KH Abdul Choliq Hasyim, Pahlawan yang Terlupakan

581

KH Abdul Choliq Hasyim, atau yang sering di kenal dengan Kiai Choliq Hasyim merupakan putra keenam dari pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah. KH Choliq Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng kelima setelah kepulanggannya dari Makkah kedua kalinya. KH Choliq Hasyim dikenal dengan ilmu kanuragan yang cukup tinggi, selain itu beliau merupakn seorang yang dikenal dengan kedisiplaninannya sehingga disegani oleh masyarakat.

Masa kecil

KH Adul Choliq Hasyim, lahir pada tahun 1916 putra keeanam dari Hadrautussyaikh Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah. Abdul Hafidz merupakan nama kecil KH Abdul Choliq Hasyim. Sejak kecil kelebihan Gus Choliq sudah mulai tampak. Terlihat dari kejadian ketika ada tamu ayahnya yang datang dengan mobil misalnya, Gus Choliq menekan ringan bodi mobil tersebut dengan jarinya. Anehnya seketika itu bagian yang dipencetnya penyok, padahal terbuat dari besi baja yang keras. Terjadi pula ketika, sang ayah pernah menghukumnya. Gus Kholiq diikat di sebuah pohon sawo dan diberi kelangrang (semut merah ganas). Namun semut-semut itu hanya lewat begitu saja dan tidak mau menggigit tubuh Gus Choliq.

Sejak kecil Abdul Choliq dididik langsung oleh Hadratussyaikh (ayah). Setelah dianggap mampu, Abdul Choliq melanjutkan pendidikannnya ke  Pondok Pesantren Sekar Putih, Nganjuk. Lalu dilanjutkan menuju Pesantren Kasingan, Rembang (kota pesisir laut Utara). Di sana beliau belajar kepada Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar nahwu, bahkan sampai dijuluki Imam Sibawaih Zamanihi. Beliau melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah.

Pada tahun 1932 Abdul Choliq Hasyim muda, pada saat itu berusia 16 tahun pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ia bermukim selama empat tahun sambil memperdalam keilmuan, salah seorang gurunya adalah Syaikh Ali al Maliki al Murtadha. Tahun 1936, Abdul Choliq pulang ke tanah air. Selang beberapa  waktu sang ayah menjodohkannya dengan seorang wanita salehah bernama Afifah putra seorang saudagar dari Kecamatan Ngoro (Jombang) bernama Haji Dimyati. Selang dua tahun Nyai Afifah wafat disebabkan sakit.

Setelah itu, Abdul Choliq dinikahkan lagi dengan salah satu keponakan Kiai Baidlowi asal Purbalingga bernama Siti Azzah. Pada tahun 1942, lahir bayi laki-laki dari pasangan KH Choliq Hasyim dan Sitti Azzaah bernamakan Abdul Hakam, yang merupakan putra tunggal Kiai Choliq.

Keluarga dan perjuangan

Cinta tanah air adalah hal yang sejak kecil diterima oleh Kiai Choliq. Nyai Nafiqah sering menceritakan kekejaman para penjajah terhadap bangsa Indonesia dan kesewenang-wenangan mereka atas kaum muslimin serta tindakan-tindakan keji mereka terhadap para kiai. Beliau senantiasa bercerita, “Dulu yang musuhi ayah, mbah dan para kiai itu adalah Belanda.” Maka dengan perlahan jiwa membela tanah air telah mendarah daging  kedalam jiwa Kiai Kholiq. Sejak itu terukirlah dalam hatinya rasa cinta terhadap tanah air.

Selama masa revolusi fisik, Kiai Choliq aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sejak tahun 1944, atau satu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Choliq masuk dalam dinas ketentaraan nasional. Beliau menjadi anggota PETA. Bahkan dalam tubuh PETA beliau diangkat menjadi Daidanco (Komandan Batalyon) yang memimpin Daidan IV Gresik-Surabaya. Kiai Choliq merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim. Kiai Choliq mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Mundurnya Kiai Choliq dari militer tidak mengubah perjuangannya untuk tanah air, kiai Choliq tetap aktif berperan dalam perjuangan membantu rakyat. Beliau ikut juga berperan menumpas  peristiwa pemberontakan PKI yang pertama. Beliau selalu terlihat menjadi orang terdepan dalam memperjuangkan tanah air. Terlihat ketika pelaksanaan oprasi wilayah Madiun, Probolinggo, Lumajang , Jember, dan beberapa daerah lain di Jawa Timur.

Pada masa penjajahan, Kiai Kholiq pernah ditahan oleh tentara Belanda tanpa alasan yang jelas. Beliau hendak dijatuhi hukuman mati. Keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Kiai Kholiq meminta waktu kepada algojo untuk salat dua rakaat. Seusai salat, Kiai Kholiq mengangkat tangan berdoa kepada Allah. Anehnya, setelah itu pihak Belanda menyatakan bahwa Kiai Kholiq tidak jadi dihukum mati

Memimpin Tebuireng

Kiai Choliq menunaikan ibadah haji kedua kalinya pada tahun 1950-an, sepulang dari haji Kiai Choliq, Kiai Choliq mampir dulu ke Jakarta menemui Kiai Wahid Hasyim yang saat itu menjadi Menteri Agama. Di sana beliau membicarakan masalah kepemimpinan Tebuireng yang waktu itu dipegang oleh Kiai Baidlawi.

Sepulang dari Jakarta, Kiai Choliq mampir ke Desa Kwaron, Jombang. Di sana ia tinggal di rumah adiknya yang paling bungsu, Muhammad Yusuf Hasyim. Dari Desa Kwaron Kiai Choliq mengirim utusan ke Tebuireng untuk membicarakan masalah suksesi kepemimpinan Tebuireng dengan Kiai Baidhawi. Mendengar rencana tersebut, Kiai Baidhawi lalu menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada Kiai Choliq.

Kepemimpinannya di Tebuireng banyak melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning, yang pada tahun-tahun sebelumnya digantikan dengan sistem klasikal. Langkah pertama yang diambilnya ialah meminta bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali (tahun 1953), untuk mengajar di Tebuireng. Kiai Idris diminta untuk mengajarkan kembali kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf, serta melakukan revitalisasi sistem pengajaran.

  Silaturrahim Ditjen PD Pontren kemenag RI Bersama (FKPM)

Dalam memimpin Tebuireng, Kiai Choliq terkenal sangat disiplin. Ini mungkin merupakan pengaruh tidak langsung dari jiwa militernya. Meskipun demikian, Kiai Choliq sangat hormat kepada Kiai yang telah membantu beliau mengajar di Pesantren Tebuireng, seperti Kiai Idris, Kiai Adlan Ali, Kiai Shobirin, Kiai Mansur, dan Kiai Manan. Sedangkan Kiai Choliq mengajar kitab-kitab  dalam hal tasawwuf.

Sedangkan Kiai Choliq sangat disegani masyarakat, karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Hampir setiap hari tamu-tamu berdatangan ke rumahnya, baik meminta doa-doa atau meminta syarat kesembuhan. Masyarakat percaya bahwa Kiai Choliq mewarisi kesufian dan kekaromahan Kiai Hasyim, sehingga beliau sering melakukan keajaiban-keajaiban tertentu. Kiai Choliq juga terkenal kebal senjata tajam. Saat terjadi peristiwa G30S PKI, Kiai Choliq memberikan amalan untuk kekebalan dan kesaktian kepada para santri dan masyarakat.

Selain terkenal memiliki karomah tinggi, Kiai Choliq juga memiliki kebiasaan mengoleksi kitab-kitab syair berbahasa Arab (semacam ontologi). Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Tebuireng.

Pada masa Kiai Choliq, madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mu’allimin. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah.

Peran Politik

Menjelang penyelenggaraan tahun pertama pemilu pada tahun 1955, Kiai Choliq mendapat dukungan dari masyarakat (terlebih dari daerah Tapal Kuda) untuk mendirikan partai politik. Dengan berbagai pertimbangan pada tahun yang sama 1955 Kiai Choliq mendirikan Partai Aksi Kemenangan Umat Islam (AKUI) dan berhasil mendapatkan kursi di Perlemen

Ketika Presiden Soekarno menjatuhkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kiai Choliq sebagai anggota Konstituante, menentang dengan keras. Dalam pandangannya, jalan musyawarah dan diplomasi masih bisa dilanjutkan. Kiai Choliq mendapat teguran keras atas penentangannya itu, sehingga partai AKUI yang didirikannya dibubarkan. Kiai Choliq kemudian keluar dari politik.

 Yang menjadi catatan adalah Kiai Choliq yang saat itu mendirikan partai AKUI, pada saat yang sama pula santri dan sejumlah masyaikh Tebuireng bergabung dengan partai NU. Sedangkan Kiai Karim Hasyim menjadi anggota partai Masyumi. Fakta ini menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak mengurangi toleransi dan penghormatan di antara keluarga besar Tebuireng.

Karomah Kiai Abdul Choliq Hasyim

Dalam buku “Pahlawan yang Terlupakan, Sang Kiai Kadigdayan, Biografi KH Abdul Choliq Hasyim” (Pustaka Tebuireng, 2011), diceritakan, saat mengemban amanah sebagai pengasuh Tebuireng, Kiai Choliq pernah mengajak putranya, Gus Hakam yang tengah duduk di kelas 4 MI, untuk mendirikan salat berjamaah di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng.

Namun ada yang aneh, keduanya shalat saling membelakangi: Kiai Choliq menghadap kiblat dan Gus Hakam membelakangi kiblat. Gus Hakam yakin bahwa beliau menghadap ke arah kibalt sesuai keyakinannya. Beliau bersandar pada kaidah fiqih: “Keyakinan tidak dapat digugurkan oleh keraguan.” Setelah salam, Kiai Choliq terkejut melihat putranya salat dengan membelakangi kiblat. Perdebatan terjadi di antara bapak dan anak ini. Gus Hakam tetap ngotot bahwa arah kiblat yang beliau yakini benar.

Kemudian Kiai Choliq salat dua rakaat dan memanjatkan doa. Lalu, beliau memerintahkan Gus Hakam untuk mengulangi salatnya di atas sajadah sang ayah. Tatkala Gus Hakam tengah takbiratul ihram di atas sajadah sang ayah, beliau melihat Kakbah berada tepat di depan mata. Akhirnya, Gus Hakam mengakui bahwa arah kiblat yang didawuhkan (disampaikan) ayahnya adalah benar.

Selain itu, Kiai Choliq sangat disegani masyarakat karena memiliki ilmu kanuragan tinggi. Hampir setiap hari tamu-tamu berdatangan ke rumahnya, baik meminta doa-doa atau meminta syarat kesembuhan. Masyarakat sangat percaya bahwa Kiai Choliq mewarisi kesufian dan kekaromahan Kiai Hasyim sehingga bisa melakukan keajaiban-keajaiban tertentu.Konon, Kiai Choliq pernah menurunkan buah kelapa tanpa memanjatnya. Ketika dia menggerakkan tenaga dari bawah, buah kelapa sudah berjatuhan. Dia juga terkenal kebal senjata tajam.

Akhir Hayat

Senin, 21 Juni 1965, tiga bulan atau 100 hari sebelum meletusnya peristiwa G.30.S/PKI. Kiai Choliq menderita sakit. Semua keluarga mencemaskan kondisi beliau yang semakin menurun, keluarga besar Tebuireng mengharap kesembuhan untuk pengasuh pesantren. Namun, Allah telah menghendaki Kiai Choliq untuk menghadap kepada-Nya

Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Sebagaimana keluarga lainnya, pesantren tebuireng berduka. Jenazah Kiai Choliq dimakamkan di komplek pemakaman keluarga pesantren Tebuireng.  Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan segala yang beliau rintis bermanfaat bagi generasi selanjutnya.


Sumber:

  1. Yasin, A. Mubarok dan Fatkhurrahman Karyadi. 2011. Profil Pesantren Tebuireng. (Jombang: Pustaka Tebuireng).
  2. Tim Pustaka Tebuireng. 2011. Pahlawan yang Terpukan, Sang Kiai Kadigdayan, Biografi KH. Abdul Choliq Hasyim. (Jombang: Pustaka Tebuireng).
  3. El Keyyis, Isno. 2015. Perjuangan Laskar Hizbullah di Jawa Timur. (Jombang: Pustaka Tebuireng)