
Tebuireng.online– Organisasi Santri Pondok Putri (OSPI) Pesantren Tebuireng menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Ulil Albab, Kamis malam (11/09/2025). Acara ini mengusung tema “Menggali Hikmah Maulidur Rasul untuk Membentuk Akhlak Santri” dan dihadiri oleh seluruh santri pondok putri, para pembina sekaligus pengurus, Ustadzah Dian Arrij, KH. Fahmi Amrullah Hadziq, Ibu Nyai Lelly Lailiyah Hakim, serta Ibu Nyai Hj. Aisyah Muhammad. Panitia juga menghadirkan pembicara utama, Ning Hj. Widad Bariroh, S.Si.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan diba’ yang diiringi tim banjari pondok putri. Dalam sambutannya, KH. Fahmi Amrullah Hadziq selaku kepala pondok putri, mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk meneladani Rasulullah SAW.
Baca Juga: Meneladani Akhlak Rasulullah Melalui Maulid
“Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Rasulullah adalah uswah al-hasanah. Hal ini sering diucapkan, namun praktiknya masih minim. Kita tidak mungkin meneladani beliau seratus persen, tetapi paling tidak ada lima nilai dasar yang bisa kita pegang yaitu prinsip dasar Tebuireng: ikhlas, jujur, tanggung jawab, kerja keras, dan tasamuh (toleransi),” jelasnya.
Ketua panitia, Dyandra, juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya acara, sekaligus memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan.
Dalam ceramahnya, Ning Hj. Widad Bariroh, S.Si. menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Ia menyebutkan empat kategori akhlak yang relevan untuk diteladani para santri, yaitu:
- Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cacian (ihtimalul adza).
- Menyedikitkan marah (qalilul ghadlab).
- Senantiasa berwajah ramah dan tersenyum (tabassum fil wajh).
- Lemah lembut dalam tutur kata (thibatul kalam).
Baca Juga: Esensi Perayaan Maulid Nabi: Mewujudkan Refleksi dan Kesadaran
Sebelum beliau mengakhiri mauidah, beliau membacakan bait-bait refleksi maulidurrasul Saw yang begitu indah dan menyayat hati, kurang lebih baitnya seperti ini:
Ya Rasulullah
Kami yang hadir hari ini
Kami adalah para wanita yang tidak kunjung tahu diri
Selalu butuh diingatkan lagi dan lagi
Bahwa kami ini engkau cintai
Bahkan jauh sebelum kami dilahirkan oleh ayah kami
Dan jauh sebelum kami temukan laki-laki tambatan hati,
Ya Rasulullah
Maaf jika terlalu lupa
Terlalu banyak sambatnya
Padahal engkau lebih menang dalam urusan derita
Banyak kehilangan engkau rasa
Namun saat kami sekali saja terluka
Kami lupa bahwa engkau tidak bercerita,
Tapi urusan luka bagi umatnya engkau bilang tak apa Allah aku saja
Saat kami dihina
Kami kira, kami sendiri
Saat kami tidak punya apa-apa
Kami kira kami sendiri
Saat kami tak sampai cintanya
Kami kira kami sendiri
Saat kami tak dipercaya
Kami kira kami sendiri
Saat kami tak dipuji
Kami juga kira kami sendiri
Saat kami berulang kali kehilangan dan diuji kami kira juga kami sendiri
Adakah engkau ambil semua ini untuk bisa rasakan pula bagaimana rasa sakit yang umatmu sedang diuji
Ya Rasulullah
Kami para perempuan ini
Bertemu untuk saling padu
Membangun cinta padamu
Bahwa kami punya janji temu
Asalkan sabar kami selaras dengan sabarmu dan ibadah kamu perlahan berusaha menyamaimu
Begitupun dengan ridho atas takdir harus bisa sekuat penerimaanmu.
Tapi ya Rasul
Kami ini umatmu yang selalu lupa
Bahwa engkau menyaksikan dari sana bagaimana tingkah kami yang sering jatuh imannya
Seringkali putus asanya
Selalu kurang syukurnya
Meski aneh banyak sambatnya
Bilangnya cinta tapi mana cinta padamu Kalau cintanya tergesa-gesa
Tolong bantu kami cinta terus mendekatkan diri pada sang maha pencinta.
Acara ditutup dengan pemberian cenderamata kepada pembicara dilanjut doa bersama yang dipimpin oleh Gus Akbar Mubarok, dan sesi foto bersama.
Pewarta: Qurratul Adawiyah
Editor: Rara Zarary


















