sumber gambar: www.google.com

Oleh: Viki Junianto*

Jalaluddin Muhammad Balkhi atau dalam versi lain Jalaluddin Muhammad Malavi adalah sosok yang sangat sering diperbicangkan oleh kalangan sufi lebih-lebih sufi yang mendalami sastra. Di kalangan pelajar Indonesia, beliau lebih dikenal dengan nama besar Maulana Jalaluddin Rumi atau biasa kita kenal dengan sebutan Rumi.

Siapa sangka, sebelum beliau intens dalam mempelajari tasawwuf, beliau adalah sosok yang sangat gencar dalam mempelajari fiqh, teologi ataupun sastra. Rumi muda adalah sosok yang sangat dikagumi oleh orang banyak. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rumi sudah menjadi mufti di Konya. Hari-harinya dihabiskan untuk mengisi halaqoh-halaqoh serta berkhutbah di masjid-masjid di sekitar Konya.

Terdapat suatu peristiwa yang membuat hidup Rumi berputar 190 derajat, dan karena peristiwa inilah beliau mulai menyelam ke samudra sufistik yang tanpa batas. Pada suatu hari di kota Konya, Rumi bertemu dengan sesosok darwish (pengembara) yang indah perangainya, santun perilakunya dan pemikirannya banyak merubah kepribadian Rumi. Beliau adalah Syams At-Tabrizi, Matahari dari Tanah Tabriz.

Hari-hari Rumi dihabiskan untuk mengunjungi majlis Syams Tabrizi. Rumi meliburkan kajian-kajianya bersama murid-muridnya dan lebih memilih hadir di majlis Syams untuk mendengarkan petuah-petuahnya. Hal ini membuat murid-murid Rumi geram. Mereka menganggap Syams-lah penyebab utama kajian Rumi diliburkan. Dengan alasan tersebut salah satu dari mereka pun mengusir Syams dari Konya agar Rumi bisa mengajar seperti biasanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada keesokan harinya, seperti biasa Rumi datang ke majlis Syams untuk mendengarkan kalam-kalamnya. Namun, ketika sampai di sana Rumi tidak mendapati Syams. Rumi menunggu dan menunggu kedatangan Syams. Namun Syams yang ditunggu tak juga kunjung datang. Rumi pun mengutus salah satu muridnya untuk mencari Syams ke penjuru kota Konya. Namun, Syams tetap tak kunjung ditemukan. Hal ini membuat Rumi sangat terpukul dan sedih. Guru yang merubah hidupnya, yang merasa tenang ketika melihat wajahnya, yang membuat ia merasa tak mengerti apa-apa saat mendengar ajaran-ajarannya telah pergi entah kemana dan tak diketahui keberadaaanya.

Emosi kerinduan Rumi tak kunjung padam. Syams yang ia rindukan tak juga datang. Rumi pun mencurahkan kerinduannya dalam bentuk puisi-puisi indah. Puisi-puisi tentang kerinduan seorang murid kepada gurunya. Dalam salah satu puisinya, Rumi berkata:

أنت سمائي وانا أرضك إني مذهول : ماذا قررت لي ان الد؟ ماذا تعرف الغرض عن البذرالتى زرعتها انت؟ انت من خصبها أنت الوحيد الذى يعرف ما تحمل بداخلها   

“Engkau (Syams Tabrizi) adalah langitku, sedangkan aku adalah bumimu. Aku tertegun (dalam sebuah pertanyaan): apa yang kau putuskan untuk saya tumbuhkan, apa yang kau ketahui tentang benih yang engkau tanam? engkaulah yang membuahinya, engkau seorang pula yang tahu apa yang engkau bawa di dalamnya (benih).”

Belakangan, puisi-puisi ini dihimpun oleh murid-murud Rumi kemudian diberi tajuk dengan Diwan Syams Tabrizi (puisi-puisi untuk Syams At-Tabrizi).

Hal semacam inilah yang tidak mungkin ditemui oleh orang yang belajar hanya kepada buku-buku, kitab-kitab atau bahkan hanya melalui media sosial. At-Ta’alluq Al-bathiniah (hubungan batin) hanya bisa ditemukan oleh orang yang matanya langsung melihat wajah tenang gurunya, mendengarkan langsung petuah-petuah indah gurunya, dan beradab dengan adab mulya gurunya.

Memang orang yang mengaji online akan medapat ilmu yang tidak jauh berbeda dengan orang yang ngaji offline. Tapi Hubungan batin yang erat sepertihalnya antara Rumi dan Syams Tabrizi hanya dapat ditemui oleh mereka yang duduk dan langsung melihat serta mendengar petuah-petuah gurunya.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaMerasa Ibadah Berkurang Akibat Virus Corona
BerikutnyaIslam Bukan Termasuk Golongan Apolitik