sumber foto: www.google.com

Oleh: Rara Zarary*

Hari ini tidak turun hujan, Eyang

namun kota-kota basah dengan kabar duka

ada langkah yang berhenti tiba-tiba

dan betapa logika tak mampu percaya

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

 

segalanya kuyup dengan air mata

ia nyata dengan kepergian yang selamanya

pamit yang memorakporandakan kata-kata

sungguh tiada yang lebih sakit dari pada ditinggalkan yang diam-diam kucinta

 

kita adalah serumpun kata yang tak pernah bertemu

aku adalah bocah dari puisi-puisimu

aku adalah hujan dari setiap kabarmu

aku adalah pecinta yang bahkan detik ini masih ingin bertemu

 

namun Tuhan rasanya lebih cinta

begitu Tuhan lebih rindu dan ingin jumpa

 

kali ini, semesta tak perlu banyak kuajak bicara

biarlah puisi-puisi memberi warna sedarah apa luka

kubiarkan kalimat-kalimatku memecah sesak dada

seberat apa ditinggal selamanya

 

Eyang, terima kasih telah menjadi puisi paling sempurna

dalam cerita pertamaku yang tumbuh sederhana

lalu buku-bukumu akan tetap mengisi rak-rak favoritku

menjadi jendela setiap kali aku ingin melihat dunia

 

Tuhan,

seperti sejak awal aku jatuh cinta padanya

aku selalu percaya tidak pernah ada kematian bagi pujangga

puisi-puisinya akan selalu hidup di dalam dada

abadi tak akan pernah hanyut seperti usia

 

Selamat jalan, Eyang Sapardi Djoko Damono

puisi-puisimu menempati singgasana Surga

 

Al Fatihah…

 

*Alumni Pondok Pesantren An Nuqayah Sumenep Madura.

SebelumnyaSehelai Rambut Terlihat Seusai Salam
BerikutnyaKH. Hasyim Asy’ari Itu Kiai Pro-Rakyat