Kiai Sjaichu di Mata Gus Solah

KH. Salahuddin Wahid hadiri haul ke-25 KH. Achmad Sjaichu di Depok Jawa Barat, Senin (13/1/20). (Foto: dokumentasi)

Tebuireng.online– Rekam jejak KH Achmad Sjaichu sangat panjang. Ia tidak hanya seorang kiai, tapi juga seorang negarawan dan politisi. Kiai Sjaichu tercatat pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR).

Dalam kiprah dakwahnya, Kiai Sjaichu membangun institusi pendidikan dan lembaga Ittihadul Muballighin tempat berhimpun para muballigh dan mengirimnya ke berbagai daerah. Namun jasa terbesarnya yang masih eksis hingga saat ini adalah Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Jawa Barat.

Hampir seluruh hidup Kiai Sjaichu digunakan untuk kemaslahatan orang lain. Rekam jejak ini semakin lengkap saat ia memimpin partai Nahdhatul Ulama (NU). Dalam kiprah politiknya,  KH Sjaichu sangat menjunjung tinggi kedamaian, suasana yang tidak  menimbulkan konflik atau kerusakan (mafsadah).

Kesaksian tentang ketokohan Kiai Sjaichu datang dari berbagai pihak. Diantaranya adalah Pengasuh Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah. Menurutnya sosok almarhum Achmad Sjaichu merupakan tokoh yang sejak lama aktif di berbagai bidang. Mulai dari politik, keagamaan, dan figur Kiai kharismatik.

“Kiai Sjaichu juga dikenal sebagai Ketua DPR RI pada masa kabinet Gotong Royong. Ia juga pernah menjadi Ketua Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1957,” jelasnya saat mengunjungi Al-Hamidiyah, Senin (13/1/2020).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gus Solah menuturkan, Sjaichu memiliki visi ke depan yang baik dan berani berkorban sehingga kehidupannya selalu berhasil. Mengenal Sjaichu dari pertemanannya dengan putri sulungnya, Maryam Chairiyah.

“Kiai Sjaichu itu politisi dan pebisnis yang andal. Punya toko sepatu juga di Surabaya,” tambah Cucu KH Hasyim Asyari ini.

Pada 17 Juli 1988 Achmad Sjaichu mendirikan Pesantren Al-Hamdiyah. Saat itu ia didukung penuh oleh sang istri Solchah dalam membangun pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah bermula pada tahun 1980, Sjaichu muda membeli sebidang tanah di Rangkapanjaya, Depok, dimana Pesantren Al-Hamidiyah berdiri saat ini. Namun, pesantren tersebut baru mulai dibangun pada tahun 1987 yang diproses menantunya, Dr. Fahmi.

🤔  Makna Idul Adha Bagi Turis Asal Turki

Kini pesantren tersebut dipimpin putra tertuanya bernama KH Imam Susanto Sjaichu. Imam meneruskan perjuangan sang ayah merawat pesantren sejak tahun 1995 hingga saat ini. Total Kiai Sjaichu memiliki tujuh putra-putri.

“Sjaichu memiliki kemauan yang keras,” tandasnya.

Perepro: Syarif Abdurrahman