Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #3

Oleh: M. Abror Rosyidin*

“Kiai adalah Pejuang” bukan isapan jempol. Pada zaman perjuangan dahulu, kiai adalah garda depan komando kaum pesantren dalam melakukan perlawanan. Tebuireng sebagai pusat perjuangan juga tidak bisa dibantah begitu saja. Data-data penguat Tebuireng sebagai pesantren perjuangan sangat banyak, dan itu semua telah umum diketahui.

Kiai Hasyim saat mendirikan Tebuireng yang dilihat pertama kali adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat. Karena dakwah dan doktrinasi keagamaan akan sangat mudah jika fokus utama adalah perbaikan aspek sosial ekonomi. Akan mustahil mengubah akhlak moral dan etika masyarakat jika perut, kelamin, dan pikiran masih dipengarahui oleh lingkungan kotor. Melakukan evolusi besar-besaran seperti itu, tentu butuh seni.

Kenapa Kiai Hasyim tidak meneruskan saja pesantren Keras asuhan sang Ayah. Sebagai putra paling moncer dan alumnus Haramain, mudah baginya mengambil alih usai wafatnya Sang Ayah. Namun, kondisi Keras yang telah lebih mapan. Moral masyarakatnya pun lebih baik dari Dusun Tebuireng yang menjadi incarannya sedari muda. Jiwa-jiwa perjuangannya meronta-ronta.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat awal-awal Tebuireng berdiripun tak semudah itu dapat diterima. Atas propaganda Belanda dan para antek-anteknya seperti Wiro dkk, telah beberapa kali menyerang pesantren. Kehadiran Kiai Hasyim tak langsung diterima oleh penduduk sekitar. Bahkan fitnah dan intimidasi kerap terjadi. Tak hanya Kiai Hasyim, para santri juga sering diganggu dengan teror-teror oleh orang-orang yang tidak suka pesantren itu berdiri. Terornya beragam, misal pelemparan batu, kayu atau bahkan penusukan dinding tratak dengan benda tajam, sehingga santri tiap hari harus tidur menggerombol di tengah agar tidak tertusuk.

Akhirnya Kiai Hasyim menghadirkan empat jagoan dari Cirebon yang juga sahabatnya untuk melatih para santri silat dan kanuragan, yaitu Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Sansuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Mereka berempat melatih para santri silat dan kanuragan kurang lebih selama 8 bulan.

Dari situ, Kiai Hasyim dan para santri sudah bisa mengatasi ganggaun yang ada. Ronda malam digalakkan untuk menjaga kawasan pondok ketika malam hari. Karena penguasaan ilmu silat dan kanuragan ini, banyak orang yang setelah kalah tanding dengan Kiai Hasyim atau santrinya, malah minta diajari dan menjadi pengikutnya.

Usaha itu bukan hanya untuk keberlangsungan pesantren. Ibarat alam, pesantren hanyalah telaga yang mata airnya mengalir ke sungai-sungai. Pesantren adalah telaga yang memberikan kesejukan ilmu dan teladan kepada masyarakat dan rakyat sebagai sungai-sungainya.

Cara untuk menyentuh akar rumput itu, adalah dengan menyirami mereka dengan air. Air yang dibutuhkan adalah kebutuhan perut, pendidikan, dan sosial. Akhirnya Kiai Hasyim mengkampanyekan semangat bertani dan berkebun, lalu kemudian beternak. Nampak sudah banyak masyarakat yang ikut bertani. Hal itu menghentikan jumlah tanah yang dibeli murah oleh Belanda karena masyarakat sudah semangat lagi bertani. Kemudian, berdagang adalah cara kedua menyentuk akar rumput masyarakat.

Kiai Hasyim berjualan sendiri di pasar Cukir, bahkan berbisnis hingga ke Surabaya. Kiai Hasyim mempekerjakan masyarakat untuk menggarap sawah, ladang, kebun, kolam ikan, ternah kuda, dan tukang untuk memperbaiki pondok. Semakin banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi pengikut Kiai Hasyim. Sebaliknya, pekerja pabrik berkurang. Berimbas juga pada bisnis prostitusi, pusat judi, dan minuman keras yang mereka dirikan. Sang Direktur, Wiro, juga mulai pusing.

Cara kekerasan yang kerap dipakai oleh mereka juga tak mempan, dibakar bendiri lagi, dirusak diperbaiki lagi. Malah jumlah santri dan masyarakat yang ikut belajar di sana semakin banyak. Dalam fase ini Kiai Hasyim telah menjadi komandan pro rakyat yang tidak secara langsung mengorbankan perlawanan terhadap kesewenangan penjajah. Bahkan pribumi yang menjadi antek-anteknya, satu persatu malah insaf dan menjadi pengikut setia, seperti Marto Lemu, mantan preman pabrik anak buah Wiro yang malah menjadi santri yang mejualkan kuda-kuda Kiai Hasyim.

Cara Belanda menghentikan Kiai Hasyim pun diperhalus, dengan hasutan maut. Sebab perjuangan Tebuireng Raya telah sampai pada telinga Sang Ratu Belanda di Eropa sana. Seorang Amtenaar (pejabat tinggi) Hindia Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina datang kepada Kiai Hasyim menyatakan bahwasanya pemerintah Hindia Belanda berkenan memberikan bintang kehormatan, tanda kehormatan terbuat dari emas dan perak. Akan tetapi beliau menolak. Bagi Kiai Hasyim memandang hal itu mencampuradukkan keikhlasan lillahita’ala dengan maksud-maksud duniawi.

Setelah Maghrib usai peristiwa penolakan itu, Kiai Hasyim mengumpulkan santri-santrinya dan memberikan nasihat mengutip ungkapan Rasulullah SAW kepada Abu Thalib:

Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh Nabi, suatu waktu dipanggillah Nabi Muhammad SAW oleh pamannya, Abu Thalib, dan diberinya tahu bahwa saya pemerintah jahiliyah di Mekkah telah mengambil keputusan menawarkan 3 hal kepada Nabi Muhammad, yaitu kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan, harta benda (kekayaan), yang berlimpah-limpah, dan gadis yang tercantik di negera Arab. Akan tetapi baginda Nabi Muhammad SAW menolak ketiga-tiganya itu, dan berkata  di hadapan pamannya, Abu Thalib, ‘Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tidak mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya keislaman merata di mana-mana atau aku gugurlebur menjadi korbannya’. Hendaknya dapatlah mencontoh dan mengambil teladan dari tingkah laku dan perbuatan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi segala hal. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi kita umat Islam sekaliannya. Dan selalu melimpahkan taufiq serta hidayah-Nya. Marilah sekarang kita sembahyang Isya’, nanti boleh kamu sekalian mengulang pelajaranmu masing-masing dan menghafalnya. Janganlah kita beri kesempatan rasa kemalasan merajalela dan menguasai diri kita

Konsistensi pro rakyat Kiai Hasyim tak bisa goyah begitu saja. Keistikamahan dalam membela umat dan rakyat pondasi utama perjuangan. Maka jadilah Tebuireng sebagai pesantren kuat yang menghasilkan para pejuang kuat juga, kita lihat Kiai Ahyat Chalimi Mojokerto, Kiai Munasir Mojokerto, Kiai Yusuf Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Sansuri, dll sebagainya.

Saat Jepang masuk ke Nusantara, Tebuireng tak lepas dari sasaran kekejaman. Kiai Hasyim bahkan diseret ke penjara karena menolak seikerei, upacara menunduk kepada matahari dalam kepercayaan shinto, setiap pertemuan umum, dan setiap nama Tenno Haika, Kaisar Jepang, disebut. Tak hanya santri dan kiai, rakyat yang merasa pejuang mereka telah disiksa dan disakiti, ikut malakukan perlawanan besar-besaran untuk membebaskan Kiai Hasyim.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan, fatwanya masih tetap diikuti oleh pejuang-pejuang nasionalis seperti Jenderal Sudirman, Bung Tomo, sampai Soekarno. Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi kunci utama perjuangan rakyat, tidak hanya muslim, bahkan masyarakat non muslim ikut tergugah dengan adanya fatwa itu. Laskar Hizbullah dan Sabilillah pun penuh dengan para pejuang habat. Jiwa pro rakyat Kiai Hasyim beralih dari pendidikan, pertanian, dan perdagangan, kepada perjuangan senjata.

Perjuangan Kiai Hasyim selalu pro rakyat dan umat. Keteladanan yang patut kita baca ulang, kita sebarkan ulang, karena krisis ketaladanan telah menjadi jamur beracun di dinding-dinding pelindung negeri ini. Lambat laun, sosok-sosok pemimpin dan kiai pro rakyat yang tidak mementingkan perutnya sendiri, perut golongannya sendiri, dan perut kelompoknya sendiri, telah semakin menciut. Kalaupun ada, tak bakal ada kawan.

Pejabat-pejabat semakin banyak yang menggerus uang negara, dan mencekik rakyat. Tanah-tanah bukannya disediakan untuk digarap rakyat, justru banyak diambil untuk proyek-proyek bernilai milyaran. Perlawanan mereka hanya menjadi gerutu semut. Tak berarti apa-apa. Kita rindu para pejuang seperti Kiai Hasyim, sosok yang selalu pro rakyat, yang sampai detik-detik akhir hidupnya, memikirkan konsisi rakyat yang terancam oleh musuh. Lah, sekarang musuh kita siapa? 

*Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Jombang, saat ini menjadi anggota Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaSelamat Jalan Puisi-Puisi
BerikutnyaKH. Hasyim Asy’ari “The Hidden Leader”