sumber ilustrasi: dwiwarna.com

Oleh: Sayidatul Afifah Rusda*

Pernahkah ada orang yang membencimu atau bersikap tidak baik? Barangkali begitu salah satu dinamika kehidupan manusia, pasti ada orang yang mendukung, membantu, dan bersikap baik, begitupun sebaliknya. Dalam kaitannya dengan terima kasih, apapun sikap orang lain kepada kita, rasa berterima kasih tak boleh dilupakan. Meskipun ucapan terima kasih, termasuk dalam tiga kata yang sulit untuk diucapkan, entah karena kesombongan maupun belum terbiasa. Padahal manfaatnya sangat baik, utamanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.

Kehadiran orang yang tak suka atau menghalangi usaha kita dalam berbuat kebaikan, juga hadir dalam kehidupan seorang makhluk paling mulia di sisi Allah, yakni baginda Nabi Muhammad, orang itu adalah Abu Lahab. Seorang paman yang menentang keras ajaran Islam, berbanding terbalik dengan saudaranya yakni Abu Thalib yang senantiasa mendukung, dan melindungi Nabi, maupun dengan paman Rasulullah yang lain yakni Hamzah dan Abbas.

Perlakuan Abu Lahab tersebut, diabadikan oleh Allah dalam QS Al-lahab ayat 1-5:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia[1]
  2. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.
  3. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka),
  4. (Begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
  5. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal

Dalam surat ini dijelaskan bahwa janji Allah atas Abu Lahab, yakni kekal dalam neraka, meskipun ia mendapatkan keringanan, sebab bergembira dengan kelahiran Rasulullah. Namun begitu, sikap kita sebagai seorang muslim adalah mengambil ibrah dari kisah tersebut bahwa kehidupan manusia pasti ada rintangan.

Dalam kaitannya dengan sikap terima kasih, maka sikap yang harus kita lakukan kepada orang yang bersikap tak baik adalah terima kasih juga, karena terima kasih yang harus senantiasa dan lazim dilakukan adalah ketika kita mendapatkan nikmat, manfaat, dan juga kesulitan.

Bagaimana cara agar lebih mudah dilakukan? Adalah dengan memandang sisi lain dari musuh tersebut. Hal ini tercantum dalam salah satu buku berjudul Syukron Ayyuha al-A’da’ karya Salman bin Fahd Al-Audah. Di sana beliau banyak menuliskan sisi positif dari keberadaan musuh tersebut.

Pertama, “Terima kasih wahai musuh. Kalianlah yang menjadikanku sadar untuk mengendalikan diri dan tidak hanyut dalam gelombang pujian. Kalian dijadikan Allah SWT agar aku tidak menjadi sombong akibat pujian berlebihan, atau anggapan baik yang hanya melihat kebaikan dari diriku.”

Kalimat pertama ini menunjukkan musuh sebagai kontrol atas pujian yang kita dapatkan, bahwa tak semua orang menerima dan menanggapi dengan baik atas perilaku kita.

Kedua, “Terima kasih wahai musuh. Bagaimanapun kalian memberi manfaat kepadaku, meskipun sebenarnya, kalian tidak mau melakukan itu. Kalian telah menciptakan kemampuan untuk berpikir lebih seimbang dan adil. Mungkin ada seseorang yang berlebihan menunaikan haknya, lalu kalianlah yang menjadi sebab keseimbangan.”

Dalam bait ini, musuh sebagai motivator untuk selalu memaksimalkan akal dan hati yang diberikan oleh Allah

Ketiga, “Terima kasih wahai musuh. Kalianlah yang menerbitkan semangat, meletakkan tantangan, membuka kecermatan, mendorong untuk berkompetisi, agar seseorang bisa lebih berhati-hati, lebih disiplin, lebih cermat mendidik diri, dan menghiasi diri untuk memiliki sikap yang terpuji. Kompetisi adalah perilaku yang dianjurkan dalam syariat Islam. Allah SWT berfirman, “Wa  fii dzaalika fal yatanaafasil mutanaafisuun..” Kemuliaan kompetisi adalah harus dengan cara yang baik, dan niat yang bersih.”

Dalam bait ini, musuh sebagai orang yang menjadi lawan untuk mengukur kedisiplinan, kecermatan, dan skill yang ada pada diri.

Keempat, “Terima kasih wahai musuh. Kalianlah yang melatih kami untuk mampu lebih bersabar dan lebih kuasa menanggung beban. Kalianlah yang membantu kami untuk lebih bisa menghadapi keburukan dengan kebaikan.” Dalam bait ini musuh sebagai beban sehingga kita lebih kuat.

Kelima, “Terima kasih wahai musuh. Mungkin dalam timbangan amal ada kebaikan yang tidak bisa aku peroleh hanya dengan kebaikan dan amal shalih, tapi hanya bisa diperoleh melalui kesabaran, menanggung beban, keridhaan, bisa menerima, toleransi dan maaf.”

Dalam bait ini musuh sebagai orang yang memberikan peluang mendapatkan ganjaran kebaikan melalui sabar.

Keenam, “Terima kasih wahai musuh. Aku merasa mungkin ada sebagian kata yang menyakiti kalian. Tapi sungguh saya tidak bermaksud menyakiti kalian. Tapi saya katakan dengan sejujurnya, kalian adalah teman-teman sejati.”[2]

Dalam bait ini, musuh adalah orang yang juga teman sejati, namun dari sisi pengkritik.

Dari beberapa bait tersebut, musuh adalah orang-orang selain teman, yang senantiasa membuat kita terus meng-upgrade diri. Maka rasa terima kasih yang bisa kita lakukan adalah senantiasa berdoa agar orang-orang tersebut mendapatkan kebaikan dari Allah dan tidak menyikapi perbuatan buruk mereka dengan sikap yang buruk pula.


[1] Yang dimaksud dengan kedua tangan Abu Lahab adalah Abu Lahab itu sendiri.

[2] Dikutip dari islami pos, Judul asli Syukron Ayyuha al-A’da’

SebelumnyaFalsafah Jawa yang Sesuai dengan Ilmu Tasawuf #1
BerikutnyaIni Perbedaan Zakat dan Pajak yang Harus Kamu Pahami