
Tanggal tujuh belas Ramadan di pondok Kiai Mimbar selalu datang dengan bunyi-bunyi yang berlebihan. Bukan hanya suara bedug atau pengeras suara masjid yang memekik lebih lama dari biasanya, melainkan juga bunyi panci, denting sendok, dan percakapan yang bertumpuk-tumpuk seperti niat baik yang saling berdesakan.
Nuzulul Quran di pondok itu bukan peristiwa sunyi. Ia adalah pesta iman yang menjelma pasar rakyat. Semua hidangan keluar dari dapur, dari yang bernama Arab sampai yang sangat Jawa: sayur opor bersisian dengan sayur lodeh, kurma berdampingan dengan kerupuk udang. Santri dan masyarakat diundang tanpa sekat. Siapa pun boleh datang, asal membawa perut dan doa.
Alip, santri senior yang sudah bertahun-tahun menjadi lurah pondok, tancap gas sejak sore. Ia mondar-mandir seperti komandan logistik: memastikan tikar cukup, gelas tak kurang, dan tamu tak pulang dengan kecewa. Wajahnya cerah, langkahnya sigap, meski sesekali tangannya tak kuasa menolak piring yang disodorkan ibu-ibu kampung.
Menjelang Isya, perut Alip sudah terasa penuh, tapi hatinya bangga. Inilah kerja khidmah, katanya pada diri sendiri. Melayani umat juga ibadah.
Namun selepas Isya, ketika jamaah mulai berdiri rapat untuk tarawih, Alip justru menyelinap ke serambi samping. Ia duduk bersandar, menutup mata sebentar. Udara malam terasa hangat dan berat, seperti selimut tak kasatmata.
Di situlah Ikin menemukannya.
“Kang, kok mboten tarawih?” tanya Ikin polos.
Ikin adalah santri junior dengan wajah yang selalu tampak belum selesai tumbuh dewasa. Matanya bulat dan jujur, sejujur pertanyaannya. Alip terperanjat. Malu bukan main. Ia ini santri senior, panutan, yang hampir setiap malam mengajak santri-santri muda tarawih sambil menerangkan keutamaannya: pahala, ketenangan, dan jejak para salihin.
Alip mengelus perutnya pelan. Menarik napas. Lalu berkata dengan nada yang ia usahakan terdengar bijaksana.
“Tarawih itu kan hanya sunnah, Kin,” katanya. “Saya tidak tarawih karena ngeling-ngeling yen iku sunnah. Yang wajib itu shalat Isya.”
Ia mengangguk pelan, seolah kalimat itu adalah dalil yang sudah lama dihafalnya. Ikin mengernyit, berusaha mencerna.
“Nggoten nggih, Kang?”
Alip tersenyum tipis. Ia menepuk bahu Ikin dengan gaya seorang kakak yang merasa telah sampai pada puncak pemahaman.
“Nanti kamu juga akan paham,” katanya. “Jika ilmunya sudah cukup.”
Dari kejauhan, Kiai Mimbar yang sedari tadi duduk di kursi kayu, menyaksikan semua itu. Ia tidak menegur. Hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala, seperti seseorang yang membaca catatan kaki kehidupan.
Malam berjalan. Pondok kembali sunyi setelah tamu pulang. Di kamar santri, lampu-lampu diredupkan. Alip merebahkan tubuhnya. Belum lama terpejam, suara kecil kembali membangunkannya.
“Kang, ngaji, Kang!”
Alip membuka mata dengan sedikit jengkel. “Alip… aku ki jane yo wis ngaji,” katanya lirih tapi tegas, “ngaji sing ra ono ning kitab.”
Ikin berdiri kaku di samping tempat tidur. “Nggoten nggih, Kang?”
Seperti sebelumnya, Alip mengulang kalimat yang sama, lengkap dengan anggukan dan tepukan bahu.
“Nanti kamu juga akan paham, jika ilmunya sudah cukup.”
Ikin pergi dengan langkah ragu.
Waktu bergerak cepat menuju dini hari. Pukul empat lewat tiga puluh. Udara pondok basah oleh embun dan sisa kantuk. Ikin kembali mengguncang bahu Alip.
“Kang, bangun.”
Alip mengucek mata, bangkit setengah sadar, lalu berjalan ke dapur. Api kompor sudah padam. Panci-panci kosong. Ia menoleh ke jam dinding.
“Kang, niki pun Subuh,” kata Ikin polos.
Alip tersentak. “Lho, kok kamu nggak bangunin aku sahur, Lip?”
Ikin menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang sama ketika bertanya tentang tarawih.
“Sahur kan sunnah, Kang,” katanya. “Kulo kinten Kang Alip sengaja gak sahur, ngeling-ngeling menawi niku sunnah. Yang wajib shalat Subuh.”
Kalimat itu jatuh tepat di dada Alip. Ia terdiam. Menelan ludah. Mengelus perut yang kini terasa kosong dan berat sekaligus.
“Lebih berat nih puasa hari ini,” gumamnya.
“Nanti kamu juga akan paham,” kata Kiai Mimbar pelan, “jika ilmunya sudah cukup.”
Sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. Hangat. Mantap. Alip menoleh. Kiai Mimbar berdiri di sana, dengan senyum yang tak pernah menghakimi.
Alip menunduk. Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa berbeda. Tidak lagi ringan. Tidak lagi mudah. Seperti ayat yang baru turun, tanpa pesta, tanpa hidangan—langsung ke hati.
Di luar, azan Subuh berkumandang. Pondok terjaga. Dan Alip, santri senior itu, belajar satu hal yang tak tertulis di kitab mana pun: bahwa memahami sunnah tanpa adab bisa membuat yang ringan menjadi berat, dan yang bijaksana berubah menjadi cermin.
Ia melangkah ke masjid dengan perut kosong berharap magrib datang lebih cepat.
Penulis: M. Afin Masrija


















