Oleh: Almara Sukma*

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama Islam telah mengatur berbagai aspek kehidupan. Agama Islam juga mengajarkan akhlak agar hubungan sesama manusia berjalan dengan baik tanpa ada masalah sedikit pun, di antara akhlak terpuji adalah ucapan terima kasih.

Tanpa disadari ucapan terima kasih mempunyai banyak manfaat, bahkan dengan ucapan terima kasih bisa membahagiakan hati orang lain. Seringkali kita mengabaikan perbuatan baik yang telah dilakukan orang lain, kita menganggap bahwa perbuatan tersebut memang tugasnya, perbuatan tersebut merupakan hal yang biasa dilakukannya, kita masih berat untuk mengakui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut harus mendapatkan apresiasi. Bentuk apresiasi tidak harus dengan piala, medali atau uang, hal paling mudah yang bisa kita lakukan adalah mengucapkan terima kasih.

Terima kasih merupakan ungkapan rasa syukur, terima kasih juga bisa diartikan sebagai cara membalas kebaikan kepada orang yang telah berbuat baik, meskipun perbuatan baiknya kecil. Kata “terima kasih” mengajarkan kepada kita agar kita tidak meremehkan perbuatan baik orang lain meskipun kecil dan memberikan pemahaman kepada kita bahwa bisa jadi hal yang terlihat kecil akan tetapi mempunyai dampak yang cukup besar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ucapan terima kasih juga bisa memberikan kesan baik kepada orang lain. Dengan terima kasih orang akan merasa bahwa dirinya dihargai, mereka merasa puas dan akhirnya mereka berpikir bahwa mereka harus melakukan hal yang lebih baik lagi di lain kesempatan, hal tersebut akan menjaga keharmonisan hubungan sesama.

Ucapan terima kasih tidak pandang bulu, kita bisa mengucapkannya kepada semua orang, mulai dari keluarga, sahabat, rekan kerja, orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, bahkan orang yang tidak dikenal.

Ucapan terima kasih tidak hanya diucapkan ketika kita diberi harta benda, ketika kita mendapatkan pertolongan, ketika kita mendapatkan pujian atau hal lain yang bisa menjadikan kita senang dan nyaman. Terima kasih juga harus kita ucapkan kepada orang yang mau menerima harta atau benda, menerima bantuan dan pertolongan dari kita. Kita memberikan harta kepada orang lain, Allah memberikan balasan yang lebih besar kepada kita. Seandainya orang yang kita beri harta atau benda tersebut tidak mau menerima pemberian kita maka kita juga tidak akan mendapatkan balasan dari Allah.

Terima kasih memanglah kata sederhana yang ringan untuk diucapkan akan tetapi tidak semua orang mampu mengucapkannya. Orang yang mampu mengucapkan terima kasih hanyalah orang-orang yang terbiasa mengucapkannya, agar terbiasa haruslah dilatih. Sedangkan orang yang tidak terbiasa mengucapkannya akan merasa sangat berat, bahkan ia tidak mampu mengucapkannya, ia adalah orang sombong, ia merasa bahwa ia paling baik diantara semua orang sehingga ia tidak mau bersyukur.

Setiap orang harus dibiasakan mengucapkan terima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dilatih dan dibiasakan sejak usia dini. Seperti contoh orang tua mengajarkan kepada anaknya agar ia mengucapkan terima kasih kepada orang yang ia berikan sesuatu dan ketika ia diberikan makanan, diberikan jajan, diberikan hadiah atau diberikan bantuan oleh orang lain. Kita tidak boleh menginkari kebaikan yang telah diberikan orang lain kepada kita, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis,

حَدَّثَنَا الحُسَيْنُ بْنُ الحَسَنِ المَرْوَزِيُّ بِمَكَّةَ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الجَوْهَرِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا الأَحْوَصُ بْنُ جَوَّابٍ، عَنْ سُعَيْرِ بْنِ الخِمْسِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ “: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ جَيِّدٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ، وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا فَلَمْ يَعْرِفْهُ[1]

Rasulullah Saw, bersabda : Barang siapa yang diperlakukan baik, lalu ia mengatakan kepada pelakunya, “Jazakallaha khoiron (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh ia telah sampai pada derajat memujinya (telah berterima kasih kepadanya dengan memujinya).” (H.R. Imam Turmudzi)

Orang yang kebiasaanya kufur nikmat, ia tidak akan bersyukur apabila mendapatkan kebaikan. Ia enggan mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya. Ia lupa bahwa orang tersebut merupakan perantara Allah untuknya. Ia juga tidak bersyukur atas nikmat-nikmat lainnya yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.

Orang yang mau mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya maka ia tidak kufur. Ia mau bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah melalui perantara orang tersebut.


[1] Muhammad bin Isa bin Sauroh bin Musa bin Dhohak At-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi (Syirkah Maktabah; Mesir) Juz. 4, hal. 380


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaDari Mantan Napiter, Kita Belajar Menangkal Virus Radikalisme dan Terorisme
BerikutnyaMuhadhoroh ‘Ammah, Mursyid Tarekat Idrisiyyah Sebut Dua Macam Ilmu