Jalan Pulang Puisi-puisi

94
Ilustrasi jalan pulang seseorang (sumber: nusantaranews)

Tempat Kembali

Kapal belayar
Tebawa arus ombak di lautan
Nahkoda begitu lincah menguasai
Bintang selalu memberi arah

Tapi egoisnya angin
Tak nampak namun liar
Deras mendominasi
Bak manusia yang terombang-ambing
Tanpa arah pasti

Hanya Tuhan yang menjadi tempat kembali


Manusia Berambisi

Banyak hewan diburu
Pohon rindang tumbang
Hutan menjadi gersang
Kawasan itu tak lagi disebut ‘paru-paru’

Tinggallah gedung tinggi
Dengan ambisi
Manusia serakah
Pikirnya semua mudah dengan uang

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Busuk otaknya
Sehingga tak bisa berpikir lagi
Bahwa oksigen Tuhan tak bisa dibeli


Pemimpi(n)

Bulan menangis
Matahari meringis
Menjadi saksi hidup
Namun dianggap mati

Seolah saksi bisa disuap dengan uang
Tak mau diungkap, namun tidak segan korupsi
Tak mau berkata kotor, namun tidak malu makan uang kotor
Aksara pun malu untuk mengetiknya

Tak mau dikritik
Apalagi menampung aspirasi
Hanya mau menampung uang rakyat semata
Dan digunakan suka-suka

Pantaskah disebut ‘pemimpin’?
Mungkin lebih tepat jika tanpa huruf ‘n’


Bungkam

Haus validasi
Jika membantu harus ada dokumentasi
Agar terlihat layak jadi panutan negeri
Bahkan tak segan berebut ‘kursi’

Yang berani maju, pasti dibunuh
Seolah seperti tak takut pada Tuhan
Bagaimana nilai kritis pada rakyat demokratis?
Agaknya nyaris dibungkam



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary