sumber ilustrasi: liputan6.com

Oleh: Qurratul Adawiyah*

“Boleh tahu apa saja, termasuk menulis. Boleh tidak tahu apa saja, kecuali menulis.”

Sepenggal kalimat itu telah menjadi awal aku memilih berproses dalam dunia tulis-menulis saat aku masih di pondok NURISKA. Meski memang sampai sekarang tulisanku masih sangat standar dan bahkan bisa dikatakan sangat jelek sekali. Eits… nggak ada tulisan yang jelek kata salah satu mentor dalam Sekolah Menulis di Tebuireng, Rara Zarary. Sehingga dengan itu, aku lebih bersemangat dan percaya diri terhadap karya-karyaku.

###

Pertama ikut kelas menulis, aku sangat malu tak bisa diam dan akhirnya tak berhenti bertanya, setiap pemateri mau melanjutkan penjelasan terkait materi saat itu aku selalu menghentikannya, karena jujur aku tidak paham pada waktu itu apalagi penjelasan pematerinya saat itu sangat enak sekali dan nyambung untuk diajak bicara tentang dunia tulis menulis.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tapi tak lepas dari itu aku sedikit kesal pada penanggung jawab kelas menulis saat itu, yang memperlihatkan jam tangannya mengisyaratkan untuk tak lagi bertanya bahkan teman di sebelah kananku melakukan hal yang tak jauh berbeda membisiki aku, menyuruhku untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang masih belum tersampaikan semuanya karena waktu yang tak memungkinkan. Mau tak mau aku harus mengikuti apa kata mereka, apalagi aku orang baru di sini.

Selepas kelas menulis telah usai, aku beranikan diri menghampiri pemateri yang sedang duduk istirahat sambil menunggu jemputan yang cukup lumayan lama, mungkin saja macet. Dari sanalah aku ambil kesempatan yang berharga ini untuk menanyakan pertanyaan yang masih belum sempat aku tanyakan secara tuntas karena akhir-akhir ini aku berprinsip pada nasihat kak Uzun sang penggapai nilai Mumtaz di sebuah kampus pesantren, Ma’had Aly.

“Mencari ilmu itu jangan pilih-pilih orang dan tempat. Kan ada orang yang merasa pintar dan tidak mau belajar sama dengan yang lain, maka jangan seperti itu karena sebenarnya kita harus pro gengsi, gengsi untuk belajar. Jadi kalau misalnya ada teman yang pintar dan saya tidak mampu, di situ saya datangi orang itu kemudian bergaullah dengan orang itu nanti insyaAllah meskipun tidak sepintar dia tapi kita terjembatan. Jangan gengsi untuk belajar sama siapa pun itu, kan ada tuh gengsi sama adik kelas, kakak kelas atau sama dosen karena sungkan. Tapi yang paling parah dan kebanyakan itu gengsi belajar sama adik kelas. Kalau memang adik kelas itu lebih mumpuni dari kita, ya datangi dia,” nasihatnya yang begitu menggugah bagiku. Nasihat itulah yang terus aku ingat untuk tetap semangat belajar.

###

“Assalamu’alaikum pak,..” aku mencoba mendekati guru menulis tadi.

“Waalaikumsalam Wr. Wb,” jawab beliau yang masih dengan duduk santainya.

“Sudah lama pak menunggu jemputan, harap dimaklumi pak kota ini kota kedua setelah Jakarta yang terkenal dengan kemacetannya,” aku mencoba buka pembicaraan. Beliau tersenyum sambil mempersilakan aku duduk di kursi yang tak jauh dari posisi duduknya beliau.

“Sebelumnya mohon maaf pak jika mengganggu waktu istirahatnya,” aku mengambil posisi untuk berbicara dengann beliau.

“Sangat tidak mengganggu, justru saya sangat senang ada yang bisa diajak ngobrol sembari menunggu jemputan, kalau boleh tahu siapa namamu Nak?, biar lebih enak bapak ngobrolnya,” keramahan beliau membuat aku tambah semangat untuk bertanya.

“Qurratul Adawiyah pak, boleh dipanggil Adawiyah pak biar mudah diingat, adeknya Rabi’ah Al-Adawiyah itu pak yang hidup pada zaman Rasulullah,” untuk menghilangkan kesunyian, aku memilih sedikit bercanda dengan perkenalan itu.

“Ada-ada saja kamu Adawiyah, oh ya ada yang ingin bapak tanyakan sama kamu mengenai tulis menulis di kampus ini bagaimana?”

Dengan samangat aku menjawab selengkap-lengkapnya hingga faktor-faktor teman-teman yang tidak mau menulis.

“Sebenarnya banyak pak untuk teman-teman yang ingin tahu nulis baik fiksi maupun non fiksi. Hanya saja, setiap kali menulis keluhan mereka, jari jemarinya berhenti, alur logikanya tersendat, macet. Mereka tak tahu harus memulai dari mana, bingung mau menulis apa, apa kata pertama yang harus ditulisnya untuk memulai paragrafnya. Sementara saya mau ngasih solusi juga tahap belajar pak. Mungkin bapak berkenan memberikan solusi terhadap apa yang terjadi pada teman-teman khususnya saya pak,” dengan penuh harap semoga bapak Ongky, sang pecinta literasi ini memberikan solusi yang bagus untuk perbaikan literasi mahasiswa di kampus.

“Sebenarnya, saat hendak menulis, saya sendiri tidak terlalu menganggap penting, harus memulai dari mana dan apa kata pertama yang harus saya tulis. Yang terpenting adalah saya harus menulis, topik dan misi dari tulisan saya bisa sampai pada pembaca. Lihat saja tulisan ini, sambil memberi secarik kertas yang berisi sajak demi sajak, biasa saja, juga tidak terlalu penting, tulisan saya menarik atau tidak, diksinya salah atau benar, enak dibaca atau tidak, sesuai dengan aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau tidak. Yang terpenting saya mau menulis,” ungkapnya. Dan aku mulai menyadari banyak kesalahanku selama ini, mengapa aku tidak produktif, ialah karena aku terlalu takut atas penilaian terhadap tulisan-tulisanku.

Setelah percakapan cukup lama, kami mengakhiri obrolan itu dengan sangat bahagia karena pengetahuan yang telah aku dapat dari pak Ongky, salah satu dosen Sastra di salah satu universitas di Yogyakarta saat ini.

Sebelum beranjak pergi, tak lupa pak Ongky juga memberi nasihat padaku untuk terus giat menulis dan membaca agar lebih tahu dunia. Aku mengiyakan dengan jawaban pasti dan siap untuk memulai kembali kebiasaan dan kecintaanku pada dunia tulis menulis.

Bismillah, semoga aku tambah giat menulis,” batinku dengan senyum yang renyah seraya melepas kepergian pak Ongky.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaBiografi KH. Salahuddin Wahid (2)
BerikutnyaKH. Lukman Hakim, Istikamah dalam Al-Quran