sumber gambar: kliknclean

Oleh: Firda D. Lestari*

Jumlah sampah yang setiap hari terus meningkat hingga ratusan ton dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan bahkan kerusakan alam. Penyumbang sampah sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga sebanyak 48%. 24% sampah berasal dari pasar tradisional, 9% berasal dari  kawasan komersial, sisanya berasal dari fasilitas umum seperti sekolah, restoran, kantor jalan, dan sebagainya.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah  sebagai tempat pengolahan sampah kini berupaya dalam peningkatan untuk pengolahan sampah. Karena melihat peningkatan jumlah sampah yang amat banyak muncullah sebuah gagasan berupa Bank Sampah yaitu tempat pengolahan pendaurulangan sampah.

Tujuan bank sampah untuk menangani pengolahan sampah serta untuk menyadarkan masyarakat akan peka terhadap lingkungan, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang bersih, rapi dan nyaman. Tidak terlihat sampah yang berserakan dimana-mana akibat membuang sampah sembarangan, maupun sampah yang dibiarkan menumpuk berhari-hari. Dengan adanya hal ini sampah akan diolah menjadi barang-barang ekonomis.

Bank sampah sudah hadir hampir di setiap kota, dikelola masyarakat, badan usaha maupun pemerintah daerah  yang sesuai dengan menteri Lingkungan Hidup (LH) no 14 tahun 2021. Dikutip dari lh sudah ada Bank Sampah Induk (BSI) sebanyak 212, Bank Sampah Unit memiliki nasabah sebanyak 12.071. Ada sebanyak 14.506 nasabah yang tidak memiliki BSI, serta 2.579 nasabah dari rumah tangga.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sampah yang sudah terkumpul sebanyak 130.742,17 ton, dan sampah yang sudah didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebanyak 444,86 ton. Sampah yang dikumpulkan dan akan dipilah dan dipilih baik sampah organik maupun sampah anorganik. Sampah kering dipilih kembali berdasarkan jenis sampah, ketebalan jenis sampah serta ukuran dan sobekan sampah yang baik atau asal-asalan. Sampah akan diolah oleh bank sampah menjadi suatu kerajinan yang sangat menarik dan dapat dimanfaatkan kembali.

Bank sampah juga memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Sampah-sampah kering yang dikumpulkan kemudian disetor ke bank sampah. Seperti sampah botol plastik, kaca, maupun kaleng. Sampah rumah tangga seperti detergen, pewangi, sampo, pembersih piring, pembersih lantai hingga sachet bumbu dapur seperti kopi, mie instan dan kemasan bumbu bumbu lainnya. Limbah kain cacah juga dapat dimanfaatkan menjadi kain lap dan ampas pengrajin yang biasa dibuat menjadi pot bunga.

Kerajinan dihasilkan dari daur ulang tersebut bisa berupa tas, dompet, kotak pensil, dan kotak tisu. Bahkan, ada juga pameran daur ulang serta penghargaan kreasi daur ulang misalnya kreasi yang dihasilkan seperti baju dan perabot seperti vas, dan meja. Adanya pameran dan penghargaan pendaurulangan sampah bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa sampah dapat diolah kembali menjadi barang pakai.

Bank sampah menjadi salah satu strategi atau jalan alternatif akan peduli terhadap lingkungan. Sehingga dapat menciptakan lingkungan yang bersih  dan nyaman juga membatu dibidang perekonomian. Karena sampah yang di kumpulkan dapat di tukar dengan uang sesuai dengan berat sampahnya.

Sistem bank sampah sama seperti bank uang, masyarakat harus menyetorkan sampahnya dan ditimbang dengan minimal 1kg. Kemudian dicatat di buku oleh petugas bank sampah. Sampah yang disetor berupa sampah kering yang baik cara membukanya maupun sampah yang sudah robek tidak beraturan bahkan sampah yang sudah di cacah menjadi lebih kecil.

Pendaurulangan sampah juga dikenalkan dimasyarakat umum maupun di bidang pendidikan. Pengenalan pengolahan bank sampah banyak diterapkan sebagian besar oleh ibu-ibu PKK hingga loka karya di tinggkat pendidikan.

Di pendidikan pada kurikulum merdeka belajar adanya penguatan profil pelajar pancasila (P5) yaitu proyek penguatan profil pelajar pancasila yang memberikan aspek utamanya dengan potensi diri, pemberdayaan diri, peningkatan diri, pemahaman diri, dan peran sosial. Yang berarti pembelajaran P5 yaitu pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Salah satu program yang diterapkan dalam P5 yaitu pendaurulangan sampah. Tempat pembuangan sampah di sekolah  dibedakan menjadi 3 jenis untuk mempermudah siswa-siswi belajar dalam pengolahan sampah. Sampah tersebut dibedakan berdasarkan, sampah basah (sisa makanan) sampah kertas dan sampah plastik.

*Mahasiswa Unhasy Jombang.

 

SebelumnyaNasihat untuk Perempuan, Meski Haid Tetap Produktif di Bulan Ramadan
BerikutnyaIstiqomah dan Belajar Mengakui Kesalahan