Oleh: Qurratul Adawiyah*

Berbicara tentang sosok ibu tidaklah lepas dari keistimewaan yang luar biasa hebatnya yang tak semuanya bisa dimiliki sepertinya. Namun terlepas dari itu, ketika menyandang peran baru sebagai ibu pasti kita berharap menjadi sosok ibu yang hebat dan terbaik untuk anaknya, sebab ibu juga merupakan sosok panutan atau teladan pertama. Selain itu, ibu memang sejak lahir diberi Tuhan karunia berupa sifat kasih sayang yang berpengaruh penting terhadap perkembangan anak. Karena terdapat faktor-faktor yang berhungan langsung dengan ibu, di antaranya:

Pertama, secara biologis, ibu adalah orang yang mengantarkan anak ke dunia dengan proses yang tak mudah dengan berlipat-lipat kesabaran dan ikhlas yang taruhannya adalah nyawa.

Kedua, secara psikologis, biasanya ibu yang lebih dekat kepada anak. Mengapa? Karena sentuhan secara langsung sosok seorang ibu sangatlah memberikan kekuatan tersendiri dan memang sejak dalam kandungan sampai ia dilahirkan jauh lebih kepada ibu daripada bapak. Mulai dari menyusui, menimang, menggendong dengan belaian lembut tangan kasih sayang yang tak ternilai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, secara biologis, ibulah yang biasanya berhubungan langsung dan anak juga lebih terbuka dengan ibu. Menjadi tempat berkeluh kesah atau tempat mencurahkan segala masalah dan ibu pun juga lebih bisa memahami dan bisa dengan baik berkomunikasi sehingga bisa memberikan kehangatan dengan memberikan nasehat-nasehat luar biasa yang penuh kebijaksanaan dan lemah lembut.

Keempat, begitupun secara kultural-edukatif, ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Ibulah yang memainkan peranan penting sebagai pendidik, pembimbing, Pembina, dan pembentuk dasar watak, akhlak, dan kepribadian seorang anak. Maka sangat penting seorang ibu untuk menjadi sosk yang multitalenta dan multitasking karena ia akan dihadapkan dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang terkadang di luar batas yang tidak bisa kita jawab dengan sembarang. Maka, dari hal itulah pendidikan kita sangatlah penting untuk kualitas pendidikan dan kecerdasan anak. Akan tetapi hal itu tentunya tidak menafikan peranan ayah yang ikut berperan dalam mendidik anak.

Selain itu, cinta sosok seorang ibu kepada anak-anaknya sering dilambangkan bagaikan lautan yang tak bertepi dan tak terjeda. Seorang ibu identik dengan belaian cinta dan kasih sayang, symbol kelembutan, sumber ketentraman jiwa dan selalu memberikan bimbingan serta pencerahan kepada anak-anaknya.

Lihatlah Thomas Alva Edision, yang mana pada saat itu di sekolah gurunya putus asa dalam mendidiknya. Akan tetapi karena motivasi dan dukungan dari sosok seorang ibunya, Nancy Matthews Elliott, Thomas Alva Edision berhasil menjadi ilmuwan hebat dan terkemuka yang berhasil menemukan kurang lebih seribu temuan yang dipatenkan. Oleh karena itu jika terdapat anak yang susah dididik, alangkah baiknya kita perlu bertanya pada diri sendiri, sebenarnya anak yang memang susah diatur sendiri atau malah kita yang gagal mendidik karena tidak mengetahui potensi anak tersbut?

Seperti halnya yang dikatakan KH Ahmad Junaidi Hidayat, kita harus memahami potensi seoramng anak. Semua anak itu baik, semua anak itu juara karena setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Jangan paksa anak keluar dari potensinya. Seperti halnya seekor burung terbang, jika dipaksakan menjadi bebek ia akan tenggelam, begitupun sebaliknya. Jika bebek dipaksakan terbang maka ia akan patah.

Memang menjadi seorang ibu tidaklah mudah dalam hal mendidik anak. Karena faktor lain seorang anak juga dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak hanya faktor genetik saja. Maka yang perlu diperhatikan lagi bagi para ibu yaitu lingkungan di mana hendak anak tersebut akan berproses sebagai faktor pendukung.

Tentunya untuk melakukan proses kemandirian dan menciptakan kepribadian sendiri di tengah-tengah lingkungan yang perlu kita pilih dengan sebaik mungkin. Namun sebesar apapun kesulitan dalam mendidik anak, hakikatnya tidak pernah melebihi kemampuan kita. Porsi yang kita terima sesuai dengan kemampuan yang ada dalam diri kita.

Yang kita butuhkan adalah semangat kita untuk terus belajar, sebab zaman terus berubah, tantangannya pun semakin banyak. Mulai dari tantangan dalam pergaulan, teknologi, pendidikan dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Apalagi di era digital kita dituntut untuk memiliki kemampuan mendidik dengan bijak dan memiliki spirituaitas ,integritas moral, komitmen penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu kita harus mampu memahami potensi dan hal-hal yang berhubungan dengan anak secara menyeluruh dan terus belajar.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMeninjau Gaya Pakaian Muslimah Kekinian
BerikutnyaPerkuat Jaringan Alumni, Pelantikan dan Peresmian Sekretariat Pengurus Wilayah IKAPETE NTB