Kesunnahan Bertakbir pada Malam Idul Fitri

sumber foto: cdn2.tstatic.net

Oleh: Silmi Adawiyah*

Bacaan takbir adalah salah satu dzikir yang dianjurkan dalam Islam. Adapun istilah takbiran, atau takbir yang dibaca berulang-ulang di saat malam menjelang idul fitri adalah kesunahan yang banyak digemari oleh muslim.

Mereka menyambut hari kemenangan dengan bersuka ria seraya bertakbir mengagungkan Tuhan. Allah berfirman dalam QS. al Baqarah ayat 185:

  وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Begitupun dengan Rasulullah yang menganjurkan umatnya untuk memperbanyak takbir pada saat hari raya. Nabi bersabda:

  زيِّنوْ أَعْيَادَكُمْا بِالتَّكْبِيْرِ   

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.”

Syaikh As Sa’di rahimahullah memaparkan dalam kitab Tafsir Al Karim Ar Rahman bahwa ketika bulan itu sempurna, hendaklah bersyukur pada Allah Ta’ala karena taufik dan kemudahan bagi hamba-Nya. Syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk takbir ketika Ramadhan itu selesai. Takbir tersebut dimulai ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fitri.

Adapun mengenai waktu untuk membaca takbir, Ibnu Taimiyah dalam Majmu fatwa menjelaskan bahwa waktu takbir tersebut bisa dimulai dari pertama kali melihat hilal pada akhir bulan Ramadlan dan berakhir ketika selesainya imam dari khutbah.

Begitupun dalam kitab Al- Umm dijelaskan, mereka terus bertakbir dari malam Idul Fitri sampai menuju tempat shalat dan dari tempat shalat hingga imam selesai khutbah.

Sebagian orang membaca takbir dengan cukup singkat dan padat seperti lafadz berikut ini:

اللهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَللهِ الحَمْد

Namun banyak juga yang menggunakan bacaan takbir secara lengkap dan sempurna seperti berikut ini:

🤔  Ikhtiar Meraih Malam Lailatul Qadar

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد

Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke Esa an-Nya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan ke Esa anNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah

Adapun hikmah dari merayakan malam hari raya dengan bacaan takbir tersebut adalah hatinya akan selalu hidup dan tak pernah mati. Begitulah yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i yang meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad dari Abu Darda’, Nabi bersabda:

من قام ليلة العيد محتسبا لم يمت قلبه حين تموت القلوب

Barang siapa yang menegakkan (menghidupkan) malam hari raya dengan penuh keikhlasan niscaya hatinya tidak akan mati ketika semua hati mati.


*Alumnus Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Diwek Jombang dan kini menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.