KH. Husein Muhammad Sosok Ulama dengan Segudang Karya Tulisnya

180
Buya Husein Muhammad saat membedah Majalah Tebuireng

Profil KH. Husein Muhammad

KH. Husein Muhammad adalah salah satu akademisi sekaligus ulama Indonesia yang ciri khasnya terletak pada evolusi pemikiran ilmiahnya. Untuk menjelaskan konteks pemikirannya, pada bagian ini akan menampilkan profil lengkap, riwayat hidup, karya-karya, dan perjalanan dakwahnya.

Dr. (Hc) KH. Husain Muhammad atau yang akrab disapa Buya Husein adalah salah satu tokoh yang aktif mengampanyekan pesan-pesan kesetaraan gender dalam Islam. Ia lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953, putra pasangan Kiai Muhammad Asyrofuddin dan Ibu Nyai Ummu Salma Syatori. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Secara berurutan mereka adalah: (1) Hasan Thuba Muhammad, (2) Kyai Husen Muhammad, (3) Ahsin Sakho Muhammad, (4) Ubaidah Muhammad, (5) Mahsun Muhammad, (6) Azzah Nurlaila Muhammad, (7) Salman al-Faries, (8) Elok Faiqoh.

Baca Juga: Mengenal Ulama Perempuan Penggerak Kesetaraan Gender (I)

Kiai Husein Muhammad menikah dengan Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuadi dan dikarunia lima orang putra-putri. Mereka adalah Hilya Auliya lahir 1991, Layali Hilwa lahir 1992, Muhammad Fayyaz Mumtaz lahir 1994, Najla Hammaddah lahir 2002 dan Fazla Muhammad lahir 2003. Buya Husein sendiri menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1966, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Arjawinangun dan lulus pada tahun 1969. Sembari belajar di lembaga formal, sebagaimana tradisi anak kiai pada umumnya, ia belajar dasar-dasar agama dari keluarganya sendiri. Ayahandanya, Kiai Asyrofuddin adalah pengasuh salah satu pesantren di Cirebon, yakni Pondok Pesantren Dar al-Tauhid.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Buya Husein Muhammad lahir, tumbuh, dan besar dalam lingkungan pondok pesantren. Tradisi pesantren adalah laku lampah sehari-hari, baik tradisi dalam arti amaliah keagamaan maupun tradisi intelektual-akademis. Kitab kuning adalah bacaan hariannya. Bahtsul masa’il adalah rutinitasnya dalam memahami dan memecahkan masalah sosial dalam pendekatan keagamaan. Bukan hanya belajar agama di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun tempat kelahirannya, tetapi juga beliau belajar di Pondok Pesantren Lirboyo (1969-1973).

Pendidikan tinggi beliau ditempuh di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta (1973-1980) hingga hapal Al-Qur’an (hafidh), kemudian beliau menempuh pada Dirasah Khashshah, al-Azhar, Cairo pada 1980-1983. Selama tiga tahun di Mesir, ia menghabiskan waktu di perpustakaan dan mengisi diskusi di Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) Cabang Mesir. Pada tahun 1976, Buya Husein tercatat sebagai pendiri dan pemimpin redaksi buletin PTIQ, “Fajrul Islam”. Meskipun buletin itu masih menggunakan mesin ketik dan tulisan tangan, namun sangat keren pada masanya.

Baca Juga: Mengenal Prof. M. Quraish Shihab, Pakar Tafsir yang Masyhur dari Indonesia (Bagian 1)

Dalam masa pembentukan intelektualisme (pada usia 6 sampai 30 tahun), KH. Husein Muhammad menghabiskan waktu untuk bergelut dengan tradisi keilmuan dalam lembaran-lembaran kitab kuning. Yakni kitab klasik berbahasa Arab gundul dengan berbagai bidang kajiannya, yakni tafsir, hadits, ushul hadits, fiqh, ushul fiqh, tarikh, mantiq, falsafah, kalam, tasawuf, dan tentu ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, balaghah, ‘arudh, bayan, ma’ani, syi’ir, dan qofiyah. Beliau tidak hanya menghapal, membaca, memahami, tetapi beliau juga mengajarkan, mendiskusikan, dan mengkritisi teks-teks dalam lembaran kitab kuning tersebut.

Beliau mulai mengenal ilmu-ilmu sosial, budaya, dan politik setelah sekian lama ikut serta mengasuh Pondok Pesantren peninggalan kakeknya. Tepatnya, ketika KH. Husein Muhammad sering diundang mengikuti halaqah, sarasehan, seminar, dan workshop yang diselenggarakan oleh P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), LAKPESDAM-NU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia, Nahdlatul Ulama), LP3ES, dan LSM lain yang memberikan perhatian pada pengembangan pondok pesantren. Ini terjadi sekitar akhir 1980an hingga 1990an. Di sinilah, Buya Husein mulai mendialogkan ilmu-ilmu keislaman ala pesantren yang dikuasainya dengan realitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya kontemporer yang diperoleh dari persentuhan pikiran dengan kaum intelektual yang lain. Melalui pendekatan ini pula, KH. Husein Muhammad menggeluti isu gender, demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, multikulturalisme, nation-state, dan sejenisnya dalam pendekatan ilmu-ilmu keislaman ala pesantren.

Karya-karya KH. Husein Muhammad

Pada akhir tahun 1990an, Buya Husein mulai menulis makalah dan artikel, menuangkan pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan yang mengaitkan antara nalar Islam dengan nalar sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang terus berubah. Di antara pemicunya adalah diundang sebagai narasumber dan terlibat dalam bahtsul masa’il.

Baca Juga: Ustadz Salim A. Fillah dan Dakwah Islam yang Kontemporer

Salah satu topik yang menarik perhatiannya adalah isu gender, relasi laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. KH. Husein Muhammad tampak bersemangat mengkaji isu ini karena ketidakadilan dan dehumanisasi yang terjadi secara bertumpuk pada perempuan sebagai makhluk Allah SWT yang seharusnya dimuliakan sebagaimana mulianya laki-laki.

Pada tahun 2008 KH. Husein Muhammad mendirikan Perguruan Tinggi Fahmina di Cirebon bersama Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, ia mendirikan Puan Amal Hayati, yang juga bergerak di isu perempuan.dan menjadi penanggung jawab media mubadalah.id.

Ia juga aktif menjadi anggota komisioner Komnas Perempuan periode (2007-2009) dan menjabat kembali pada periode (2009-2012). Pada tahun 2000, ia mendirikan RAHIMA dan masih banyak lagi karir kemasyarakatan yang ia inisiasi. KH. Husen Muhammad adalah penulis yang produktif yang sudah melahirkan banyak karya monumental, di antaranya:

  1. 1986, Wasiat Taqwa Ulama-ulama Al-Azhar Kairo, PT. Bulan Bintang Jakarta.
  2. 1986, Antara Tradisionalis & Modernis, P3M, Jakarta.
  3. 1987, Dasar Pemikiran Hukum Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta.
  4. 2001, Fiqih Perempuan, LKiS, Yogyakarta.
  5. 2001, Pakar-pakar Fiqh Sepanjang Sejarah, LKPSM, Yogyakarta.
  6. 2003, Ta’liq wa Takhrij Syarh Uqudullujain, FK3, Jakarta.
  7. 2006, Spiritualitas Kemanusiaan, Pustaka Rihlah, Yogyakarta.
  8. 2010, Fiqih HIV & AIDS, PKB & UNFPA, Jakarta.
  9. 2011, Fiqih Seksualitas, PKBI, Jakarta.
  10.  2011, Mengaji Pluralisme Pada Maha Guru Pencerahan, Al Mizan, Bandung dicetak ulang 2021, dengan judul Menimbang Pluralisme Belajar Dari Filsuf dan Kaum Sufi, Nuralwala, Depok.
  11. 2012, Sang Zahid Mengarungi Sufsme Gus Dur, LKiS, Yogyakarta.
  12. 2013, Menyusuri Jalan Cahaya Cinta, Keindahan, Pencerahan, Bunyan (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta.
  13. 2014, Mencintai Tuhan Mencintai Kesetaraan (Inspirasi dari Islam & Perempuan), PT elex Media Komputindo, Jakarta.
  14. 2014, Kidung Cinta & Kearifan Lokal, Buku Zawiya, Cirebon.
  15. 2015, Memilih Jomblo Kisah Para Intelektual Muslim yang Berkarya Sampai Akhir Hayat, Zora Book. Diterbitkan ulang 2020, Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo, IRCiSoD, Yogyakarta.
  16. 2015, Gus Dur Dalam Obrolan Gus Mus, Noura Books (PT Mizan Publika), Jakarta Selatan.
  17. 2015, Toleransi Islam, Fahmina Institute, Cirebon.
  18. 2016, Perempuan Islam & Negara, Qalam Nusantara, Yogyakarta.
  19. 2016, Kisah Menakjubkan Syekh Ibn ‘Atha’illah, Mentari Media PT Melvana Media Indonesia.
  20. 2017, Menangkal Siaran Kebencian Perspektif Islam, Fahmina Institute, Cirebon.
  21. 2017, Merayakan Hari-hari Indah Bersama Nabi, PT. Qof Media Creativa, Jakarta Selatan. Diterbitkan ulang 21. 2023, dengan judul Bersama Nabi Muhammad SAW, DIVA Press, Yogyakarta.
  22. 2019, Munajat Sufi Para Kekasih Allah, Fahmina Institute, Cirebon. Diterbitkan ulang 2023, Munajat Kaum 23. Sufi, Fahmina Institute, Cirebon.
  23. 2019, Ijtihad Kiai Husein, Rahimah, Jakarta Selatan.
  24. 2019, Islam Tradisional yang Terus Bergerak, IRCiSoD, Yogyakarta.
  25. 2020, Perempuan Ulama di atas Panggung Sejarah, IRCiSoD, Yogyakarta.
  26. 2020, Ulama-ulama yang Menghabiskan Hari-harinya untuk Membaca, Menulis dan Menebarkan Ilmu Pengetahuan, IRCiSoD, Yogyakarta.
  27. 2020, Dialog dengan Kiai Ali Yafie, IRCiSoD, Yogyakarta.
  28. 2020, Kiai Menggugat Gus Dur Menjawab, IRCiSoD, Yogyakarta.
  29. 2020, Al-Hikam Ibnu Athaillah As-Sakandari & Munajat Para Wali, Fahmina Institute, Cirebon.
  30. 2020, Jilbab & Aurat, Aksara Satu, Cirebon.
  31. 2020, Poligami, IRCiSoD, Yogyakarta.
  32. 2020, Lisanul Hal, PT Qof Media Creativa, Jakarta Selatan. Diterbitkan ulang, 2023, dengan judul Hiburan Orang-orang Shaleh, DIVA Press, Yogyakarta.
  33. 2020, Menuju Fiqih Baru, IRCiSoD, Yogyakarta.
  34. 2020, Ensiklopedia Lengkap “Ulama Ushul Fiqh” Sepanjang Masa, IRCiSoD, Yogyakarta.
  35. 2021, Kidung-kidung Cinta Syams Tabrizi Maulana Rumi, DIVA Press, Yogyakarta.
  36. 2021, Islam Cinta Keindahan, Pencerahan & Kemanusiaan, IRCiSoD, Yogyakarta. 
  37. 2021, Wajah Baru Relasi Suami Istri (Telaah Kitab ‘Uqud Al-Lujjein), LKiS, Yogyakarta.
  38. 2021, Pendar-pendar kebijaksanaan, Fahmina Institute, Cirebon. Cetakan kedua 2021, IRCiSoD, Yogyakarta.
  39. 2021, Islam Agama Ramah Perempuan, Fahmina Institute, Cirebon.
  40. 2022, Aku dan Perempuan, Hyang Pustaka, Cirebon.
  41. 2022, Kebijaksanaan Para Sufi & Filsuf, CV. Alfabeta Indonesia, Cirebon dan diterbitkan ulang 2023, Kebijakan Para Ulama, Sufi & Filsuf, Fahmina Institute, Cirebon.
  42. 2022, Min Akhlakil Mustofa,
  43. 2022, Hikam Al Hukama Wal Falasifah
  44. 2023, Bunga Rampai Tasawuf Falsafi & Spiritualitas Kemanusiaan, Fahmina Institute, Cirebon. Cetakan Pertama 2023.
  45. 2024, Kidung Kearifan, Fahmina Institute, Cirebon. Cetakan Pertama 2024.
  46. 2024, ANTOLOGI PENGANTAR; Perempuan Dunia Menggugat Negara dan Agama, Fahmina Institute, Cirebon. Cetakan Pertama 2024.
  47. 2020, Islam yang mencerahkan dan Mencerdaskan, cetakan pertama, penerbit Yogyakarta.

Penulis: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary