Dahsyatnya Meneladani Sifat Nabi Muhammad

KH. Amir Jamiluddin (Pengasuh Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang). Sumber foto: unhasy.tbi

Oleh: KH. Amir Jamiluddin*

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Hadirin Jama’ah salat Jumat yang dimuliakan Allah SWT. Pertama, mari kita koreksi diri apakah sudah benar kita telah menjadi hamba Allah yang bertakwa, atau sudah berproses menuju takwa, atau telah benar-benar sudah menjadi muttaqin. Kalau belum maka kita semua segera meningkatkan takwa kita kepada Allah, dengan cara menjalankan  perintahnya semampunya, Allah berfirman:

لايكلف الله نفسا إلا وسعها

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Allah tidak akan memaksa (membebani) jiwa kecuali semampunya.”

Kalau dalam masalah imtitslul awamiri (menjalankan perintahnya), insyaAllah semua orang bisa melaksanakannya, karena tidak begitu berat. Takwa yang kedua adalah kita semua hendaknya menjauhi larangan-larangan Allah. Jenis takwa yang kedua ini nampaknya tidak semua orang beriman dalam melaksanakan menjahui larangan Allah, apalagi nahi mungkar ini suatu yang berat, kecuali mendapatkan maunah dan mempunyai himmah yang kuat untuk nahi mungkar.

Apalagi nahi mungkar yang berkaitan dengan orang-orang yang dekat dengan kita, orang tua, anak, dan sebagainya.  Mungkin kalau masalah siswa masih banyak guru yang pandai menasihati siswa, tapi kalau masalah anak, orang tua susah menasihati anaknya sendiri, maka dari itu orang tua mengirimkan anaknya ke pondok pesantren.

Takwa yang ketiga menurut Imam Al-Ghazali adalah meningkatkan takwa dengan cara membersihkan hati dari  kotoran-kotoran hati, dan ini lebih susah lagi daripada dua jenis takwa yang telah disebutkan di atas. Banyak orang bisa menjalankan perintah-printah Allah dan menjahui larangan-laranganNya, tapi menjaga hati ini yang lebih susah sehingga Rasulullah berpesan khusus tentang hati. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan:

ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

“Ingatlah bahwa dalam tubuh ini terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu bagus maka seluruh tubuh akan bagus, kalau segumpal daging itu rusak maka seluruh tubuh akan menjadi rusak. Ingat Itulah yang disebut hati atau qolbu.”

Karena itu Rasulullah diutus ke dunia ini untuk menata akhlak. Akhlak kepada Allah ataupun akhlak kepada makhluk Allah, itu juga berkaitan dengan hati. Rasulullah memang tidak hanya bersabda tapi juga mencontohkan dengan akhlak mulia bahkan diatas rata-rata akhlak mulia. Sehingga Allah memuji Nabi Muhammad dengan firmanNya:

وإنك لعلى خلق عظيم

“Sesungguhnya engkau di atas akhlak yang agung.”

Jadi kalau ada orang yang mempunyai akhlak yang terbaik seperti para nabi, maka Rasulullah masih di atas itu. Sehingga Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad dengan nama Achmad, isim tafdhil yang menunjukkan lebih terpuji. Hal itu termaktub dalam Al Quran surah Al-Shaf ayat 6:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Jadi dalam ayat ini Nabi Isa memberi kabar gembira kepada Bani Israil. ‘Wahai Bani Israil gembiralah atas kehadiran seorang Rasul setelah aku ini yang bernama Achmad. Nabi Isa saja akhlaknya sudah terpuji, apalagi Nabi Muhammad, yang menurut nabi Isa lebih baik seorang Rasul yang datang setelahku.”

Salah satu akhlak Rasulullah yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari adalah apa yang diriwayatkan oleh Malik bin Khuwairis, dalam kitab Al-Bukhari. Bahwa Malik bin Khuwairis ini pernah modok kilatan di rumah Rasulullah, atau di suffah yang pada saat ini biasa disebut serambi masjid. Oleh karena itu ia disebut ahli suffah seperti Abu Hurairah dan tujuh puluh sahabat lainnya yang menjadi cikal bakal para sufi.

Malik bin Khuwairis ini mondok hanya selama dua puluh hari, tapi waktu dua puluh hari itu dimanfaatkan betul oleh Malik bin Khuwairis dalam memperhatikan kehidupan dan akhlak Rasulullah sehari-hari, ia mejelaskan akhlak Rasulullah dengan sifat رحيما رفيقا , artinya Nabi itu sangat penyayang, belas kasihan, رفيقا artinya lembut tidak kasar.

Oleh karena itu kita sebagai pendidik baik guru maupun orang tua, tirulah akhlak Nabi, jadi menurut Malik bin Khuwairis dalam memperhatiakan kehidupan Nabi selama dua puluh hari, Nabi tidak pernah memakinya, Nabi sangat penyayang dan lembut. Karena ketika murid dikasari tidak bakal taat.

🤔  Bahaya Tidak Menjaga Lisan

Ketika melihat kepada KH. Hasyim pun beliau tidak pernah memukul santrinya, walaupun beliau punya tongkat, beliau hanya membangunkan santrinya dengan dua tongkat yaitu العصا لمن عصى tongkat hanya untuk yang durhaka atau yang melanggar.

Itulah contoh ulama zaman dulu, رحيما رفيقا ini harus kita lestarikan. Rasulullah juga menganjurkan agar belas kasih sebagaimana sabdanya:

إرحموا من في الأرض، يرحمكم من في السماء

“Sayangilah makhluk yang di bumi, maka Allah dan makhluk yang lain akan menyayangi kalian.”

Inilah yang harus kita peraktikkan, kalau biasa dalam mendidik jangan menggunakan kekerasan, karena sekali anak dikerasi maka itu akan berdampak pada sifat atau karakternya. Artinya kalau kiainya kejam maka santrinya juga kejam. Tegas boleh tapi kejam jangan.

Lanjutan dari riwayat Malik bin Khuwairis adalah:

فإذا حضرة الصلاة فليؤذن أحد منكم

“Maka ketika telah datang waktu salat hendaklah salah satu dari kalian yang melaksanakan azan.”

Inilah pesan Nabi kepada Malik ialah segera menunaikan salat. Karena  ajaran Nabi yang diawal periode Islam salah satunya salat. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, bahwa ketika itu Rasulullah masih pertama kali mengenalkan Islam kepada orang-orang kafir Quraisy, seorang raja Romawi yang bernama Hiraqlu (Herkules), mendengar bahwa di Mekkah ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi, maka Hiraqlu sudah gentar dan ketakutan, kerena menurut nya mungkin seorang yang mengaku Nabi di Mekkah, adalah Nabi yang diceritakan dalam kitabnya (Injil). Maka tidak mustahil jika suatu saat seorang Nabi tersebut akan mengusai kerajaannya.

Kemudian Hiraqlu memanggil tokoh kafir Quraisy yang pada waktu itu diwakili oleh Abu Sufyan untuk datang kepada Hiraqlu, lalu ia ditemui di aula kerajaannya, dan Abu Sufyan ditanya tentang apa saja yang diperintahkan serang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi tersebut. Kemudian Abu Sufyan menjawab, “ia memerintahkan untuk melakukan salat.”

Hal itu membuktikan bahwa salat adalah yang utama. Karena dengan salatlah kita dapat berkomunikasi dengan Allah, dan kemudian kekutan kita akan bertambah. Hal itu bisa dilihat dalam peperangan umat Islam pada masa Nabi, kekuatan umat Islam bertambah bukan karena banyaknya jumlah, tapi salah satunya adalah kedekatannya dengan Allah SWT, yaitu iman dan Islam yang diwujudkan dengan bentuk salat. Maka sahabat dalam situasi perang pun masih melaksanakan salat yang disebut dengan salat khauf, karena dengan salat bisa menjadi kuat.

Katika perang Afganistan melawan Rusia, ada seorang anak ditanya, kenapa Afganistan bisa mengalahkan Rusia padahal pasukan tengnya banyak. Maka anak kecil itu langsung melakukan salat, kemudian mengambil debu dan ditaburkan pada teng-teng tersebut, lalu meledak dan hancur. Itu salah satunya dikerekan salat.

Allah berfirman:

واستعينوا بالصبر والصلاة

“Minta tolong lah kepada Allah dengan kesabaran dan salat.”

Jadi kita tidak boleh emosi, kalu emosi jelas kalah. Maka dengan kesabaran dan salatlah Allah akan memberikan pertolongan. Kemudian apa yang dikatakan seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi di Mekkah itu? Yaitu الصدق (kejujuran), rupanya kejujuran menjadi hal yang kuat dan yang membuat tentara Islam menjadi kuat karena semua para sahabat jujur, Tidak ada yang berkhianat berpihak pada musuh. Mereka semua jujur imannya, begitu pula dengan perilakunya.

Maka mari kita semua harus menerapkan kejujuran dalam kehidupan kita. Jujur kepada Allah, jujur kepada sesama, jujur dalam menilai anak serta jujur dalam berperilaku.

Yang ketiga ialah العفف , artinya menghindarkan diri dari yang haram. Karena dengan makan yang haram, ibadah kita akan menjadi malas, kekuatan kita akan menjadi lemah. Karena memakan barang haram sama halnya mengisi mobil dengan bensin yang bercampur kecap atau air, maka pasti tidak akan jalan. Itulah akibat memakan barang haram.

Kalau kita tidak tahu tidak dosa, tapi tetap berdampak pada lemahnya kekuatan kita. Seperti apa yang terjadi pada Kiaimojo. Kiaimojo itu sakti sehingga susah ditaklukkan oleh Belanda, tapi belanda punya taktik licik dengan cara mencari temannya, yang dijadikan sebagai alat, maka ada kesepakatan dengan temannya Kiaimojo, tolong kamu menunjukkan kelemahan Kiaimojo, ia akan rontok kesaktiannya apabila ia memakan daging babi. Maka bagaimana caranya? Maka diundang lah Kiaimojo dalam acara jamuan makan, tumpeng yang dihaturkan di depan Kiaimjo itu dicampur dengan daging babi, maka sejak itu ilmunya luntur, walupun gak tahu, tidak dosa tetap ada pengaruh, yaitu ilmunya luntur karena makan barang haram.

Oleh karena itu mari kita semua mengoreksi makanan yang dikonsumsi, agar kita tidak sampai memakan barang yang haram. Mungkin itulah yang bisa kami sampaikan mudah-mudahan membuat iman kita semakin teguh diberi taufik, hidayah, serta maunah oleh Allah.


*Pengasuh Pesantren Walisongo Jombang.

(Ditranskip oleh Jailani, Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Jombang)