Foto Dewi Yukha Nida usai menerima penghargaan. (sumber foto: taslia)

Tebuireng.online—Dalam sebuah ruangan, sosok perempuan berdiri memegang buket bunga dan papan penghargaan. Dengan mengenakan jilbab ungu dan baju gamis hitam dengan kombinasi warna yang sepadan dengan warna jilbabnya, senyumnya merekah saat menerima penghargaan yang didapatkannya setelah mengikuti lomba MTQ Internasional, sosok perempuan itu adalah Dewi Yukha Nida, alumni Pesantren Walisongo Cukir Jombang.

Hafidzah asal Trenggalek, Jawa Timur ini meraih juara 1 lomba musabaqoh Tilawatil Qur’an yang diikuti hafidz dan hafidzah dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berlangsung selama 3 hari, yaitu 17-20 Mei 2022 di Kazan, Republik Tatarsatan, Rusia.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan senang sekali. Ini memang bukan pertama kalinya saya mengikuti lomba MTQ Internasional, namun MTQ di Kazan yang diikuti para hafidzah dari Negara OKI ini merupakan ajang tertinggi yang berhasil saya menangkan,” ucapnya dikutip dari siaran pers KBRI Moskwa.

Perempuan yang kerap dipanggil Neng Nida atau Ustadzah Nida ini merupakan pemilik Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Trenggalek Jawa Timur.

Dalam keterangannya, alumnus MA Perguruan Muallimat dan Unhasy Tebuireng itu berhasil menorehkan perolehan nilai tertinggi dari masing-masing dewan juri yang mengujinya, hingga melampaui nilai para hafidzah yang menempati posisi kedua dan ketiga yang berasal dari Inggris dan Palestina. Dan ternyata kedua hafidzah yang menempati posisi kedua dan ketiga itu pernah bertemu sebelumnya dengan Nida pada MTQ Dubai tahun 2019 silam.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan oleh tim media sosial PP Bahrul Ulum Kedung, Ustadzah Nida sangat bersyukur kepada Allah dan juga para guru. Ia berpesan untuk para santri dan pencinta Al Qur’an untuk selalu membuat hati guru bahagia, sehingga segala perjuangan akan mendapatkan kemudahan.

Perepro: Wan Nurlaila

SebelumnyaDREAMSEA Buka Akses Digital Manuskrip Pesantren Tebuireng
BerikutnyaKetika Dua Ulama Besar Berbeda Pandangan Soal Kentongan