
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering kali lalai untuk dipertanyakan; untuk apa ilmu kita dapatkan? Di zaman sekarang ini pertanyaan seperti itu seperti tenggelam ditelan oleh popularitas yang minim dari kebermanfaatan. Sebab, tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang berpendidikan tinggi, berwawasan luas dan memiliki kecerdasan intelektualnya tanpa batas tetapi tidak bisa mengatasi permasalahan yang nyata ketika berhadapan masyarakat.
Kita memandang pendidikan dengan tolok ukur angka, peringkat, dan gelar. Dan ini lah yang menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial terjadi. Sukses secara akademik itu dipahami sebagai tiket menuju status sosial dan ekonomi yang lebih baik. Memang itu benar, yang salah adalah ketika ilmu yang kita miliki hanya diperuntukkan sebagai alat menikkan posisi jabatan yang membuat kita lupa dan rakus akan jabatan tersebut bukan sarana memberi manfaat. Akibatnya, ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru menciptakan jarak dengan realitas. Maka dari sinilah lahir intelektual yang nyaman di “menara gading” tinggi secara keilmuan tetapi jauh dari kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Makna Ilmu yang Sesungguhnya
Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat data kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih menjadi tantangan yang serius meskipun jumlah penduduak yang berkependidiakan terus bertambah. Hal ini menunjukkan bahwasanya persoalan sosial tidak cukup ditangani hanya dengan meningkatnya Pendidikan. Data ini juga memberikan arti bahwa pendidikan formal saja tidak akan cukup jika tidak diimbangi dengan kesadaraan dan kepekaan sosial.
Rasulullah ﷺ juga pernah berdoa; “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim).
Hadis ini menjadi tamparan bagi siapapun yang bangga dengan ilmunya, tetapi lupa bertanya: siapa yang benar-benar terbantu oleh ilmunya itu?
Mirisnya, di era modern ini ilmu seakan hanya dijadikan alat pembenaran. Ada yang menggunakan dalih akademik untuk menutup mata dari ketidakadilan, ada pula yang memilih diam dengan alasan netral dan objektif. Padahal, dalam situasi ketimpangan, sikap diam sering kali bukan netral, melainkan ikut melanggengkan masalah.
Ketika bencana terjadi, ketika rakyat kecil kesulitan mengakses pendidikan atau pekerjaan, suara kaum terpelajar seharusnya hadir sebagai pendukun dan penyeimbang. Namun yang sering terdengar justru sunyi. Banyak kaum intelektual lebih nyaman berbicara di ruang yang aman, ditamabh dengan kursi empuk jabatan, ketimbang terjun langsung menyentuh persoalan yang berisiko dan tidak mengandung unsur popularitas.
Baca Juga: Menghidupkan Kembali Golden Age Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Refleksi ini bukan hanya ajakan untuk meremehkan ilmu, apalagi anti-intelektual. Justru sebaliknya, ini ajakan untuk mengembalikan ruh ilmu itu sendiri. Ilmu seharusnya mendekatkan manusia dengan sesamanya, bukan menjauhkannya sehingga menjadikan terciptanya tingkatan sosial yang beda kasta. Pendidikan idealnya tidak hanya mencetak orang pintar, tetapi juga melahirkan manusia yang punya empati dan keberanian moral.
Sebenarnya, bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas. Yang masih kita butuhkan adalah orang-orang berilmu yang mau peduli dan memiliki kepekaan sosial. Intelektual yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga bersedia mendengar, dan memebrikan Solusi atas persoalan yang terjadi. Yang tidak sekadar memahami teori, tetapi juga peka terhadap luka-luka sosial di sekitarnya. Sebab, ilmu yang tidak menyentuh nurani, pada akhirnya hanya akan menjadi kebanggaan kosong, tinggi, tetapi hampa.
Ilmu sejati bukan yang membuat seseorang merasa lebih hebat, melainkan yang mendorongnya untuk memberi manfaat bagi sesama. Sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, dan ad-Daruqutni, serta dihasankan oleh al-Albani)
Baca Juga: Adab dalam Menuntut Ilmu, Harmoni Tradisi Pesantren dan Neurosains Modern
Maka pada akhirnya, ilmu bukan tentang soal seberapa tinggi gelar yang yang tersemat di nama kita, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita bagikan melalui ilmu tersebut.. Ilmu yang baik dan bermanfaat tidak berhenti di ruang kelas atau pada lembar-lembar jurnal, melainkan ilmu hadir di tengah kehidupan, menyapa masalah, memberikan Solusi dan berpihak pada kemanusiaan. Jika ilmu hanya membuat kita merasa lebih unggul, sementara hati Nurani kita tetap memilih diam melihat ketimpangan, maka ada yang perlu dibenahi dalam cara kita belajar dan mengajar. Sebab, ilmu sejati selalu punya satu ciri: ia membuat pemiliknya lebih peduli, bukan hanya sekadar lebih pintar.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















