Hujan di Halte Sekolah

81
Seorang anak laki-laki dan seorang bapak di halte sekolah (ilustrasi: ai/ra)

Awan di langit siang itu benar-benar mendung, seperti perasaan Zahmid yang akhir-akhir ini kerap dihantui sesal. Di bawah rintik gerimis yang mulai jatuh, ia duduk di halte tua dekat sekolah dasar negeri di pinggir kota. Jaket lusuhnya basah di bahu, topinya menutupi wajah lelah yang diwarnai guratan dosa masa lalu.

Zahmid pernah menjadi pencuri. Bukan karena ia kejam sejak awal, tapi karena keputusasaan yang menjerumuskannya. Tiga tahun lalu, anak semata wayangnya, Naufal, meninggal ditabrak lari ketika ia sedang bekerja malam di pelabuhan. Dunia runtuh sejak hari itu. Istrinya meninggalkannya, dan dalam mabuk kesedihan, ia mulai bergabung dengan sekelompok penjahat kecil yang hidup dari mencuri dan merampas.

Suatu hari, ia ikut menculik anak orang kaya demi tebusan. Tapi sebelum rencana selesai, polisi datang, kelompoknya bubar, dan sejak itu ia hidup sembunyi, dihantui wajah anak itu dan wajah Naufal yang seolah memandangnya dari balik kegelapan.

Kini, setelah bertahun-tahun bersembunyi, ia mencoba bekerja serabutan, menjaga parkir, mengangkat barang, apa saja. Tapi rasa bersalah itu tak kunjung pergi.

“Pak, boleh duduk di sini?”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Suara kecil itu memecah lamunannya.

Zahmid menoleh. Seorang anak laki-laki berdiri di depannya, seragam putih-biru basah di ujung lengan, tas berat di punggungnya. Wajahnya bulat, matanya teduh. Anak itu tersenyum sopan.

“Boleh, Nak. Silakan,” jawab Zahmid pelan.

Anak itu duduk di sebelahnya, menyandarkan tas. Gerimis mulai rapat, dan tak lama, hujan turun deras membasahi jalan. Suara mobil bercampur dengan gemericik air dari atap halte.

“Mau dijemput?” tanya Zahmid basa-basi.

Anak itu mengangguk. “Iya, biasanya ayah jemput. Tapi sekarang ayah nggak bisa.”

“Kenapa?”

Anak itu menunduk sebentar. “Ayah di penjara, Pak.”

Zahmid terdiam. Matanya refleks menatap anak itu, menelusuri nada getir dalam suaranya.

“Dia di penjara karena… mencuri,” lanjut anak itu lirih. “Tapi aku tahu, ayah nggak jahat. Katanya dia cuma pengin aku bisa lanjut sekolah. Waktu itu Ibu sakit, dan… ya, ayah salah jalan.”

Anak itu tersenyum getir, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku kangen ayah, Pak. Aku pengin bilang kalau aku nggak marah.”

Hujan mengguyur makin deras, menutupi suara dunia. Zahmid menatap bocah itu lama. Ada sesuatu yang menghantam dadanya, tajam, pelan, dan dalam. Wajah anak itu, mata teduhnya, bahkan caranya menunduk, semuanya mirip Naufal.

“Namamu siapa, Nak?” tanya Zahmid pelan.

“Zainal Ahmad, Pak…”

Ahmad. Nama belakang itu membuat tenggorokannya tercekat.

“Zainal… kalau boleh tahu, kamu masih suka ketemu ayahmu?”

Zainal menggeleng. “Belum, Pak. Ibu bilang nanti kalau aku udah siap. Tapi aku sering kirim surat lewat Pak Satpam di lapas. Ayah kadang balas, tulisannya miring-miring. Tapi aku seneng banget kalau nerima suratnya.”

Zahmid menunduk. Jemarinya gemetar di atas lutut. Ia pernah menulis surat juga, pada anaknya yang tak sempat membacanya. Surat-surat yang kini tersimpan di bawah bantal rumah kontrakan reyotnya. Surat tentang penyesalan, tentang cinta yang datang terlambat.

Hujan belum reda. Halte itu menjadi ruang kecil yang mengandung dua masa lalu, seorang lelaki yang kehilangan arah, dan seorang anak yang masih menunggu ayahnya pulang.

“Pak, Bapak kerja di mana?” tanya Zainal tiba-tiba.

“Serabutan. Kadang jaga parkir, kadang bantu angkut barang di pasar,” jawab Zahmid, suaranya serak.

Zainal mengangguk polos. “Bapak capek ya?”

Zahmid tersenyum samar. “Iya, Nak. Tapi capek itu lebih enak daripada nyesel.”

“Kenapa nyesel, Pak?”

Pertanyaan itu menampar hatinya. Zahmid menatap keluar halte, ke arah genangan air yang memantulkan lampu kendaraan. “Karena dulu Bapak pernah ngelakuin hal bodoh. Ngerugiin orang lain. Dan… kehilangan sesuatu yang nggak bakal balik lagi.”

Zainal diam, tapi matanya memandang dengan empati yang jarang dimiliki anak seusianya. “Ayahku juga bilang gitu, Pak. Katanya, ‘Zainal, jangan ulangin kesalahan Ayah, ya.’ Aku janji waktu itu. Aku mau jadi orang baik.”

Zahmid menunduk lebih dalam. Hatinya bergetar. Anak kecil ini, yang hidup tanpa ayah di sisi, justru lebih tabah dari dirinya.

Menjelang sore, hujan masih belum juga berhenti. Zainal mulai menggigil. Tanpa banyak pikir, Zahmid melepaskan jaket lusuhnya dan menyelimutkan ke bahu bocah itu.

“Pak, nanti Bapak kedinginan,” ucap Zainal cemas.

“Bapak udah biasa, Nak.”

Zainal menatapnya, bibirnya bergetar tapi tersenyum. “Bapak baik, ya. Kayak ayah.”

Kalimat itu menghantam dada Zahmid seperti palu. Ia menahan napas, mencoba tidak menunjukkan air mata yang mulai menggenang.

“Zainal…” suaranya parau, “kalau kamu nanti ketemu ayahmu, bilang ya… kalau ada orang yang iri sama dia. Karena dia masih punya anak sebaik kamu.”

Anak itu hanya mengangguk pelan, lalu menatap hujan lagi.

Waktu berlalu. Mobil jemputan sekolah akhirnya datang, terlambat hampir satu jam. Zainal bergegas berdiri, tapi sebelum naik, ia menoleh.

“Pak, makasih ya udah nemenin aku.”

Zahmid tersenyum kaku. “Sama-sama, Nak. Hati-hati di jalan.”

Mobil melaju perlahan, meninggalkan genangan air yang berkilau di bawah sinar lampu sore. Zahmid berdiri di pinggir jalan, memandangi punggung kecil itu menjauh. Ada rasa hangat aneh di dadanya, perih tapi juga lega.

Di tengah hujan yang mulai reda, Zahmid menengadah. Air hujan bercampur dengan air matanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya setelah sekian lama, ia berdoa.

“Ya Allah… ampuni aku. Aku ingin pulang. Aku ingin berhenti jadi orang yang kotor.”

Ia menatap ke arah sekolah di seberang jalan. Anak-anak berlarian, tertawa, membawa masa depan yang belum ternoda. Zahmid menarik napas panjang, lalu melangkah pergi, meninggalkan halte tua itu, tempat di mana hujan, penyesalan, dan secercah harapan bertemu.

Di dalam sakunya, ia menemukan secarik kertas kecil. Rupanya Zainal meninggalkannya tanpa sengaja. Di sana tertulis dengan tulisan tangan miring:

“Untuk Ayah, jangan sedih. Aku tunggu Ayah pulang. Dari Zainal.”

Zahmid menggenggam kertas itu erat. Langit sore membuka sedikit celah, memperlihatkan warna jingga yang lembut di antara awan.

Ia tersenyum untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Mungkin, pikirnya, Tuhan baru saja mengirimkan Naufal dalam wujud lain, untuk membimbingnya pulang.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary