
Setiap malam, doa itu tak pernah padam.
“Aku ingin jodoh terbaik menurut-Mu, ya Allah. Yang menuntunku, bukan menjatuhkanku. Yang mendekatkanku kepada-Mu, bukan hanya kepadaku. Yang memudahkanku menggapai indahnya surga-Mu.”
Doa itu selalu keluar dari bibir Azzama dengan suara nyaris tak terdengar, tenggelam di antara dengung kipas angin dan aroma sajadah yang warnanya mulai pudar. Ia mengucapkannya selepas tahajud, setelah air mata jatuh tanpa isak, setelah ia menyebut satu nama yang selalu ia netralkan dalam hatinya: Sina Baskara Mahajana.
Mahajana adalah nama yang paling sering Azzama ceritakan kepada Tuhan, tetapi paling jarang ia akui kepada manusia.
Mereka tidak berpacaran. Tidak pula terikat dalam status apa pun. Hanya dua insan yang saling tahu perasaan, namun sama-sama menunggu sesuatu yang tak pernah jelas wujudnya. Mahajana selalu berkata, “Tunggu aku siap.” Dan Azzama selalu menjawab, “Aku akan menunggu, asalkan kamu kembali kepadaku.”
Entah sejak kapan, menunggu berubah menjadi kelelahan yang tak bisa ia tinggalkan.
Azzama bukan perempuan yang malas berdoa. Ia rajin, bahkan terlalu rajin, hingga doa-doanya terasa seperti hafalan, bukan lagi harapan. Ia memohon agar Mahajana dikuatkan, dimantapkan, dilapangkan rezekinya. Ia juga berdoa agar jika Mahajana bukan jodohnya, hatinya dilapangkan untuk mengikhlaskan.
Doa terakhir itulah yang paling sering ia ulangi, sekaligus paling sering ia bantah dalam diam.
Hingga suatu pagi, telepon dari Mahajana datang dengan suara gemetar.
“Azzama… aku mau bicara serius.”
Kalimat itu membuat Azzama menyiapkan diri pada dua kemungkinan: lamaran atau perpisahan.
“Aku mau nikah.”
Azzama tersenyum. Tangannya bergetar memegang ponsel. Dadanya sesak oleh harapan yang akhirnya pulang.
“Kapan kamu mau ke rumah?” tanyanya, menahan napas.
Hening.
“Maaf. Tapi bukan sama kamu, Azzama.”
Kalimat pendek itu menghantam seperti benda tumpul ke dadanya, pelan, berulang, mematikan. Azzama tidak langsung menangis. Ia hanya terduduk, menatap lantai, mendengarkan Mahajana menjelaskan tentang perempuan yang datang “lebih tepat”, tentang orang tua, tentang kesepian yang tak terduga.
Setelah telepon terputus, Azzama berdiri dan shalat. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia tidak tahu harus ke mana lagi.
Di sujud terakhir, ia menangis lebih lama dari biasanya.
“Bukankah aku meminta jodoh terbaik?” bisiknya. “Mengapa Engkau mengambil yang selalu aku pinta?”
Hari-hari berikutnya terasa kosong. Azzama tetap shalat tepat waktu, tetapi doanya kering. Ia berhenti bercerita kepada Tuhan, kecuali hal-hal yang wajib. Hatinya masih tertinggal di masa lalu, merasa doanya dikhianati oleh waktu.
***
Hingga suatu sore, malaikat tanpa sayapnya jatuh sakit.
Awalnya hanya pusing. Lalu tubuh itu melemah, suara ibunya merendah, dan rumah yang biasanya hangat dipenuhi bau obat dan kecemasan. Azzama bolak-balik rumah sakit, menghafal lorong-lorong, belajar menerima kata “rawat inap” dengan wajah datar yang letih.
Di satu malam sunyi di ruang tunggu, ia tanpa sadar membuka arsip percakapan lama dengan Mahajana. Ia membaca doa-doanya sendiri, tentang sabar, tentang menunggu, tentang hadiah Tuhan bagi hamba yang tawakal.
Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena kehilangan Mahajana, melainkan karena sadar betapa hidupnya pernah ia sandarkan sepenuhnya pada manusia.
Beberapa hari kemudian, dokter memanggilnya.
“Ibu Anda membutuhkan donor darah rutin. Golongan darahnya langka.”
Azzama panik. Ia menelepon saudara, teman, siapa pun. Banyak yang ingin membantu, tetapi sedikit yang cocok.
Sampai seorang perawat menyebut satu nama.
“Mbak, ada yang cocok. Namanya Sina Baskara Mahajana.” Azzama mematung.
Mahajana datang malam itu dengan wajah lelah, bukan wajah calon pengantin yang bahagia. Tanpa banyak bicara, ia mendonorkan darahnya. Berkali-kali. Dengan tenang.
“Kenapa kamu mau?” tanya Azzama lirih.
Mahajana tersenyum tipis. “Ibu kamu pernah bilang, ‘jangan sakiti Azzama.’ Aku gagal di satu hal, tapi aku tidak mau gagal di hal yang lain.”
Beberapa minggu kemudian, ibunya membaik, perlahan, nyaris mustahil kata dokter. Di malam pertama Azzama kembali shalat dengan hati yang utuh, ia akhirnya paham. Doanya memang terkabul.
Tuhan tidak memberinya Mahajana sebagai pasangan hidup, tetapi Tuhan mengambil Mahajana dari hidupnya agar ia tidak kehilangan ibunya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Azzama berdoa tanpa menyebut satu nama pun. Ia kini mengerti: tak semua yang diambil adalah kehilangan. Sebagian justru adalah cara Tuhan menyelamatkan.
Penulis: Wan Nurlaila
Editor: Rara Zarary


















