sumber gambar: merdeka.com

Oleh: Rafiqatul Anisah*

Sebagai umat muslim kita dikenalkan dengan (hablum minallah) bagaimana manusia berhubungan dengan Allah Sang Maha Pencipta dan (hablum minnas) bagaimana manusia berhubungan dengan manusia baik individu maupun kelompok.

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, mengajarkan kita untuk berperilaku terpuji. Bagaimana bersikap dengan orang lain, sesama, orang tua, atau muda pun dengan santun. Sebab hakikatnya kita semua sama, yang membedakan hanya ketaqwaan di hadapan Allah SWT.

Maka dari itu kita selalu dianjurkan untuk selalu berhati – hati baik dalam ucapan maupun perbuatan. Sebab kita tidak pernah tahu hati seseorang, apakah pernah tersinggung atau tidak sedangkan kita tidak sadar akan hal itu. Tentu akan mengkhawatirkan bila sampir akhir hayat belum mendapatkan maaf darinya, bagaimana jika hal itu menjadi penghlang doa-doa kita, naudzubillah.

Ibrahim bin Adgham adalah seorang sufi, beliau ingin melakukan perjalanan dari Makkah ke masjidil Aqsha. Jarak tempuhnya selama empat bulan. Dalam perjalanan menuju masjidil Aqsha tersebut ia mampir ke sebuah pasar untuk membeli satu kilo kurma sebagai bekal selama perjalanan yang ditempuh sampai empat bulan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sesampainya di masjidil Aqsha, Ibrahim bin Adgham mendengar percakapan dua malaikat yang sedang membicarakan dirinya. “Itu Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara’ yang doanya selalu dikabulkan Allah SWT,” kata malaikat yang satu.

“Namun sekarang tidak lagi. Doanya ditolak kerana empat bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di Masjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Mendengar percakapan dua malaikat tersebut, Ibrahim terkejut dan cemas. Bagaimana jika ibadahnya, sholatnya, doanya, dan amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah selamat empat bulan sebab sebutir kurma yang telah ia makan tanpa izin.

Ibrahim langsung bergegas kembali ke Makkah untuk menemui dan meminta kehalalan laki-laki tau yang menjual kurma itu. Sesampainya di Makkah, ia terus berjalan mencari pedagang tua itu namun tak kunjung bertemu, yang ditemukan hanya seorang anak muda. Kemudian Ibrahim bertanya kepada anak muda tentang keberadaan pedagang tua yang menjual kurma empat bulan yang lalu.

“Empat bulan lalu, saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. Di manakah ia sekarang?” tanya Ibrahim.

“Ohh, beliau sudah meninggal sebulan yang lalu, sekarang saya yang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapakah saya boleh meminta untuk penghalalan?” kata Ibrahim yang kemudian menceritakan peristiwa yang sedang dialaminya.

Setelah mendengarkan cerita Ibrahim, pemuda itu mengaku bahwa ia adalah putra dari pedagang kurma tua itu. Lalu Ibrahim bertanya kepada siapakah ia dapat meminta kehalalan sebutir kurma yang dimakan tanpa izin.

“Bagi saya tidak masaalah. Insya Allah saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani menghalalkan untuk mereka, kerana mereka mempunyai hak waris sama dengan saya,” jawab pemuda itu.

“Baiklah, kalau begitu, tolong berikan alamat saudara-saudaramu, biar saya temui mereka satu persatu,” pinta Ibrahim.

Setelah mendapatkan alamat 11 saudara-saudaranya, Ibrahim mendatangi masing-masing walaupun jaraknya tidak dekat. Akhirnya mereka semua sepakat untuk menghalalkan sebutir kurma ayahnya yang dimakan tanpa sengaja oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim kembali lagi ke masjidil Aqsha. Seperti biasa ia melakukan ibadah di bawah Kubah Sakhra. Tak lama kemuadian, ia mendengan kembali percakapan dua malaikat yang dulu pernah membicarakan dirinya.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain,” kata malaikat pertama.

“Ohh tidak! Sekarang doanya sudah terkabul kembali. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Jiwa dan hati Ibrahim kini sudah bersih kembali dari sebutir kurma haram yang ia makan tanpa seizin pemiliknya,” jawab malaikat kedua.

*Mahasiswa Unhasy Jombang.

Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

SebelumnyaTa’lim dan Ta’allum, Jalan Tarekat Kiai Hasyim
BerikutnyaJangan Sampai Lebih Mementingkan Gengsi Daripada Fungsi