Gus Kikin Hadiri Kick Off Harlah 1 Abad NU, Tegaskan NU Rumah Besar Umat

77
KH Abdul Hakim Machfudz saat memberi sambutan dalam acara 1 Abad NU di Unisma (sumber: youtube-humasunisma)

Tebuireng.online— Pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Machfudz, menghadiri acara Kick Off Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Universitas Islam Malang (UNISMA), pada Rabu (7/1). Kegiatan tersebut dihadiri ribuan santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus, serta warga Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Dalam sambutannya, KH. Abdul Hakim Machfudz yang akrab disapa Gus Kikin menyampaikan rasa syukur atas usia satu abad Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU telah melewati perjalanan panjang dan kini berada pada fase merawat dan melanjutkan warisan perjuangan para pendiri.

“Hari ini kita tasyakuran satu abad NU. Kita memperingati, menikmati, dan merawatnya,” ujar Gus Kikin.

Baca Juga: Tasyakuran 1 Abad NU di Tebuireng, Kiai Nurul Huda Djazuli: Warga NU Harus Kompak

Mengusung tema “Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, dan Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban”, Gus Kikin menegaskan bahwa NU sejak awal didirikan sebagai rumah besar bersama bagi umat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ketika NU mengadakan acara, jamaah dari berbagai kalangan turut hadir. Inilah keakraban antara umara dan ulama,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang didirikan pada tahun 1926 tidak diperuntukkan bagi kelompok tertentu semata, melainkan untuk seluruh umat Islam di Indonesia.

“NU bukan hanya untuk orang-orang yang memahami Ahlussunnah wal Jamaah secara khusus, tetapi menjadi rumah umat Islam secara keseluruhan,” jelasnya.

Gus Kikin juga mengutip pesan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari saat menyampaikan Qanun Asasi NU, yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung dengan semangat persatuan dan kasih sayang.

“Hadratussyaikh mengajak semua kalangan, mulai dari orang kaya, fakir miskin, orang kuat hingga dhu’afa, untuk masuk ke NU dengan cinta, kasih sayang, persatuan, kerukunan, serta pengabdian lahir dan batin,” ungkapnya.

Baca Juga: KH. Achmad Roziqi Tegaskan Pesantren sebagai Soko Guru Moral Bangsa

Lebih lanjut, Gus Kikin menekankan bahwa NU bukan sekadar organisasi struktural, melainkan jam’iyyah kultural yang hidup di tengah umat.

“Tidak ada organisasi di dunia ini yang arwahnya ikut berkumpul selain NU. Maksudnya, NU mengajarkan kita untuk menghadirkan hati. Jika hati dihadirkan, maka perselisihan tidak akan terjadi,” tuturnya.

Selain itu, Gus Kikin membahas kepengurusan NU yang bukan hanya kepemimpinan struktural yang mengurus  tetapi secara kultural atau seluruh jam’iyyah NU. Pengurus NU itu hanya mendampingi umat Islam terutama dahulu saat pada masa kemerdekaan berjumlah 95% dari penduduk Indonesia.

“Kita perlu kembali mengingat keikhlasan para ulama saat mendirikan NU. Bahkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pernah berdoa, barang siapa yang mengurusi NU, maka akan didoakan keluarganya husnul khatimah,” tambahnya.

Menurut Gus Kikin, NU merupakan organisasi wasathiyah yang fokus pada pendampingan umat agar mampu menjalankan perintah dan larangan agama dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah, dengan tujuan akhir meraih husnul khatimah.

Baca Juga: Prof. Maskuri Bakri Ungkap Misi Strategis dan Rangkaian Acara Harlah 1 Abad NU

Menutup sambutannya, Gus Kikin mengajak seluruh jamaah untuk terus bersemangat dan ikhlas dalam berkhidmat di NU. Ia menegaskan bahwa meskipun NU berakar kuat pada tradisi, NU tetap harus adaptif terhadap perkembangan zaman dan modernisasi.

“NU memang berbasis tradisi, tetapi tidak boleh tertinggal oleh zaman. Seperti dawuh Hadratussyaikh dalam Qanun Asasi, yadullahi ‘alal jama’ah, tangan Allah bersama jamaah. Dengan itu, kita berharap senantiasa mendapat ridha dan bimbingan Allah menuju masa depan yang penuh keberkahan,” pungkasnya.



Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary