Gus Sholah, Sang Penerus Literasi Pesantren

Oleh: Dimas Setyawan*

Sejarah mencatat, para ulama Islam pada awal Hijriyah adalah penulis yang produktif dan memiliki karya bermutu tinggi. Ulama era tersebut, tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi sekaligus ilmu seperti kedokteran, matematika, fisika dll.

Para ulama pesantren pun demikian. Banyak memiliki tradisi dan kemampuan yang sangat baik. Tidak sedikit dari mereka adalah penulis ternama yang terkenal sampai ke manca negara.

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menulis banyak buku, kebanyakan dalam bahasa Arab dan sisanya bahasa Jawa bertuliskan Arab Pegon. Total karya tulis Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari adalah 14 kitab yang telah dicetak dan 7 naskah yang hingga kini belum diterbitkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Putra beliau, Almagfurlah KH. Wahid Hasyim, tidak menulis tetapi hanya tulisan pendek (artikel) dan ceramah yang telah dibukukan. Adik beliau, KH. A. Karim Hasyim, menulis buku tentang riwayat hidup Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Dan beliau juga dijuluki sebagai, “Sang Kiai Sastarawan”. Lalu KH. M. Yusuf Hasyim menulis sejumlah tulisan pendek yang belum dibukukan.

Cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Gus Ishomudin M Hadziq cukup produktif menulis puisi, cerpen, dan artikel. Gus Ishomudin juga menulis kitab dan doa sebelum belajar dalam bentuk nadzhom (syair).

Gus Dur adalah penulis produktif sejak tahun 1970-an yang telah banyak dibukukan. Tulisan Gus Dur telah mengilhami banyak anak muda NU untuk melakukan pengembaraan dalam khazanah keilmuan.

Tradisi menulis di kalangan ulama pesantren, khususnya Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh Gus Sholah (KH. Salahuddin Wahid). Sebagai seorang publik figur, ulama, dan juga tokoh bangsa, Gus Sholah telah melahirkan banyak karya tulis yang dibukukan. Rata-rata buku yang diterbitkan adalah hasil tulisan beliau di berbagai surat kabar, seperti surat kabar, Kompas, Jawa Pos, Harian Bangsa, Pikiran Rakyat, dan lain sebagainya. Selain dari berbagai surat kabar, tulisan beliau juga diambil dari hasil mengisi seminar, diskusi, ceramah di berbagai tempat.

Adapun daftar-daftar buku beliau dapat kita telusuri bisa dilihat dari peran beliau sebelum menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng, maupun saat memangku pengasuh. Agar memudahkan pembaca, penulis akan membagi karya tulis KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sejak sebelum menjadi pengasuh dan ketika saat menjadi pengasuh. Adapun tulisan itu ialah:

  1. Negeri Dibalik Kabut Sejarah (2000)
  2. Mendengar Suara Rakyat (2001)
  3. Menggagas Peran Politik NU (2002)
  4. Ikut Membangun Demokrasi (2004)

Adapun tulisan saat beliau telah menjadi pengasuh ialah:

  1. Berguru Pada Realitas (2011)
  2. Transformasi Pesantren Tebuireng (2011)
  3. KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Pandangan 2 Putranya (2015)
  4. Menjaga Martabat Islam (2015)
  5. Ibuku Inspirasiku (2015)
  6. Mengenal Lebih Dekat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (2018)
  7. Memadukan Keindonesiaan dan Keislaman (2018)
  8. Pesantren dari Zaman ke Zaman (sebuah makalah, 2019)
  9. Menjaga Warisan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (2020).

Itulah beberapa tulisan beliau yang telah dibukukan, dan masih banyak lagi tulisan baik artikel, makalah, atau lain sebagainya yang belum dapat dilacak dan naik cetak. Semoga kita dapat meneladani jejak beliau dan kita mampu menjaga tradisi tulis menulis di kalangan pesantren.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaIni Zona Dakwah yang Perlu Disentuh Tokoh NU
BerikutnyaAku Hanya Ingin Menulis…