Tebuireng.online– Acara wisuda ke-VI mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari berjalan lancar meski sebagian dari mahasantri malakukan prosesi wisuda secara daring.

Dalam acara wisuda ini, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Dr. H. Imam Syafe’i menyampaikan beberapa pesan kepada mahasantri yang telah wisuda.

Salah satunya adalah agar tidak lupa untuk berterima kasih kepada orang tua yang mendoakan keberhasilan serta berterima kasih kepada para guru yang telah membimbing menuju jalan kemuliaan.

“Semua mahasantri yang lulus dan diwisuda pantas untuk dihargai meskipun nilai mereka tak sebagus wisudawan terbaik karena mereka semua pasti bekerja keras untuk bisa sampai di posisi saat ini,” ungkapnya (22/8).

Hal ini selaras dengan kisah yang beliau ambil dari sebuah majalah yang menceritakan tentang keteguhan seorang atlet yang tetap melanjutkan lombanya dengan segala jerih payah dan usaha meski ia merupakan peserta terakhir yang memasuki garis finis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ketika atlet tersebut ditanya alasan mengapa ia tetap melanjutkan lombanya meski sudah tahu bahwa ia terakhir, atlet itu menjawab ‘saya disuruh negara bukan untuk start tapi untuk finish’,” ungkap beliau.

H. Imam Syafe’i juga mengungkapkan bahwa di Indonesia setidaknya terdapat lebih dari 270 lembaga pendidikan Islam yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah hingga jenjang Mahad Aly.

“Dengan jumlah lembaga yang lebih banyak dari negara-negara lain, diharapkan Indonesia ke depannya terkhusus mulai pada tahun 2024 bisa menjadi rujukan pendidikan Islam bagi seluruh dunia,” harapnya.

Baginya Mahad Aly adalah lembaga pendidikan yang memiliki potensi untuk mencapai harapan tersebut. Selain itu, ia juga percaya bahwa Mahad Aly adalah potensi pendidikan Indonesia.

“Ma’had Aly adalah bagian potensi pendidikan Indonesia. Meski masih muda, kita tidak perlu risau dengan jarak usia dengan lembaga lain yang lebih dulu berdiri. Kita punya potensi besar, unggul, dan dibutuhkan oleh banyak orang. Tetap optimis,” lanjutnya.

Menurutnya, potensi yang dimiliki Mahad Aly ialah institutional branding yang tidak dimiliki perguruan lain. Dengan prodi yang berbeda di setiap Mahad Aly tidak menjadikan setiap Mahad Aly menjadi kompetitor tetapi justru menjadi pelengkap dan penyempurna bagi khazanah Islam.

“Adapun tiga tradisi yang harus dikembangkan oleh setiap Mahad Aly ialah religiositas, akademik, dan budaya digital,” tandasnya.

Pewarta: Devi Yuliana

SebelumnyaInilah Nasihat Terbaik Untuk Penjaga Warisan Hadratussyaikh
BerikutnyaTidak Ingin Merugikan Mahasiswa, Unhasy Jelaskan Penerapan Kuliah Daring