh Tebuireng yang ke empat yaitu pernah menjadi rektor IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) yang sekarang menjadi UNHASY (Universitas Hasyim Asy’ari).

Ketika menjadi kiai di Tebuireng, beliau menjadi layaknya seorang motivator ulung yang selalu bisa membuat para santri termotivasi dan terbangun semangatnya. Hal itu bisa diketahui ketika beliau menjelaskan suatu materi, beliau juga menarasikan ulama-ulama terdahulu. Mulai dari keilmuan, ketekunan, dan karomah para ulama tersebut. Tidak satu atau dua kali, Kiai Syansuri mengulang-ulang kisah keteladanan dari para ulama seperti Imam Syafi’i dan Imam Ghzali. Bahkan seringkali cerita beliau dan motivasinya jauh lebih menarik dari pada materi yang sedang dikaji. Tetapi yang terpenting para santri akhirnya lebih termotivasi untuk selalu belajar lebih giat agar menjadi seperti ulama-ulama terdahulu.

Setiap momentum pertemuan dengan santri, beliau tidak pernah lupa untuk memeberikan motivasi. Mungkin saja selain hal ini dipengaruhi oleh keinginan beliau mendorong santri untuk selalu right on the track dalam koridor thalab al-ilm, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh pemahaman beliau akan pemahaman eopolitik nasional selaku praktisi politik pula. Oleh karena itulah Kiai Syansuri menjadi kiai yang hebat dan disenangi para santri terlebih akan motivasi-motivasinya.

Sungguh romantisme perjuangan Kiai Syansuri Badawi dari awal nyantri hinggal menjadi kiai yang disegani di Pesantren Tebuireng. Banyak perilaku beliau yang patut kita teladani sebagai santri. Paing penting, adalah semangatnya yang luar biasa dalam mencari ilmu dan juga motivasinya yang hebat dalam menghadapi berbagai rintanganya.

*Tulisan ini telah direview oleh Ananda Prayogi (Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng), dari buku “Mengais Keteladanan dari KH. Syansuri Badawi” dengan penulisnya Cholidi Ibhar.