
Baca sebelumnya: Kata Orang Tempat Itu Angker (I)
Kami masuk menyusuri jalan setapak menuju area pantai. Jalan itu terasa panjang, seolah tak berujung, hingga akhirnya kami menemukan tempat yang sejak awal ingin kami datangi: sebuah pulau kecil yang dapat dijangkau melalui jembatan panjang, menjorok ke tengah laut. Ya, itulah tujuan kami.
Sebenarnya, aku datang bukan hanya untuk berlibur. Ada rasa penasaran akan hal-hal mistis yang banyak diperbincangkan orang tentang pantai ini. Cerita tentang makhluk-makhluk gaib yang konon kerap menampakkan diri di sekitar karang.
Teman-temanku tidak ambil pusing. Mereka sangat bahagia: berlari di tepi pantai, swafoto, membeli jajan, dan bermain air.
“Ayo ke sana…” ajakku sambil menunjuk ke arah jembatan.
“Gasss…” jawab mereka serempak.
Kami melangkah ke jembatan pertama, menuju pulau kecil sebelum gapura besar yang mengarah ke jembatan kedua. Kami berfoto di sana, tertawa-tawa, lalu melanjutkan perjalanan ke jembatan berikutnya. Ombak menghantam karang di bawah, suaranya seperti napas panjang dari laut lepas.
Sepanjang menyebrangi jembatan kedua, mataku tak henti menatap karang-karang tinggi yang membentuk pulau kecil. Dan di sanalah aku melihatnya, makhluk yang sering diceritakan orang. Tidak sebesar yang dibayangkan, tidak semengerikan desas-desus itu. Hanya seekor ular hitam, panjangnya sekitar setengah meter. Meski begitu, kemunculannya tetap membuatku berpikir: Benarkah ini yang mereka maksud selama ini?
Aku melanjutkan perjalanan menuju pulau kedua, tempat sebuah pura berdiri. Tempatnya damai, menatap laut lepas dengan latar suara ombak yang tak pernah berhenti. Aku naik ke pelataran tempat patung Ganesha berdiri megah. Dupa menyala, menyebarkan aroma menenangkan.
Aku termenung lama di sana. Mungkin lebih dari lima belas menit aku memandangi horizon biru yang diselimuti awan sisa hujan. Hawa dingin membuat kulit merinding, bukan karena takut, tapi karena ketenangan yang aneh, seperti dipeluk oleh alam.
Sampai akhirnya…
Ada sesuatu
Aroma dupa tiba-tiba menguat. Dari telingaku, seperti ada bisikan samar. Bukan suara jelas, lebih seperti panggilan halus yang membuatku perlahan menoleh. Belum sampai aku memutar tubuh sepenuhnya, pandanganku menangkap sosok itu.
Tinggi, mungkin hampir 190 cm.
Tidak kurus, tidak pula besar.
Bergaun hitam polos.
Berkerudung hitam panjang seperti niqab yang menutup seluruh wajah.
Refleks, pikiranku berkata, Halah, paling Sari… Dia satu-satunya yang memakai kerudung hitam hari itu. Tapi cepat kusadari, kerudung Sari bermotif, bukan hitam polos seperti ini. Dan lagi… tidak ada siapa pun di sana selain aku. Tempat itu kosong.
Seketika tengkukku terasa dingin.
Aku tidak mengatakan apa pun kepada teman-temanku. Tidak pada hari itu, tidak dalam perjalanan pulang.
Namun tengah malam, saat aku tiba di rumah, ibuku menyambutku di depan pintu dengan pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Gimana, Lan, dari pantai?” tanya ibu pelan.
“Maksudnya?” tanyaku heran.
“Ketemu apa aja di sana?”
Pertanyaan itu menghentikan nafasku sesaat.
Lalu aku menceritakan semuanya, tentang ular di pinggir karang, tentang pura, tentang sosok bergaun hitam itu.
Ibu tertegun, tak mengira aku benar-benar melihat sesuatu. Ia bahkan heran bagaimana aku bisa berdiri di tempat yang sama dengan titik munculnya ular tadi, sementara ada sebuah keluarga yang tampak santai bermain di situ tanpa gangguan apa pun.
Sampai sekarang pikiranku masih rancu. Mengapa aku yang melihatnya? Mengapa bukan mereka?
Namun terlepas dari semua kejadian hari itu, aku memilih untuk percaya satu hal: Apa pun yang kutemui, siapa pun itu… mungkin hanya ingin menyapa. Tidak lebih. Karena pada akhirnya, kita semua hanyalah makhluk Tuhan yang sama-sama melintas di dunia ini, walau berasal dari alam yang berbeda.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















