Karnaval yang Menyapa Jendela

62
Ilustrasi kemerdekaan dan perayaan Agustus (sumber: onokarya-youtube)

Hening, Bahasa Tanah Leluhur

Aku adalah tanah di bawah kaki anak-anak yang melompat riang,
tanah tempat nenek moyang dibaringkan tanpa batu nisan.
Di hutan yang dicabut dari akarnya sendiri,
masyarakat adat duduk seperti patung yang lupa bahasa

Kami tidak bersuara,
karena kami bukan mikrofon, bukan televisi, bukan baliho.
peluh kami mengaliri sungai yang
menghidupi kota-kota yang kini melupakannya.

Tiap nyanyian kebangsaan terdengar asing,
karena kami punya lagu sendiri,
yang dinyanyikan oleh burung-burung
yang kini ditembak demi meriahnya parade.

2025

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Karnaval yang Menyapa Jendela

Aku adalah jendela di rumah veteran buta,
kaca berembun oleh ingatan yang terlalu tajam.
Di luar sana, anak-anak mengecat wajahnya dengan dwi warna
sementara ia mengecap luka dengan ujung lidahnya sendiri.

Kakinya sepasang tiang bendera yang kini lapuk,
tangannya sebuah peluit yang kehilangan udara.
Tiap sorak kemenangan adalah gema yang menelusup ke perutnya
seperti bayonet yang tertinggal dalam perang tak pernah selesai.

Bahkan langit tampak tak tahu,
bahwa di balik tirai ini ada tubuh yang pernah menjadi tanah tempat negara tumbuh,
dan kini ditinggalkan seperti puisi yang terlalu panjang
untuk dibaca di panggung hari puisi. 

2025


Yang tak Pernah Diterjemahkan

Aku adalah bahasa ibu dari suku yang nyaris punah,
kalimat-kalimatku disimpan di gua, bukan di buku pelajaran.
Bendera berkibar di sekolah-sekolah
yang tak mengajarkan bagaimana aku mengucap “cinta” pada tanah air. 

Setiap pidato kemerdekaan adalah monolog yang tak memberiku ruang,
karena mulutku tidak menjunjung fonetik nasional.
Tapi aku tetap bernyanyi di balik rimba,
menerjemahkan cinta ke dalam anyaman, hujan, dan asap.

Aku bukan pengkhianat karena tak hafal lagu kebangsaan.
Aku hanya tak pernah diajari.
Dan heningku bukanlah protes,
melainkan upaya bertahan dari gegap-gempita yang
tak memberi ruang bagi dialek kehidupan.

2025



Penulis: Fileski Walidha Tanjung, penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media nasional.
Editor: Rara Zarary