Jurnalis tebuireng online saat wawancara bersama pihak Dreamsea di lokasi, Ahad (22/5).

Tebuireng.online– Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) berkunjung ke Pesantren Tebuireng dalam rangka repositori manuskrip-manuskrip yang ada di sana. Dreamsea adalah lembaga pemberkasan manuskrip, khususnya di Asia Tenggara. Sejauh ini Dreamsea sudah merepositori 887 manuskrip yang ada di banyak kota, salah satunya di Pesantren Tebuireng, Ahad (22/5/2022).

Tebuireng sendiri punya beberapa manuskrip yang tersimpan di Perpustakan Tebuireng. Laporan awal terdapat 15 manuskrip.

“Ada macam-macam. Mulai jenis tulisan Arab, Jawa Pegon, aksara Jawa, dan Melayu Pegon,” kata Muhammad Nida Fadlan. Dari bermacam manuskrip itu ditemukan dengan keterangan waktu terlama, 1700-an.

Nida, sebagai Data Manager Dreamsea juga menyampaikan, “menariknya, manuskrip di Tebuireng ini tidak hanya yang menerangkan tentang fikih dan tasawuf. Namun, ada juga mengenai rajah, azimat, dan hal-hal mistik seperti kajian keris.”

suasana proses manuskrip dari tim Dreamsea.

Melalui program repositori Dreamsea ini, diharapkan terbentuk infrastuktur manuskrip digital. Sehingga para pengkaji lebih mudah dalam mengakses manuskrip tanpa harus secara langsung. Apalagi pengkaji kalangan pesantren Indonesia yang punya daya lebih terhadap turats (kitab kuning).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pewarta: Yuniar Indra

SebelumnyaSetelah Kamu Pergi
BerikutnyaHafidzah Alumni Pesantren Walisongo Juara MTQ Internasional di Rusia