
Apa yang terjadi pada malam hari, dimana orang-orang berbondong-bondong dan segera membereskan seluruh peralatannya sebelum terlambat. Mengapa, dan bagaimanakah hidup bisa memberinya satu alarm dalam waktu yang setiap jamnya mempunyai satu alasan untuk begini dan begitu, kadang berbalik dan melelapkan kantuk mata yang ketika malam seharusnya ia tertidur pulas dengan lelah.
“Apakah, kau sudah membeli solarnya tadi sore, Jaka.” ucap Paman Sueb.
“Sudah, Pak. Sesuai dengan arahan,” Jaka cengengesan, mulutnya terbuka giginya terlihat agak sedikit menguning karena belum sikat gigi.
“Ya Tuhan, kau belum sikat gigi nampaknya, gigi kau kuning sekali. Ayo sana mandi sikat gigi dulu, baru kesini lagi, segera.” Paman Sueb sedikit cemberut dan mengambil solar dari tangannya Jaka.
Pagi itu, masyarakat Indramayu pesisir lalu-lalang dengan segalah aktivitasnya, rata-rata masyarakat pesisir di Indramayu bekerja sebagai nelayan. Jaka dan Paman Sueb termasuknya juga. Ia keluarga, Jaka keponakan Paman Sueb yang bekerja membantu kapal Paman Sueb sejak kecil hingga kini ia sudah beranjak 20 tahun keatas umurnya.
Sejak kecil, Jaka di tinggal kedua orang tuannya. Ayahnya meninggal akibat menghantam karang karena badai yang membuatnya terkipat hingga perahunya kehilangan radar dan menghantam pekarangan, Tujuh orang waktu itu yang meninggal. Waktu itu umur Jaka masih lima tahun. Ibunya Jaka juga meninggal waktu Jaka masuk sekolah menengah kelas satu SMP di sebuah SMP dekat rumahnya, yang jaraknya ia bisa tempuh dengan berjalan kaki saja.
Ibunya terkena penyakit kanker payudara yang diidap begitu lama, bertahun-tahun tak kunjung sembuh sampai akhirnya meninggalkan Jaka seorang diri di keluarga itu. Jaka kemudian ia melanjutkan hidup dengan diasuh oleh pamannya bernama Sueb, pamannya yang bekerja sebagai nelayan ulung dari kecil hingga tua ia senantiasa berlayar menggunakan kapal hasil warisan keluargannya dan ia manfaatkan untuk bekerja sendiri selama bertahun-tahun.
Setelah ada Jaka, Paman Sueb mengajarinya mengemudi, mendayung dan berenang di hamparan air laut luas samudera itu. Paman Sueb dikenal khalayak begitu ulung sebagai nelayan karena ia terbiasa sendiri dalam bekerja.
“Ayolah, Jaka. Aku menunggumu sudah hampir 40 menit disini, kau mandi dan gosok gigi lama sekali.” Paman Sueb menggerutu
Jaka yang sudah siap untuk bekerja langsung mengangkat barang-barang ke atas kapal yang lumayan besar tak lupa ia membawa jaring ikan dan pancing untuk Dua hari di atas air bergelantungan di badan kapal. Teman-teman Sueb sudah berlayar, satu dua perahu berangkat untuk mencari ikan dan penghidupan. Sebagai masyarakat pesisir kehidupan desa itu menjadi kehidupan yang penuh dengan pembicaraan air, ikan, jaring bolong dan pancing yang patah.
“Sudah kah, Jaka. Sudah semua barang-barangnya. Jangan lupa kau isi itu perahu biar tidak macet dan mati ketika nanti kita di tengah. Dan jangan lupa juga kau sisahkan buat pulang solarnya” Paman Sueb terus berbicara
“Sudah, Pak. Aman. Perahu siap dinyalahkan. Yuhuuuuu.” Jaka dengan senyuman yang merekah di bibirnya
Kapal berlayar mengarungi lautan yang luas, Jaka begitu asyik mengemudi, wajahnya di terpa semilir angin. Tak lupa, Sueb membereskan barang-barang yang di letakan begitu saja oleh Jaka, ia merapihkan hingga mengecek barang-barang apakah ada yang tertinggal atau tidak. Berselang tiga jam perjalanan ia menemukan spot untuk melangsungkan penangkapan ikan. Cuaca agak sedikit buruk, Jaka kebetulan belum buang air besar pagi itu.
“Alamak, kau ini bagaimana, Jaka, Jaka.” Ucap Sueb dengan lesuh dan cemberut
“Kenapa kau bisa, kau belum buang air besar. Jaka, jaka.”
“Adulah, Pak. Ini faktor alam, aku gabisa menahan. Matikan dulu mesinnya, aku mau berak dulu sebentar.” Jaka dengan wajah memelas
Mesin dimatikan, segera Jaka berdiri meninggalkan tempat mengemudinya. Kepala Sueb geleng-geleng. Menandakan ia bingung dengan ketiba-tibaan Jaka. Lampu-lampu di seberang kerlap-kerlip, menandakan ada kapal yang sedang stuck atau sedang melakukan penangkapan ikan.
Jaka sudah berdiri, ia segera mengemudi lagi, jaring dan pancing sedang Sueb bereskan, agar segera di langsungkannya proses penangkapan. Kapal melaju dan menemukan titik pas untuk berhenti. Dilakukannya proses penangkapan, memasang umpan dan mengibas jaring juga memasang pancing.
Sampai matahari pagi melongok tiba, angin meredah, air surut kembali dan ikan ikan bergelantungan di bola pancing dan terjerambab di jaring-jaring.
****
Hari Kedua, selepas makan. Jaka berbincang dengan Sueb pamannya. Ikan-ikan dihitung, dimasukkan ke dalam tempatnya. Rokok di bakar, asap mengepul ke langit disambar angin. Mereka berdua gembira, di suguhi gelak tawa dan canda. Mereka terus berbincang, tentang apapun. Tentang ikan-ikan, tentang jaring sobek, tentang pasang-surut air laut dan tentang harga ikan-ikan yang naik di daratan pasar sana.
“Kita tidur dulu, Jaka. Jangan buang-buang energi, kita masih satu hari satu malam lagi di tengah-tengah laut ini.” Ucap Sueb.
“Oh iya, jangan lupa, Jaka. Sampah-sampah habis makanan kita itu bersikan ya, kau cangkolkan saja di bawah, jangan di buang ke laut nanti mencemari laut itu sendiri.”
“Baik, Pak. Aku sudah lelah juga, akan ku bersikan setiap saat sebelum tidur.”
“Aku sudah ngantuk sekali, udara semalam dingin sekali.” Ucap Jaka kepada Sueb
Pagi itu menjadi pagi yang hangat, tidur begitu pulas. Matahari masih setia menemani hingga senja tiba, jingga yang rona, membias lukisan di awan-awan atas sana. Seketika Jaka, mengigau, ia kedinginan dan bermimpi bertemu naga di laut itu.
“Naga, Pak. Naga menghampiriku.” Ucapnya
Dalam mimpinya perahu itu terbalik. Ia dan Pak Sueb dibawa oleh naga keliling lautan itu hingga ke dasar-dasar lautan yang paling dalam. Ia melihat pernak-pernik di kedalaman lautan, di bawah ke singgasana sang naga dan bertemu dengan permaisuri-permaisuri sang naga. Ketika ia di bawah ke istana. Naga berubah menjadi pangeran yang gagah perkasa, pangeran penjaga lautan. Ia di kasih makan, buah-buahan layaknya manusia. Ia juga di kasih cincin berlian dan uang gepokan untuk jajan di daratan.
“Aku dikasih uang, Pak. Berlian juga, Pak.” Ucap Jaka sambil tidur
Mata Sueb tertuju pada Jaka dan coba menyadarkannya. Tetapi tetap saja tak kunjung bangun, begitu saja. Tiba-tiba di air yang tenang kala sore. Di samping kapal Sueb, ada pulekan air yang lumayan besar, entah itu pulekan apa. Sueb-pun sebagai nelayan ulung belum pernah melihat fenomena semacam itu selama puluhan tahun menjadi nelayan. Ini pertama kalinya.
“Prakkk, Prakk.”
“Wushh, Wushhh.”
Seketika naga meloncati kapalnya dengan pas. Sueb kaget dan Jaka terjebur ke lautan dalam keadaan tidur. Kekagetan Sueb membuat ia terkapar ke belakang dengan keras sehingga kapal menjadi terbalik, sampai Jaka tergelinding, terjebur ke laut dalam keadaan tidur dan mengigau.
“Astagfirullah” Ucap Sueb.
Ia langsung berenang mencari Jaka, entah jaka kemana, mungkin di bawah oleh naga yang jaka mimpikan. Entah mungkin ia di bawah ke istana, makan buah-buahan dengan sang raja dan melihat permaisuri-permaisuri yang cantik jelita di dasar laut sana. Entah, Sueb terus mencari tetap tidak ada.
Sampai kini pun Jaka tidak ketemu. Mimpi Jaka ternyata mimpi nyata yang Sueb-pun hampir tak percaya. Saat itu Laut menjadi laut sakral yang setiap tahunnya di peringati oleh masyarakat pesisir Indramayu. Setiap masyarakat membawa tumpeng dan sesajen, bahkan kepala kerbau jika ada kalau tidak ada kepala sapi atau kambing. Terus menerus setiap tahun. Pertama untuk memperingati Jaka, kedua untuk penunggu laut dan ketiga berdoa agar gelombang tidak terus-terusan buruk dan memakan korban. Itulah sampai akhirnya kearifan lokal terjaga dan peringatan-peringatan semacam itu menjadi budaya untuk merekatkan persaudaraan masyarakat pesisir.
Penulis: Lupi Malaranggih, Seorang Pembelajar Sepanjang Hayat, Mahasiswa Aktif, Sering menulis puisi, opini, cerpen di berbagai media online. Bisa di sapa @Malarangiii
Editor: Rara Zarary


















