Buya Husein Jelaskan Kendala yang Dihadapi Kaum Muslimin

(kanan) KH. Husein Muhammad (Buya Husein) saat memberi materi dalam seminar Pasca Sarjana Unhasy “Tren Riset dalam Memperkuat Eksistensi Pendidikan Islam dan Hukum Keluarga di Era 4.0”, pada Ahad (9/2/20) di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng. (Foto: Aji Bintang)

Tebuireng.online– Pakar Tafsir Gender Indonesia, KH. Husein Muhammad atau yang kerap disapa dengan Buya Husein, menjadi salah satu pemateri dalam seminar Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy’ari di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng, Ahad (9/2/20). Buya paparkan beberapa hal yang masih menjadi problem besar yang terus menghinggapi kaum muslim hingga saat ini.

Menurutnya, salah satu kendalanya yaitu sumber-sumber pengetahuan keagamaan Islam saat ini masih merupakan produk pemikiran atau ijtihad kaum muslim pada abad pertengahan dalam nuansa arabia baik dalam bidang poitik, sosial, ekonomi, dan budaya patriakisme.

“Kalau pesantren jelas sekali, semua yang diajarkan di pesantren adalah produk-produk pemikiran keagamaan arabia abad pertengahan,” tuturnya.

Buya juga memberi beberapa contoh hukum dari berbagai kitab Fikih yang sudah tidak relevan bagi zaman ini. Seperti halnya dalam Fathul Qorib, yang mana hanya bab ibadah dan munakahah yang masih benar-benar berlaku pada masa ini,

“Konservatisme atau pengulang-ulangan suatu pemikiran atau pemahaman keagamaan yang dilakukan dalam waktu yamg panjang dan tanpa kritik serta ditransfer melalui metode doktrinal, pada gilirannya akan melahirkan keyakinan banyak orang bahwa pikiran yang diwariskan itu adalah kebenaran atau keyakinan itu sendiri berikut seluruh makna sakralitas dan universalitasnya,” tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Rasionalisme tidak berkembang progresif, lanjut Buya Husein jika tidak boleh dikatakan mengalami stagnansi. Aktivitas intelektual atau penggunaan akal tersebut bahkan acap distigma sebagai cara berpikir kaum liberal.

Terakhir beliau menjelaskan bahwa riset atas realitas kehidupan yang terus berganti, tidak berkembang karena peradaban teks “Hadlarah Al-Nash”.

Pewarta: Devi Yuliana

🤔  Mahasantri Raih Juara MQK se-Jawa Timur