Mahasantri Tebuireng Raih Juara Dai Nasional Communifest 2025

126

Tebuireng.online— Dua mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng kembali menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Comunifest (Communication and Journalism Festival) 2025, lomba dai tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMP KPI). Kompetisi ini berlangsung secara daring mulai 22 September hingga 21 Oktober 2025, dengan acara puncak dan pembagian hadiah digelar secara luring di aula lantai 3 Unhasy, Rabu (29/10).

Mahasantri atas nama Muhammad Khaidar Ali, mahasiswa semester 3 asal Desa Gampingrowo, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, berhasil meraih juara kedua dalam kategori lomba dai nasional. Dalam lomba tersebut, ia membawakan tema “Dakwah Islami di Era Digitalisasi.”

Khaidar mengaku sangat bersyukur atas pencapaiannya kali ini. “Perasaan saya tentu bahagia dan bersyukur karena bisa menambah prestasi pribadi. Ini menjadi pengingat untuk terus memperbanyak rasa syukur,” ujarnya.

Baca Juga: Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng Raih Juara II Sayembara Menulis Masyaikh NU Jombang

Dalam wawancara, Khaidar bercerita bahwa semangatnya di dunia dakwah berawal sejak masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Mojokerto di bawah asuhan KH. Mutoharun Afif, salah satu muassis Pondok Pesantren Tebuireng. Dari beliau, Khaidar mendapat nasihat yang hingga kini menjadi pegangan dalam berdakwah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Beliau pernah bilang, ‘Kamu itu maqomnya di depan, bukan di belakang. Jadilah santri yang bisa jadi contoh bagi orang lain.’ Dari situ saya bertekad untuk memperbaiki diri dan terus berproses agar pantas menyampaikan dakwah,” tuturnya.

Baginya, dakwah bukan sekadar berbicara di atas panggung. “Sebelum mau‘izhah hasanah, harus ada uswatun hasanah. Jadi sebelum melatih public speaking, saya memperbaiki akhlak pribadi dulu,” tambahnya.

Khaidar mengaku pertama kali terjun ke dunia dakwah ketika masih kelas 10 SMA. Saat itu ia didorong kakak kelasnya untuk mengikuti lomba, meskipun di awal perjalanan sering kali kalah. Namun sejak menjadi mahasantri di Ma’had Aly, ia mulai mempraktikkan ilmu dakwah di tengah masyarakat.

“Kalau menang, itu bukan berarti kita berhenti berproses. Justru kemenangan menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya tegas.

Selain Khaidar, Ramanda Mahmoud Ahmadinejad, mahasantri asal Kediri yang lahir pada 13 Juni 2007, juga turut berprestasi dalam ajang yang sama. Ia membawakan tema “Melindungi Hati dari Bisikan Hoaks dan Radikalisme Media Sosial.” Dan berhasil mendapatkan juara 3.

Ramanda menjelaskan bahwa tema tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Sekarang semua orang punya media sosial. Tapi banyak berita hoaks, fitnah, dan propaganda yang mengguncang iman dan akal sehat,” ujarnya.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW, ‘Al-muslimu man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadih,’ yang bermakna bahwa seorang Muslim sejati adalah yang tidak merugikan orang lain melalui lisan dan tangannya. “Kalau dikontekskan dengan media sosial, berarti postingan, komentar, dan tulisan kita harus menyelamatkan orang lain, bukan menimbulkan fitnah,” jelasnya.

Menurut Ramanda, tantangan terbesar seorang dai muda bukan hanya meraih juara lomba, tetapi bagaimana menjadi mubalig yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. “Tujuan utama bukan sekadar menang, tapi bisa menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin,” katanya.

Baca Juga: Tradisi Nusantara di Ujung Senja, Puisi Mahasantri Berhasil Raih Juara 2 Nasional

Melalui pengalaman ini, Ramanda berharap bisa terus belajar dan mengembangkan dakwah Islam yang moderat. “Saya alumni Mu’allimin. Di sana kami diajarkan untuk menyiarkan Islam yang wasathiyah, moderat, dan mencetak kader ulama salaf. Jadi semangat saya memang untuk meneruskan perjuangan para guru kami,” ujarnya penuh tekad.

Bagi kedua mahasantri ini, dakwah adalah bagian dari tanggung jawab moral santri di era digital. “Kalau bukan santri yang meneruskan perjuangan kiai-kiai kita, lalu siapa lagi? Jangan sampai panggung dakwah dikuasai oleh mereka yang ilmunya dangkal tapi berani bicara tanpa dasar,” tegas Khaidar.

Baik Khaidar maupun Ramanda sama-sama berharap bisa terus produktif dan istiqamah dalam jalan dakwah. “Semoga ke depan bisa semakin memperdalam ilmu dan menyebarkan ajaran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sesuai semangat dakwah Islam yang menyejukkan,” pungkas Khaidar.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary