sumber gambar: http://www.nu.or.id

Oleh: Rifatuz Zuhro*

Sejak dua tahun terakhir pada pemerintahan Presiden Ir. Joko Widodo tepat tanggal 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional. Penetapan tanggal tersebut dinisbatkan pada fatwa resolusi jihad yang digemakan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari kepada seluruh umat Islam, khususnya para santri bahwa membela negara adalah jihad fi sabilillah, jihad melawan penjajah.

Bisa jadi hal itu (resolusi jihad) hadir karena pergulatan umat muslim saat merumuskan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI, PPKI) yang kala itu diwarnai hujan argumentasi untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam, atau Negara Demokrasi berbentuk Republik. Sehingga saat suasan genting pasca memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia, Soekarno mempertanyakan konsistensi ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Jihad dalam konteks kekinian tidak bisa diartikan seperti jihad mengangkat senjata, jihad dengan tembakan, atau jihad dengan peperangan, namun jihad saat ini selayaknya diartikan membebaskan bangsa ini dari ketertinggalannya, membrantas kebodohan, dan memupuk rasa nasionalis sejak dini.

Kini ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional seolah-olah sebagai angin segar dalam dunia Santri dan Pesantren, agar tidak sekedar hanyut bereuforia. Kali ini penulis ingin sedikit mengulas soal pengertian santri tempo lampau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Secara semantik, santri menurut Nurcholis Majid, dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa santri berasal dari perkataan sastri, sebuah kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholis Majid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa arab.

Disisi lain, Zamakhsyari Dhoefir berpendapat, kata santri dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau sarjana ahli kitab suci agama Hindu atau secara umum dapat diartikan buku-buku tentang Ilmu pengetahuan.

Jika santri mempunyai hubungan yang sangat intens dengan dunia literasi, karena santri dalam bahasa sansekerta artinya melek huruf, maka sudah seharusnya santri pada era sekarang merefleksi kembali peran santri dalam dunia kepenulisan. Semisal, tokoh-tokoh pendiri NU bisa dikenal oleh seluruh masyarakat Nusantara ialah melalui tulisan, tidaklah mungkin sebuah ilmu akan abadi, jika tidak akan diikat dengan tulisan. Begitupun, dengan menulis santri dapat mencurahkan segala usaha akal dan pikiran dalam menanggapi persoalan-persoalan di lingkungannya, meskipun secara fisik ia terpenjara dalam lingkup pesantren.

Tidak jarang, dengan tulisannya para Kiai terdahulu bisa membikin gemetar kolonial Belanda dengan tulisan-tulisan yang menyuarakan rasa nasionalisme kepada masyarakat, sehingga dengan selembar tulisan, masyarakat dapat bersatu karena mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu merdeka di bumi pertiwi.

Budaya literasi dalam perkembangan zamannya memang telah terkikis dalam dunia pesantren yang diganti dengan budaya membaca dan mendengarkan. Perubahan kondisi, bisa jadi menjadikan kaum santri saat ini tidak belajar literasi, karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Pergeseran pola pikir jika tugas santri hanya tholabul ilmi bukan membangun negeri, membuat santri terninabobokkan dengan sistem pembelajaran yang terkesan normatif.

Dahulu dan sekarang situasi dan kondisi santri sangatlah berbeda, dengan segala keterbatasan kaum santri mampu menunjukkan eksistensinya dan berkontribusi nyata bagi agama dan bangsa, bukan hanya sekedar kaum tradisional yang hanya meneruskan tradisi-tradisi, amaliah-amaliah yang baik, melainkan peka terhadap realitas sosial yang terkapar nyata.

Jika santri adalah aset bangsa dan agama, seluruh pihak semestinya memberikan ruang dan dorongan yang selama ini tertutup dengan stigma santri hanya belajar ilmun agama, santri hanya berperan sebagai kaum subordinasi atau masyarakat level dua. Jika banyak yang membincang soal pendidikan karakter, dalam sistem pesantren adalah jawaban yang paling tepat, jika dalam dunia pesantren juga terdapat pipa-pipa panjang yang dapat menyalurkan  bakat dari soft skill para santri.

Sang kiai, Hadratussyaikh Hasyim Asyari tidak akan mengeluarkan fatwa fardhu ain dalam membela negara, jika dalam keluasan khazanah keilmuannya ia tidak menyeimbangkan antara ilmu agama dan ilmu sosial, bahwa kepekaan terhadap realitas sosial itu juga bentuk keberadaan Tuhan hadir dalam diri santri.

Santri Berpeluang Memimpin Negeri

Dunia pesantren sangatlah tepat sebagai tempat kaderisasi untuk regenerasi calon pemimpin masa depan, jika dahulu dunia pemerintahan dibanjiri dengan tokoh-tokoh ulama Nasionalis yang luas kedalaman ilmunya, maka saat ini pun juga mesti demikian, pasalnya konsep pendidikan pesantren, konsep pendidikan Islam di nusantara, adalah produk lokal yang sudah terbukti menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa, contoh saja KH Wahid Hasyim yang menjebol pos sebagai Menteri Agama pertama Indonesia, dan Gus Dur menjadi Presiden RI yang hingga kini tetap dirindukan banyak masyarakat.

Rasa inverior kalangan tradisional, dirasa menjadi satu hal khusus yang menjadikan santri untuk ditata, dibentuk, dicetak menjadi muslim yang unggul menurut mereka. Seperti katak dalam tempurung, jika tanpa melihat realitas sekarang santri hanya akan menjadi penonton atau bahkan ia tidak faham dengan apa yang terjadi, apa yang berubah, dan harus bagaimana setelah ia keluar dari pesantren.

Seperti kura-kura, santri mesti mengeluarkan kepalanya, mata untuk melihat dan mengamati, telinga untuk mendengar, dan kulit untuk menguji kepekaan sekitar, tanpa mengeluarkan kepalanya, kura-kura tidak akan bisa berjalan dengan baik, ia akan terkungkung di dalam tempurungnya. Ikon santri adalah garda terdepan untuk negeri, dan benteng radikalisasi, globalisasi, maka santri harus dipersiapkan sejak bekal sejak dini, santri bukan besar pada kalangan kaum santri, namun santri juga besar pada seluruh tingkat kelas-kelas masyarakat.

Hari Santri, untuk Santri

Paradigma terbalik jangan sampai terjadi saat Kaum Santri, Kaum Pesantren mendapatkan pengakuan atas perjuangannya dalam memperjuangkan dan mempertahan kemerdekaan bangsa Indonesia, justru legitimasi atas kaum santri seharusnya dijadikan standarisasi kaum santri untuk terus berkontribusi membangun negeri.

Santri hanya akan bisa membangun negeri, jika santri mempunyai kualitas yang mumpuni untuk bersaing dengan bebas dan terbuka, dengan kontrol EQ, IQ, dan SQ santri tidak akan terjerumus terhadap globalisasi ideologi dan pasar dunia. Santri harus menjadi pemeran utama, bukan boneka atas kepentingan-kepentingan individu atau golongan yang ingin memanfaatkan euforia pada Hari Santri Nasional.

Menarik, jika pada saat ini gema hari santri dirayakan oleh banyak kalangan, terutama warga nahdhiyin mencuri perhatian banyak masyarakat, dimana-mana terbentuk lautan santri. Namun, jangan sampai esensi peringatan hari santri menjadi ceremony yang tidak akan ada subtansi yang membekas pada jiwa-jiwa penggawa negeri. Meskipun tidak sedikit yang memanfaatkan moment 22 Oktober kemarin menjadi ajang selfie-selfie untuk esksistensi diri bahwa mereka bagian dari santri. Sah-sah saja, asal tujuan dan khitah santri membangun negeri tetap menjadi genderang utama yang bergemuruh di telinga-telinga.

Semangat nasionalisme, semangat Mbah Hasyim Asy’ari semoga masih terpatri kuat dalam jiwa-jiwa yang suci, tidak sampai mengotori dengan kejahilan (kebodohan) sebagai santri yang hanya membawa nama besar santri semata.

SebelumnyaCinta Menurut Imam Al Ghazali dan Ibnu Athoillah
BerikutnyaSurat untuk Bung Tomo