Dilema Moral Novel Selamat Tinggal: Bertahan Hidup atau Mempertahankan Integritas

55
novel selamat tinggal

Novel Selamat Tinggal adalah sebuah kisah tentang keberanian meninggalkan hal-hal yang selama ini kita tahu bahwa hal itu adalah salah, tetapi tetap kita lakukan demi bertahan hidup. Tokoh utamanya, Sintong Tinggal, adalah mahasiswa abadi yang kuliahnya tak kunjung selesai, sembari bekerja di sebuah toko buku bajakan. Ia terjebak dalam hidup yang ia sendiri tidak banggakan, sebab menjual buku palsu di saat ia justru bercita-cita menyeelsaikan skripsi jurusan sastra dengan baik.

Sejak awal pembaca diajak melihat kehidupan Sintong yang keras kepala, humoris, tapi menyimpan banyak keruwetan. Hidupnya penuh ironi: ia belajar tentang moralitas, kejujuran, dan nilai sastra, namun mata pencahariannya justru merusak dunia literasi itu sendiri. Situasi ini menjadi semakin rumit saat ia dekat dengan seorang perempuan yang tidak hanya membuatnya mempertanyakan arah hidupnya, tetapi juga memaksakanya bercermin pada kesalahan-kesalahan yang selama ini ia anggap sepele.

Dari sinilah cerita berkembang. Tere Liye menggambarkan perjalanan batin sintong dengan gaya yang ringat tetapi menohok: pergulatan menyelesaikan skripsi, tekanan ekonomi keluarga, konflik pemilik tokoh, hingga keputusan meninggalkan pekerjaan lama dan mencoba berdiri sendiri di atas kejujuran. Ada bagian-bagian yang emmbuat pembaca tertawa, tersentuh, bahkan sedikit geram melihat keras kepalanya sintong. Namun justru di situlah kekuatan noval tersebut, sebab ia terasa dekat dengan kehidupan nyata yang dirasakan pembaca.

Tere liye juga memberikan kritik sosial yang cukup mengenai peredaran buku bajakan, mentalitas instan, serta lemahnya penghargaan terhadap karya intelektual. Meski beberapa pesan moral itu sudah disampaikan dengan cara yang cukup langsung, tapi ciri khas Tere Liye ini yang tidak semua pembaca sukai tetap saja novel ini punya daya tarik emosional yang mudah dirasakan siapa saja.

Kelebihan novel ini terletak pada tokoh Sintong yang sangat manusiawi. Ia penuh kekurangan, membuat banyak kesalahan, tetapi tetap punya kemauan untuk berubah. Namun beberapa bagian alur terasa agar berulang, dan gaya dialog khas Tere Liye sesekali terdengar seperti “ceramah”, meski konteksnya masih bisa diterima. Secara keseluruhan, novel Selamat Tinggal ini menawarkan perpaduan humor, kritik, serta perjalanan menemukan jati diri, semacam pengingat bahwa keberanian untuk berbuat benar kadang harus dimulai dengan sebuah perpisahan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Novel ini sangat cocok dibaca oleh mahasiswa, pelajar, atau siapapun yang sedang berada di fase bingung antara idealism dan realitas. Ia pun memberi pesan yang kuat bahwa tidak semua yang harus ditinggalkan itu menyakitkan, kadang justru dari kepergian, hidup menemukan arah baru bagi diri ini.

Baca Juga: Resensi Buku Laut Pasang 1994 karya Lilpudu


Judul: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2020
Jumlah halaman: 360 hlm
ISBN: 978-602-06-4782-1
Peresensi: Wan Nurlaila Putri