Hal yang luar biasa, bertemu dengan teman-teman sepesantren dulu, banyak hal yang hingga kini membuat kita mengingat kesahajaan, ketenangan, keikhlasan dan hati kita, saat di pesantren. Ustadz Pembina santri yang selalu mengayomi kami, memberi pendidikan yang membentuk sebuah karakter tak terpisahkan bagi masing-masing anggota kamar.

Berbeda dengan saat ini yang penuh dengan permainan, senggol sana senggol sini dan tipu muslihat, kegiatan yang segitu padat malah menjadikan kita menjadi seorang yang totalitas. Melakukan segala sesuatu dengan tanpa pamrih, meski ada beberapa orang yang berbeda, ‘ya begitulah manusia.

Kami ingat betul, saat itu pagi hari sebelum berangkat sekolah. Ustadz kami keluar dari kamar saat persiapan sekolah dan membentak seisi kamar. “Semuanya duduk!!!”, tidak ada yang membangunkan saya?” dengan nada yang meninggi. Begitulah kami diceramahi sampai pukul 07.00 WIB, alhasil kami telat.

Beliau bernama Ust. Sulaeman, atau akrab dipanggil para pengurus yang lain Bang Soele, pembina kami saat waktu SLTP lebih tepatnya Wisma MTs SS, Suryo Kusumo 204.

Begitulah salah satu hal yang membentuk bahkan mengubah cara pandang kami, bahwa dengan menjadi seorang tokoh central di masyarakat (dalam konteks ini pembina) kita tidak harus jaim dan menutupi hal yang harusnya bisa dikoreksi bersama. Beliau menyontohkan kearifan yang luar biasa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebuah kata-kata mutiara:

 العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

Ilmu tanpa amal layaknya sebuah pohon tanpa buah.

Memahami hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Kesalahan yang jelas-jelas terlihat publik seringkali malu untuk mengakuinya. Bahkan dalam kisah ini beliau marah kepada teman-teman karena sungkan membangunkan.

Beliau juga mengajarkan sebuah kemandirian dan keutuhan suatu komunitas yang sukses. Saat awal beliau membina kami dibentuklah susunan pengurus kamar dan saat itu terpilihlah salah satu teman kami. Setelah disahkan beliau berpesan, “Bagus tidaknya kamar ini tergantung dari ketua kamar. Kalau ketua kamar loyo semua harus mengingatkan dan acara harus tetap berjalan dengan ada atau tidak adanya saya”.

Acara kamar biasa berbentuk jam’iyah dan yang mengisi dari anggota kamar yang terjadwal setiap malam Selasa dan malam Jumat. Mulai dari MC, qori’, dan ceramah. Sesekali kami mengadakan praktik fiqh seperti shalat Idul Fitri, shalat mayit, dan memandikan mayit. Selain itu, juga praktik berbagai macam amalam NU yang lain.

Begitu berjalan beberapa minggu, teman-teman mulai timbul sebuah kemalasan. Banyak teman-teman yang mulai meremehkan jam’iyah yang telah dijadwalkan. Dan terjadilah saat acara kamar tidak berjalan. Sekamar dihadapkan lagi dengan pesan (teguran) dari Ust. Sule dari selepas shalat Maghrib hingga pukul 21.00 WIB.

Dari situ kami merasakan bahwa memang acara itu terlihat remeh namun itu hal yang sangat penting bagi kami. Masyarakat perlu seorang alumni pesantren yang berdedikasi tinggi, apapun kegiatan yang kita hadapi di hari itu, kegitan yang positif harus terus kita laksanakan dengan sepenuh hati, istiqomah.

Begitulah sosok yang membina kami dari tahun 2013 hingga 2014. Memang singkat namun sangat berarti dan yang mengubah hidup kami sekamar.


Ditulis oleh Minahul Asna, Alumni Pesantren Tebuireng

SebelumnyaCerdas Kelola Sampah Jadi Rupiah
BerikutnyaSurat yang Dibaca Rasulullah saat Shalat Isya, Apa Saja?