Oleh: Ibnu Ubai*

Kemajuan teknologi yang pesat, setiap  manusia wajib memiliki suatu kemampuan berpikir kritis, karena mengingat banyaknya sekali informasi yang masuk melalui media seperti, Facebook, Instragram, dan Youtube. Dengan berpikir kritis, kita bisa meluruskan informasi yang belum terverifikasi secara maksimal. Manusia yang tidak memliki kemampuan berpikir kritis dalam menanggapi berbagai informasi akan berdampak terhadap ploblematika sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Di Indonesia sendiri sistem pendidikan masih sangat kurang terlatih dalam menumbuhkan critical thinking (berpikir kritis), bisa kita lihat kehidupan masyarakat Indonesia sekarang sangat mudah sekali terprovokasi oleh berita-berita hoaks, malas memverifikasi secara maksimal, dan suka gosip. Hal ini bisa menunjukan bahwa masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan critical thinking.

Critical thinking ini sangat perlu dikuasai oleh generasi sekarang, apalagi maraknya berita-berita hoaks. Secara umum critical thinking adalah kemampuan untuk berpikir jernih dan rasioanal, memahami hubungan logis antar gagasan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di dalam Islam sendiri sudah ada istilah tersendiri dalam memastikan kebenaran terhadap suatu informasi baik secara tertulis ataupun tidak, yang mana disebut dengan istilah tabayyun, sebagaimana sudah ada konsep tersendiri dalam Islam seperti di dalam al-Quran surat Al-Hujurat ayat 6:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”.

Dalam ayat tersebut, menjelaskan bahwa anjuran bagi manusia untuk selalu bertabayyun dalam segala aspek agar bisa menjaga dampak negatif dalam kehidupan baik dalam segi budaya, sosial, politik bahkan sesuai dengan norma-norma yang ada. Oleh karena itu, ayat ini menunjukan tentang kesinambungan antara konsep dari critical thinking dan tabayyun.

Dalam Islam sendiri banyak sekali ayat-ayat menunjukan konsep critical thinking di antaranya:

At-Tafakkur

Dalam kitab suci al-Quran banyak sekali ayat menjelaskan tentang perintah dalam berpikir. Allah SWT sering sekali menyebutkan lafadz ini, memang agar umat manusia tidak salah dalam menerjemahkan dan memaknai al-Quran. Imam Sya’rawi dalam kitabnya tafsir al-sya’rawi menyebutkan, bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk mentafakuri alam sekitarnya agar bisa menemukan kebenaran yang sejati. Melakukan suatu perenungan terhadap gejolak fenomena yang terjadi di dunia akan memberikan manfaat yang sangat besar dalam menyikapi segala tanda-tanda kebesaran Allah dan kekuasaan Allah, namun kita tidak boleh memikirkan atau mentafakuri sesuatu yang berkaitan dengan zat Allag SWT.

Dengan bertafakur ini, manusia akan selalu bersyukur dalam segala fenomena, sebagaiman firman Allah dalam surat al-Jasiyah: 12-13.

اَللّٰهُ الَّذِيْ سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيْهِ بِاَمْرِهٖ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَۚ (١٢)وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ (13)

Artinya: “Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.”(12) “Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”.

At-Tadzakkur

Dalam ilmu tasrif, At-Tadzakkur berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat dan menghayati. Maksudnya adalah proses mengingat kembali suatu hal yang sudah diketahui, akan tetapi harus berpikir lebih dalam mengingat sesuatu agar tidak salah dalam menyampaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 221:

وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ….

Artinya: “sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Selain itu, tadzakkur juga memiliki makna yang saling berkesinambungan seperti darasa (mempelajari) yang memiliki bentuk lain seperti lafadz tadarasa yang berarti mempelajari secara berulang kali dalam proses mengingat kembali dalam otak. Lawan dari kata at-Tadzakkur adalah nisyan (lupa). Artinya at-tadzakkur ini berfungsi untuk menjaga ilmu agar terhindar dari penyakit lupa.

At-Tadabbur

Kata tadabbur berasal dari kata duburun, yang berarti “belakang” dan lawan dari kata qubul, yang berarti “depan”. Kata dubur al-syay’ artinya bagian belakang sesuatu, sedangkan qubul al-syay’, artinya “bagian depan sesuatu.”

Seperti dalam kalimat tadabbartu al-amr, yang artinya “memandang, memperhatikan sesuatu yang ada di belakang”. Dari sini dapat dikatakan bahwa tadabbur adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantarkan seseorang kepada akhir petunjuk suatu kalimat dan tujuan-tujuannya yang jauh.” Kalau kata tadabbur dikaitkan dengan al-Quran sehingga menjadi tadabbur al-Quran, maka artinya adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantar kita kepada akhir dari petunjuk-petunjuk al-Quran dan tujuan-tujuan akhir yang ingin dicapai dari membaca al-Quran.

Secara sederhananya, tadabbur adalah mengerahkan upaya untuk melihat, merenungi dan memahami sesuatu, beda jikalau makna tadabbur dikaitkan dengan al-Quran artinya menghayati ayat-ayat al-Qur’an seperi pada firman Allah surat muhammad ayat 24:

{ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا [سُورَةُ مُحَمَّدٍ: ٢٤

Artinya: “ Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?”.

Al-Ta’aqqul

Kata ta’aqqul ditinjau dari segi kebahasaan memiliki beberapa makna. Secara bahasa kata ta’aqqul berasal dari kata dasar ‘aqala yang memiliki makna berpikir. Kata ‘aqala dalam bentuk kata kerja berarti habasa yang mengikat atau menawan. Orang yang menggunakan akalnya disebut dengan ‘aqil atau orang yang dapat mengikat dan menahan hawa nafsunya dan ta’aqqul berarti aktivitas berpikir.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat kita pahami bahwa orang yang berakal atau orang yang menggunakan daya akalnya dengan baik pada dasarnya adalah orang yang mampu mengikat hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya tidak dapat menguasai dirinya.

Selain itu, orang yang berpikir juga akan dapat mengendalikan dirinya terhadap dorongan nafsu dan juga dapat memahami kebenaran agama. Dengan akal tersebut, manusia dapat memahami amanah dan kewajibannya sebagai seorang makhluk. Dengan demikian, akal adalah petunjuk untuk membedakan antara hidayah dan kesesatan .

Adapun Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa akal merupakan alat atau sarana yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang bagus dan yang jelek, serta yang benar dan yang sesat.

Model-model Berpikir

Di era yang pesat akan digital manusia berpikir hanya ditentukan oleh persepsi dugaan atau tanggapan-tanggapan secara mendasar, berpikir seperti ini hanya membuat orang bersifat pasif. Namun, pada sekarang manusia lebih canggih dalam memecahkan suatu permasalahan dengan cepat. Oleh karena itu, berpikir seperti ini bisa dikatakan berpikir secara fleksibel. Hal ini bisa dikategorikan oleh beberapa kategori dalam model berpikir.

  1. Berpikir secara rasio; berpikir seperti ini hanya menggunakan secara akal dan tidak menerima jika suatu argumen yang tidak sesuai logika, maka akal tidak akan menerimanya.
  2. Berpikir secara empirical ini berfokus pada panca indra manusia seperti mata, atau sesuatu yang pernah dialaminya (pengalaman) akan tetapi jika mata tidak melihat atau yang lainnya maka metode ini sulit untuk digunakan.
  3. Berpikir secara irrasional; berbeda dengan yang pertama berpikir seperti ini hanya menggunakan pertimbangan secara emosional. metode ini menyesuaikan mood (hati) jika tidak nyaman akan itu maka sulit untuk menerimanya.[1]

Penerapan Critical Thinking dalam Sehari-hari

Allah SWT memberikan suatu kelebihan dan kekurangan pada setiap manusia perindividu yang mana disebut kode genetic. Akan tetapi manusia sulit untuk mengembangkan suatu potensi yang ada pada dalam dirinya, disebabkan kurangnya pengarahan dari senior-senior ataupun dari segi pendidikan yang dipelejarinya. Adapun cara-cara menumbuhkan sifat critical thinking sebagai berikut:

  • Sebuah pertanyaan

Memberikan sebuah kesempatan anak-anak dalam menuangkan gagasan yang terpendam dan berikan pertanyaan yang menginspirasi seperti tanggapan-tanggapan fenomena yang terjadi sekarang ini.

Contoh seperti pertanyaan bagaimana sifat dalam mengurangi perubahan iklim yang terjadi di berbagai daerah, dan kita sebagai santri apa kontribusinya? Demikian seperti itulah yang membuat anak-anak berpikir lebih dalam dan saling bertukar pikiran, atau juga bisa dipresentasikan di kampus atau teman-teman.

  • Adanya Sumber Referensi

Dalam memberikan argumen para mahasiswa atau santri pasti harus adanya sumber, dalam istilah pesantren disebut ‘ibarah. Hal inilah yang membuat para santri atau mahsiswa berpikir sesuai dengan ajaran agama Islam agar tidak melenceng ke mana-kemana dan hoaks.

  • Adanya Kelompok

Bisa diketahui di era sekarang sangat mudah sekali manusia saling berkomunikasi secara tidak langsung. Seperti, WA, Instragram, dan Twiter. Seperti inilah manusia bisa membuat kelompok dengan memanfaakan digital dengan mengkolaborasikan antar kelompok untuk saling berdikusi dan saling bertukar pikiran.


[1] Khoruddin Nasution, pengantar studi islam, yogyakarata; Academia Tazzafa,2012.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBal-Balan Lebih “Agamis” Ketimbang Jum’ahan (?)
BerikutnyaMengenal Pemimpin Perempuan Pertama di Kerajaan Aceh