
Tebuireng.online- Pengurus Pondok Putra Pesantren Tebuireng menggelar sesi ta’aruf (perkenalan) bersama para wali santri baru di Masjid Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (02/07/2026) malam. Kepala Pondok Putra Pesantren Tebuireng, Ustadz Muhammad Syifa’ul Fuad, memaparkan bahwa Tebuireng merupakan institusi pendidikan yang memiliki akar sejarah panjang dalam mengawal peradaban bangsa jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
“Tebuireng ini didirikan tahun 1899 atau 46 tahun sebelum Indonesia merdeka. Jadi lebih dulu ada Tebuireng, 46 tahun kemudian Indonesia merdeka,” ungkap Syifa’ul Fuad di hadapan wali santri, Kamis.
Ia mengisahkan, pada awal berdirinya, para santri generasi pertama harus menghadapi intimidasi fisik dan perlakuan buruk dari kelompok masyarakat sekitar yang menolak keberadaan pesantren. Terlebih, kawasan Cukir dan Tebuireng pada masa kolonial dikenal sebagai salah satu pusat kemaksiatan dan kriminalitas.
“Bangunan awal berdirinya pondok pesantren ini terbuat dari anyaman bambu. Sehingga kalau santri tidur itu enggak berani tidur di pinggir karena ditusuk-tusuk oleh orang-orang yang tidak suka kehadirannya pondok di sini ini. Karena wilayah Cukir Tebuireng ini dulu menurut cerita pusatnya kemaksiatan,” jelasnya.
Situasi kerawanan keamanan pada masa lampau tersebut mendorong pendiri pesantren, KH. M. Hasyim Asy’ari, mendatangkan guru ahli bela diri khusus dari Cirebon. Langkah itu diambil guna membekali para santri dengan kemampuan fisik untuk mempertahankan diri dan menjaga keselamatan asrama.
Namun, Syifa’ul Fuad menegaskan bahwa pola penguatan proteksi diri santri kini telah mengalami pergeseran orientasi secara drastis, disesuaikan dengan tantangan zaman kontemporer.
“Santri dulu memang diajarkan ilmu kanuragan, seperti kebal terhadap senjata tajam guna melindungi diri sendiri. Tetapi hari ini santri tidak diajari ilmu kanuragan tapi diajari ilmu-ilmu yang dapat membentengi dirinya di zaman yang serba canggih seperti ini. Yang mana kita tahu bahwa kemaksiatan muncul dari berbagai arah bahkan dari layar kecil,” paparnya.
“Singkatnya santri dibekali cara bagaimana bentengi dirinya agar tetap kokoh dalam mempertahankan agama,” tambahnya.
Selain memaparkan dinamika historis, pengurus pondok putra juga memberikan gambaran umum mengenai peta unit pendidikan formal yang berada di bawah naungan asrama putra.
Untuk jenjang SLTP, koordinasi asrama meliputi siswa dari SMP A. Wahid Hasyim dan MTs Salafiyah Syafi’iyah. Sementara untuk tingkat SLTA, cakupannya meliputi SMA A. Wahid Hasyim, Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, SMK Khoiriyah Hasyim, serta Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari.
Pertemuan diakhiri dengan sesi perkenalan jajaran manajerial operasional asrama yang bertugas mengawal aktivitas harian santri. Struktur tersebut terdiri dari pembina kamar, Majlis Amni (bidang keamanan), Unit Kebersihan dan Kesehatan Lingkup Pesantren, Majlis Ilmi (bidang keilmuan), Divisi Pengembangan Diri, serta Tim Penerimaan Tamu.

Pewarta: Dimas
Editor: Sutan


















