Hukum Mengambil Foto dan Artikel di Internet

Ilustarasi Hak Cipta (Sumber 4.bp.blogspot.com)
Ilustarasi Hak Cipta (Sumber 4.bp.blogspot.com)

Oleh: Ustadz Zaenal Karomi*

Assalamu’alaikum. Begini, Mas. Sekarang banyak di internet menyediakan foto-foto  ‘ulama dan artikel. Seumpama kita copy dan download itu harus izin sama pemilik blog-nya atau tidak? Atau harus menyebutkan sumbernya? Selain itu, kita mengambil tanpa menyertakan sumbernya apa itu termasuk dalam masalah gasab?

Romi, Pekalongan

Jawaban

Wa’alaikumsalam Wr Wb Mas Romi yang saya hormati. Ada foto-foto atau artikel yang memang mempunyai hak cipta, sehingga tidak boleh di-copy tanpa izin (biasanya foto atau artikel tersebut di-lock). Maka mengambilnya bisa dianggap pencurian karya atau mengambil karya tanpa izin. Beda dengan yang tidak punya hak cipta sehingga boleh dicopy oleh siapapun, dengan pertimbangan tidak merugikan pemilik/penulis tersebut. Maka sebaiknya berahati-hati dalam mengambil artikel atau foto, bisa jadi disitu memiliki Hak Cipta. Paling tidak, cantumkan sumber secara tepat dan benar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Argumentasi Para Ulama’ tentang Gasab.

Dijelaskan dalam kitab al-Fikih al-Islami wa Adilatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah juz 6 halaman 553-556. Beliau menerangkan pengertian gasab menurut golongan para ‘ulama.

 

الفقه الإسلامي وأدلته 6/ 556-553

الغصب لغة: أخذ الشيء ظلماً، أو قهراً جهاراً.

عند الحنفية: الغصب هو أخذ مال متقوم محترم بغير إذن المالك، على وجه يزيل يده.

وعرف الشافعية والحنابلة: الغصب بأنه: الإستيلاء على حق الغير (من مال أو اختصاص) عدواناً، أي على وجه التعدي أو القهر بغير حق. وهذا التعريف يشمل أخذ الأموال المتقومة والمنافع وسائر الاختصاصات كحق التحجر (أي إحياء الأرض الموات بوضع الأحجار على حدودها)، والأموال غير المتقومة كخمر الذمي، وما ليس بمال، كالكلب والسرجين وجلد الميتة، وأما أخذ مال الحربي فهو أخذ بحق.

Menurut ‘ulama Hanafiyyah, gasab adalah mengambil sesuatu dengan cara menganiaya (semena-mena), atau qohran (mamaksa, menundukkan, dan mengalahkan) secara terang-terangan. Sedangkan menurut ‘ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah, bahwa gasab adalah menguasai hak milik orang lain secara memusuhi, artian mengambilnya dengan cara menganiaya atau menyerang untuk menguasai barang yang dimiliki orang lain.

Pengertian tersebut mencakup sesuatu yang diambil baik berupa harta-harta yang bernilai, memberikan manfaat, dan barang-barang yang dikhususkan, seperti permasalahan ihyaul mawat (bumi/tanah yang tidak ada pemiliknya, dan belum ada seorang pun yang mengambil kemanfaatan bumi tersebut, kemudian seseorang menghidupkannya dengan cara meletakkan bebarapa batu sesuai dengan batasan/ketentuan). Selain itu, juga masuk pada harta-harta yang tidak bernilai seperti khamr milik kafir dzimmi, dan sesuatu yang tidak termasuk harta seperti anjing, sirjin (adonan roti) dan kulit dari batang binatang.

Argumentasi ‘Ulama Mengenai Hak Cipta.

الفقه الإسلامي وأدلته 4/386

:حق التأليف والنشر والتوزيع

أ – أما حق المؤلف الذي يدخل تحت عنوان قانوني جديد وهو الحق الأدبي فهو حق مصون في تقديري شرعاً على أساس قاعدة الاستصلاح أو المصلحة المرسلة ( وهي الأوصاف التي تلائم تصرفات الشرع ومقاصده، ولكن لم يشهد لها دليل معين من الشرع بالاعتبار أو الإلغاء، ويحصل من ربط الحكم بها جلب مصلحة أو دفع مفسدة عن الناس ) فكل عمل فيه مصلحة غالبة أو دفع ضرر أو مفسدة يكون مطلوباً شرعاً.

والمؤلف قد بذل جهداً كبيراً في إعداد مؤلْفه، فيكون أحق الناس به، سواء فيما يمثل الجانب المادي: وهوالفائدة المادية التي يستفيدها من عمله، أو الجانب المعنوي: وهو نسبة العمل إليه. ويظل هذا الحق خالصاً دائماً له، ثم لورثته لقول النبي صلّى الله عليه وسلم فيما رواه البخاري وغيره: « من ترك مالاً أو حقاً فلورثته » . وبناء عليه يعتبر إعادة طبع الكتاب أو تصويره اعتداء على حق المؤلف، أي أنه معصية موجبة للإثم شرعاً، وسرقة موجبة لضمان حق المؤلف في مصادرة النسخ المطبوعة عدواناً وظلماً، وتعويضه عن الضرر الأدبي الذي أصابه. وذلك سواء كتب على النسخ المطبوعة عبارة: ( حق التأليف محفوظ للمؤلف ) أم لا، لأن العرف والقانون السائد اعتبر هذا الحق من جملة الحقوق الشخصية، والمنافع تعد من الأموال المتقوّمة في رأي جمهور الفقهاء غير الحنفية، لأن الأشياء أو الأعيان تقصد لمنافعها لا لذواتها، والغرض الأظهر من جميع الأموال هو منفعتها كما قال شيخ الإسلام عز الدين بن عبد السلام.

🤔  Hukum Shalat Kafarat & Perbedaannya dengan Shalat Qada

بل إن متأخري الحنفية أفتوا بضمان منافع المغصوب في ثلاثة أشياء: المال الموقوف، ومال اليتيم، والمال المُعَدّ للاستغلال

والمؤلف حينما يطبع كتابه يقصد به أمرين: نشر العلم، واستثمار مؤلفه. ويكون لكل طبعة من طبعات الكتاب حق خاص للمؤلف

Menurut Syaikh Wahbah Zuhaily, adapun hak cipta tergolong pada peraturan yang baru. Hukum hak cipta didasari dengan pengaplikasian metode maslahatul mursalah atau istislah. Tidak ada suatu dalil tertentu dari syara’ yang menerangkan adanya hukum hak cipta atau tidak. Jadi, dalam hukum hak cipta tersebut mengandung kemaslahatan dan menghindari kerusakan/kemadharatan bagi manusia. Setiap sesuatu yang dalamnya terdapat kemaslahatan yang universal dan menolak kemadharatan, maka termasuk yang dikehendaki oleh syari’at.

Seorang pengarang mengerahkan seluruh kemampuan dalam mempersiapkan karangannya. Ada dua hal yang dilihat disini, dari sisi materi dan sisi moril. Sisi materi adalah, hasil karya tersebut memiliki hasil materi yang bisa dinikmati oleh pengarang atau dapat ia manfaatkan, sedangkan sisi moril adalah kelanjutan dari karya tersebut yang bisa dinikmati oleh orang lain, dan kemudian diwariskan.

Untuk itu, nilai keberlanjutan itu, misalkan dicetak berkali-kali dan digandakan tanpa izin pengarang, maka itu termasuk kemaksiatan dan termasuk tindakan dzalim dan bentuk permusuhan. Karya tersebut baik berupa naskah yang tercetak atau tidak.

الفتاوى الفقهية الكبرى 4/ 116

 وَسُئِلَ بِمَا لَفْظُهُ هل جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا من كل شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ الذي دَلَّ عليه كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ في ذلك وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ على ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ له بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ من مَالِهِ جَازَ له أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ وَإِلَّا فَلَا.

Ibarat dari kitab al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro juz 4 halaman 116, pengarang Syaikh Ibnu Hajar al-Haitamai menuturkan bahwa apakah diperbolehkan mengambil segala sesuatu dengan mengetahui bahwa pemiliknya itu meridhoinya atau sesuatu yang ditentukan, dengan membandingkannya dengan konteks suguhan makanan tamu. Maka beliau menjawab bahwa para ‘ulama menjelaskan, sesungguhnya kuatnya prasangka itu seperti mengetahui keridhoan pemilik untuk mempersilahkan mengambil sesuatu yang ditentukan. Maka bagi seseorang tersebut diperbolehkan untuk mengambilnya. Berbeda dengan apabila  prasangka orang itu tampak berbeda dengan pemiliknya, maka wajib untuk menanggung (menggantinya).


*Penggerak Bahtsul Masa’il di Pesantren Tebuireng