Ketika Makanan Menentukan Amal: Pesan dari Al-Mu’minūn Ayat 51

72

Sebagian dari kita sering memahami bahwa amal saleh hanya sebatas sholat, puasa, sedekah, dan dzikir. Namun, al-Quran mengajak kita untuk memahami lebih dalam tentang kualitas amal yang tidak bisa berdiri sendiri melaikan sangat dipengaruhi oleh hal yang dianggap remeh yakni tentang apa yang kita makan. Di dalam Q.S.Al-Mu’minun ayat 51, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan beramallah saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para rasul, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi kita umat manusia. Ayat ini juga sangat menarik untuk kita renungkan, karena Allah tidak lebih dulu memerintahkan kepada hamba-Nya tentang amal saleh, tetapi mendahuluinya dengan perintah untuk mengkonsumi makanan yang thoyyib. Ini merupakan penegasan bahwa amal saleh yang bernilai tidak mungkin berasal dari sumber kehidupan yang tercemar dalam tubuh kita.

Selain menjadi kebutuhan, makanan dalam prespektif Islam menjadi pondasi dalam beribadah. Apa yang masuk ke dalam tubuh kita akan menjadi pengaruh kejernihan hati kita, kekutan jiwa dan perbuatan. Tentunya makanan yang halal saja tidak cukup, ia harus thoyyib; baik, bersih, menyehatkan dan diperoleh dengan cara yang benar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Makanan yang thoyyib dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir adalah makanan yang tidak diperoleh melalui kedzholiman, penipuan atau pelanggaran hak orang lain. Maka di sinilah letak persoalan umat modern seperti kita saat ini. Banyak dari kita yang rajin beribadah, tetapi lalai menyoal asal-usul rezekinya. Ada gaji yang diperoleh dari kecurangan, korupsi, manipulasi yang dinormalisasikan, sementara doa-doa lancar rezeki tetap dilangitkan. Padahal, bagaimana mungkin tangan yang kotor oleh ketidakjujuran diangkat dengan penuh harap agar doa tersebut dikabulkan?

Makanan yang kita konsumsi tidak hanya membentuk tubuh dalam hal kesehatan tapi juga bisa membentuk watak. Ketika kita sering mengkonsumsi makanan yang haram atau yang syubhat, maka hatinya perlahan akan mengeras. Sebaliknya, ketika kita dapat menjaga dan memastikan makanan halal dan thoyyib maka amal saleh dilakukan dengan ikhlas, hati tenang, dan jiwa tentram. Maka inilah hikmah dari ayat Al-Mu’minun ayat 51 bahwasanya ialah mengaitkan kesucian perut dengan kesucian perbuatan.

Tidak hanya menyoal makanan saja, ayat ini juga dapat dibaca sebagai kritik sosial, apalagi di tengah masyarakat kita seringkali menjumpai paradoks; orang yang tampak religius, rajin beribadah tetapi juga tidak ragu untuk menipu, korupsi atau juga menyalahgunkan jabatan.

Menurut Tafsīr al-Qurṭubī, ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh tidak akan diterima jika tidak disertai dengan kesucian sumber rezeki. Oleh karena itu, hal ini menjadi refleksi penting bagi kita, khususnya mahasiwa dan kaum terpelajar bahwasanya pendidikan harus melahirkan integritas bukan hanya kecerdikan yang digunakan untuk mengakali dan membohongi sistem.

Dari Q.S Al-Mu’minūn ayat 51 sejatinya mengajak kita untuk membangun kesalehan yang utuh yakni kesalehan yang menyatukan ibadah, etika, dan tanggung jawab sosial. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama manusia melalui keadilan ekonomi.

Dalam konteks ini, memperbaiki diri tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah atau sebatas melakukan ibadah saja. Ia harus dimulai dari kesadaran etis dalam mencari nafkah, bekerja secara jujur, dan memastikan bahwa tidak ada hak orang lain yang kita ambil, apalagi kita makan.

Maka pertanyaan reflektif yang patut kita ajukan bukan hanya, “sudahkah aku beramal?” tetapi juga, “dari mana sumber hidup yang aku masukkan ke dalam tubuhku?” Sebab dalam Islam, kesucian amal tidak pernah terpisah dari kesucian sumber kehidupan. Pada akhirnya, iman kita tidak hanya diuji di ujung sajadah, tetapi juga di meja makan dan di ruang kerja tempat rezeki dicari. Al-Quran berulang kali mengingatkan bahwa perintah untuk bertakwa kerap berdampingan dengan perintah menjaga yang halal dan thayyib, seolah ingin menegaskan bahwa kesalehan sejati lahir dari kesadaran yang paling mendasar.

Ketika kita mulai abai terhadap asal-usul rezekinya, amal mudah kehilangan ruh dan agama  hanya tertulis di KTP. Maka, membangun kehidupan yang beriman bukan semata memperbanyak ibadah lahiriah, melainkan memastikan bahwa setiap doa, kerja, dan suapan tumbuh dari sumber yang bersih dan diridhai Allah SWT.

Baca Juga: Mencicipi Makanan saat Puasa Tidak Makruh?


Penulis: Nabila Rahayu

Editor: Sutan