Jika Suatu Hari Nanti

38
Ilustrasi perempuan dan mimpinya

Jalan Pulang yang Sama

Aku pulang setiap malam
dengan langkah yang sama,
menyusuri jalan yang hafal diamku
lebih baik daripada siapa pun.

Lampu-lampu berdiri berjajar,
menyala tanpa bertanya
ke mana aku pergi,
atau mengapa aku selalu kembali
dalam keadaan yang nyaris sama:
lelah, dan sedikit kosong.

Sunyi berjalan di sampingku.
Ia tak menasihati, tak menghakimi.
Hanya menemani,
seperti bayangan yang tahu
aku tak butuh kata-kata.

Kadang aku sendiri pun bertanya,
untuk apa semua ini?
Untuk apa perjalanan yang diulang,
malam demi malam,
tanpa sorak, tanpa pelukan di ujung jalan?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mungkin karena pulang
bukan selalu tentang tujuan,
melainkan tentang bertahan.
Tentang membuktikan pada diri sendiri
bahwa aku masih sanggup melangkah,
meski tak yakin apa yang menungguku esok hari.

Aku rela melakukannya
karena di jalan yang sunyi ini
aku bisa jujur sepenuhnya.
Tak perlu kuat,
tak perlu terlihat baik-baik saja.

Dan saat pintu akhirnya tertutup di belakangku,
aku tahu
meski tak ada yang menyambut,
perjalanan pulang ini
adalah caraku mengatakan
aku masih ada.


Berdamai dengan Takdir

Aku menulis takdir
seperti menulis kalimat yang sama
di halaman berbeda.
Berharap suatu hari
maknanya berubah.

Setiap goresan terasa familiar,
seolah tanganku hafal
ke mana harus kembali.
Bukan karena ingin,
tapi karena belum tahu
cara berhenti.

Aku ulangi lagi.
Bukan sebab aku yakin ini benar,
melainkan karena inilah
yang paling aku mengerti.
Takdir yang kutulis berulang-ulang
lebih mirip doa
yang belum berani kusebutkan.

Kadang aku lelah membaca ulang
hidupku sendiri.
Mengapa tokohnya selalu sama,
lukanya pun itu-itu saja?
Namun tetap kutulis,
karena barangkali
ketekunan ini adalah bentuk harapan
yang paling sunyi.

Aku tahu,
takdir tak selalu patuh pada pena.
Tapi menulisnya membuatku merasa
punya peran,
meski kecil,
meski samar.

Dan jika suatu hari
aku menemukan satu baris berbeda,
aku ingin percaya
bahwa semua pengulangan ini
bukan kesia-siaan
melainkan latihan
agar aku siap
menerima akhir
yang lebih jujur.


Jika Suatu Hari Nanti

Aku lelah
dengan cara yang tak bisa dijelaskan
oleh tidur atau istirahat.
lelah yang menetap,
seperti jam yang lupa
cara berhenti berdetak.

Setiap hari dimulai
sebelum lelah kemarin selesai.
aku bangun membawa sisa-sisa beban
yang tak sempat kuturunkan,
lalu menambahkannya lagi
tanpa pernah bertanya
sampai kapan.

Tak ada jeda yang benar-benar jeda.
diam pun terasa bekerja,
menarik napas saja
seperti tugas yang harus dituntaskan.
Aku tersenyum karena terbiasa,
bukan karena ringan.

Kadang aku ingin bertanya
pada waktu:
apakah ia tahu caranya melambat?
atau pada hidup:
apakah lelah ini tanda
aku berjalan,
atau hanya terus dipaksa bertahan?

Namun aku tetap melangkah.
bukan karena kuat,
melainkan karena berhenti
terasa lebih menakutkan.
lelah ini menempel erat,
tapi ia juga saksi
bahwa aku belum menyerah.

Dan jika suatu hari
ada jeda yang sungguh-sungguh,
aku tak meminta bahagia.
cukup hening yang ramah,
cukup napas yang tak dikejar-kejar,
cukup satu momen
di mana lelah
akhirnya diizinkan
berbaring.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary