Ketua Umum DPP ASKOPIS Sebut KPI Harus Perkuat Basis Keilmuan dan Kelembagaan di Era Digital

31
Ketua Umum DPP ASKOPIS, Dr. Mohammad Zamroni saat memberi materi di hadapan mahasiswa KPI Unhasy (foto: panitia)

Tebuireng.online– Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMP KPI) Universitas Hasyim Asy’ari menggelar seminar nasional dalam rangka Communication and Journalism Festival (Communifest) 2025, pada Selasa (29/10/2025), bertempat di aula gedung A Unhasy. Kegiatan ini mengusung tema “Healthy Communication, Quality Education: Sinergi Transformasi Digital dan Akreditasi LAM-SPAK dalam Peningkatan Mutu Prodi KPI.”

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (DPP ASKOPIS), Dr. Mohammad Zamroni, S.Sos.I., M.Si., hadir sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa setiap program studi, khususnya KPI, memiliki dua tanggung jawab besar, yakni memperkuat basis keilmuan dan kelembagaan.

“Forum ini membahas arah dan tantangan pengembangan keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam di era digital,” ujar Dr. Zamroni.

Baca Juga: RRI Kediri dan KPI Unhasy Jalin Sinergi Membangun Narasi Positif di Era Digital

Menurutnya, posisi KPI sebagai prodi yang lahir dari dua rumpun keilmuan, ilmu dakwah dan ilmu komunikasi—sering menimbulkan perdebatan mengenai identitas keilmuannya. Karena itu, diperlukan pemahaman mendalam terhadap filsafat ilmu dakwah sebagai fondasi utama.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Banyak teori komunikasi yang kita pelajari bersumber dari Barat, sementara nilai dakwah Islam seharusnya menjadi ruh utama dalam komunikasi keagamaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Zamroni menekankan pentingnya mengembangkan teori dan praktik komunikasi yang berpijak pada nilai-nilai Islam. Ia mencontohkan, teori public speaking yang umum digunakan selama ini bersumber dari paradigma Barat, padahal konsep komunikasi dalam Islam memiliki kekayaan nilai tersendiri yang perlu digali dan dikembangkan.

Selain aspek keilmuan, ia juga menyoroti pentingnya penguatan jejaring kelembagaan dan kolaborasi antarprodi. Dengan lebih dari 250 Program Studi KPI di Indonesia, potensi sinergi dalam pengembangan mutu dan penelitian sangat besar.

Baca Juga: Mahasiswa KPI Berlatih Jadi Penyiar Digital yang Kreatif

“Kini, banyak alumni KPI yang telah berkiprah di media nasional. Salah satunya, saya pernah disapa oleh kru Metro TV yang ternyata alumni KPI. Ini bukti bahwa kompetensi lulusan KPI telah diakui,” ungkapnya.

Namun, tantangan yang dihadapi KPI tidak hanya terkait akademik, tetapi juga aspek kelembagaan.

“Kelembagaan kita berada di bawah Kementerian Agama, bukan di Ristekdikti. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam hal pengakuan dan pengembangan akademik,” tegasnya.

Baca Juga: Dewan Pakar Askopis Tekankan Mahasiswa KPI Siap Jadi Profesional Dai Era Digital

Menutup paparannya, Dr. Zamroni mengajak seluruh civitas akademika KPI untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui inovasi dan transformasi digital.

“Di era transformasi digital ini, kita harus berani berinovasi agar dapat menemukan titik terang dalam pengembangan ilmu KPI yang relevan dan berdaya saing,” pungkasnya.



Pewarta: Ifa
Editor: Rara Zarary