Hadiah Ujian Terakhir

30
Ilustrasi anak yang sudah putus asa

Sebentar lagi hasil ujian akan keluar, yang membuat beberapa siswa gelisah dengan hasil kerja keras mereka sendiri. Tetapi tidak dengan Aira, gadis kelas dua SMA yang selalu mendapatkan peringkat satu di kelas.

“Ayah, Bunda, nanti kalau Aira dapat satu lagi, Aira mau handphone baru.”

“Iya sayang, Aira mau dibeliin handphone apa?” tanya Ayah Aldi.

“Iphone,… gapapa kan, Bun?”

“Gapapa sayang, asal nanti belajarnya jangan sampai terganggu ya…”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Iya Bunda, Aira janji bakal tambah semangat dan tambah rajin lagi dari sebelumnya.”

“Yaudah, sekarang kamu tidur. Besok pagi kita bareng-bareng ke sekolah ya.”

Aira segera pergi ke kamarnya dengan hati bahagia. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok. 

Di tempat Aira tadi mengobrol, kini tinggal Ayah Aldi dan Bunda Farah. Mereka berbicara dengan hati-hati, sengaja agar putri sulungnya tidak mendengar.

“Kita coba bertahan dulu ya,” ujar Ayah Aldi.

“Iya, kamu benar. Sekarang kondisi Aira sedang begini.”

“Oke, berarti nanti setelah hasil ujian Aira keluar, sesuai kesepakatan kita kemarin, Aira bakal ikut sama Ayah.”

***

Di dalam mobil reborn itu, Aira tampak bahagia. Ia sudah sangat tidak sabar melihat hasil ujiannya. Selang beberapa menit, akhirnya Aira dan keluarga kecilnya sampai di sekolah.
Aira mengantre bersama Bunda Farah, sedangkan Ayah Aldi memilih menunggu di luar.

Beberapa menit kemudian, terlihat wajah Aira yang sumringah. Benar saja, Aira berhasil mendapatkan peringkat satu di kelasnya. Aira dan Bunda menghampiri Ayah Aldi untuk mengajaknya membeli handphone impiannya.

Saat memasuki toko, Aira tak henti-hentinya memandangi iPhone yang ada di depannya. Aira memilih warna putih yang sudah ia inginkan sejak lama.

Saat makan malam, Aira tidak keluar kamar karena saking bahagianya sampai-sampai ia lupa makan. Alhasil, Bunda harus memanggilnya.

“Aira, ayo makan dulu sayang, nanti lagi mainnya.”

“Iya Bun, bentar lagi. Nanti Aira ke sana.”

Bunda meninggalkan kamar dan menunggu di meja makan.

Tak lama, Aira selesai dan kini ia sudah siap untuk makan.

***

Setelah makan, Aira lari ke kamarnya dengan hati yang hancur dan kecewa. Ia tak pernah menyangka kalau kedua orang tuanya akan bercerai. Padahal setahu Aira, akhir-akhir ini mereka baik-baik saja.

Kini Aira terduduk dengan tatapan kosong dan air mata bercucuran. Beberapa kali ia mendengar bujukan kedua orang tuanya agar keluar kamar, tapi kali ini Aira sangat butuh sendiri.

Ia memandang iPhone yang baru tadi siang ia beli bersama keluarganya. Keluarga yang terlihat baik-baik saja, kini sudah hancur berantakan. Obrolan orang tuanya masih terngiang-ngiang di kepalanya, sampai akhirnya ia tertidur dalam keadaan menangis karena kelelahan.

Pagi harinya, Aira masih belum bisa menerima keadaannya sekarang. Ia tak mau keluar kamar, walau Ayah Aldi sejak tadi berteriak menyuruhnya makan. Aira tak menghiraukannya, karena ia masih tak mampu menerima kenyataan kalau keluarganya harus berpisah.

Malam harinya, Aira makin tak terkendali. Ia berteriak memanggil-manggil nama Bunda, karena sejak pagi ia tak mendengar suaranya. Yang ia dengar hanya ocehan Ayahnya menyuruhnya keluar.

Ayah Aldi yang tahu hal itu mencoba menenangkan putrinya dari balik pintu.

“Aira… udah makan dulu sayang. Kamu belum makan dari tadi, nanti kamu sakit.”

Cklek!

Setelah berjam-jam membujuk, akhirnya Aira mau keluar. Ia langsung memeluk Ayah Aldi dan menanyakan keberadaan Bundanya.

“Ayah… Bunda di mana, Yah? Di mana?” tanya Aira tersedu-sedu.

“Bunda pergi sebentar, sayang. Gapapa, di sini ada Ayah kok,” ucap Ayah Aldi menenangkan.

“Tapi Ayah, kenapa Bunda pergi? Bunda jahat, Bunda tega.”

“Nggak sayang, Bunda nggak jahat. Kamu nggak boleh gitu. Mau gimana pun, dia tetap Bunda kamu. Bunda pasti punya alasan.”

***

Hampir satu tahun berlalu. Kini Aira sudah kelas tiga SMA. Aira yang sekarang bukan lagi Aira yang kita kenal. Aira yang rajin dan pintar sudah berubah.

Sejak perpisahan orang tuanya, Aira menjadi bandel. Ia sering pergi malam, tak pernah belajar, dan mulai nyaman dengan pakaian ketat serta terbuka. Nilai-nilainya menurun, sering terlambat, sering bolos. Singkatnya, Aira menjadi anak yang nakal.

Ayah Aldi sudah tak mampu menasihati hati Aira. Ia merasa gagal mendidik putrinya sendiri.

Tiga hari lagi sekolah Aira akan mengadakan wisuda kelulusan. Namun cobaan kembali datang. Ayah Aldi terkena penyakit liver. Biaya pengobatan sangat mahal, sementara tabungan Ayah Aldi semakin menipis.

Berkali-kali Aira mencoba menghubungi Bundanya, tapi tak ada kabar sama sekali.

Tiga hari kemudian, tepat di hari wisuda Aira, ia harus mengambil ijazah sendirian karena Ayahnya tak bisa ikut.

Pukul 06.00 pagi, Aira berpamitan kepada Ayah Aldi. Ia berangkat mengenakan kebaya putih dan seragam wisuda, dengan wajah yang sudah dirias. Aira merasa iri melihat teman-temannya datang bersama orang tua masing-masing, sedangkan ia sendirian.

Aira duduk di samping ibu temannya.

“Loh, Aira ke sini sendiri?”

“Hehe, iya Bu.”

“Emangnya orang tua kamu ke mana?”

“Orang tua saya sudah lama bercerai. Saya ikut Ayah, tapi beliau sedang sakit.”

“Oh gitu ya… pantesan. Padahal setahu saya kamu itu selalu nomor satu.”

Mendengar ucapan itu, Aira terdiam. Ia teringat perjuangan Ayahnya. Ayah yang sudah berjuang demi dirinya, tapi ia balas dengan kemalasan. Mata Aira memerah, menahan air mata.

***

Usai wisuda, Aira mendapat notifikasi yang membuatnya kaget setengah mati. Ia segera bergegas ke rumah sakit. Kondisi Ayah Aldi memburuk dan harus segera dioperasi. Mau tak mau, Aira mengambil seluruh tabungan Ayahnya yang tersisa.

Setelah tiga jam menunggu, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan raut wajah berat.

“Gimana kondisi Ayah saya, Dok? Ayah saya baik-baik aja kan?” tanya Aira panik.

“Maaf, Kak… kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain.”

Air mata Aira jatuh tak tertahankan. Pipinya basah. Kali ini ia benar-benar hancur. Kini ia tak punya siapa-siapa lagi.

Tujuh hari setelah pemakaman Ayah Aldi, rumah itu terasa semakin asing bagi Aira. Sunyi yang dulu hanya ia rasakan di malam hari, kini menemaninya sepanjang waktu. Tak ada lagi suara ayah yang membangunkannya pagi-pagi, tak ada lagi nasihat yang dulu sering ia abaikan.

Aira mulai mencari pekerjaan. Ia hidup sendiri. Ajakan Bunda Farah untuk tinggal bersamanya ia tolak mentah-mentah. Bukan karena benci, tapi karena hatinya sudah terlalu lelah untuk kembali berharap.

Kini Aira benar-benar sendiri.

Setiap malam, ia sering memandangi iPhone yang dulu ia anggap sebagai hadiah terindah. Benda itu kini terasa berat di tangannya. Hadiah ujian yang ia dapatkan justru menjadi saksi runtuhnya hidupnya perlahan.

Aira menyesal.

Menyesal karena tak menjaga dirinya saat masih ada Ayah.

Menyesal karena menyia-nyiakan waktu, pendidikan, dan cinta yang dulu selalu ia milik Kini, tak ada lagi yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

Dan di antara sepi, Aira akhirnya mengerti tidak semua hadiah datang untuk membahagiakan. Sebagian datang hanya untuk mengajarkan kehilangan.



Penulis: Ali Irsat, Siswa SMK Khoiriyah Hasyim