Oleh: Pipit Maulidiya*

Dengan karakter rendah hati, penampilannya tidak mencolok, apa adanya, menunjukkan sikapn kesederhanaannya. Beliau terbiasa memakai sepeda mini jelek, vespa buntut, dan hal-hal yang menurut kebanyakan orang sangat remeh dan tidak pantas dipakai oleh seorang kiai atau gus (panggilan untuk menghormati anak-cucu laki-laki keturunan pemuka agama atau kiai). Gus Ishom cuek, tidak pusing dengan guncingan orang. Beliau selalu percaya diri dan sangat yakin dengan apa yang dilakukannya. Seringkali ketika diundang pada acara pengajian, sandal yang dibawa tidak pas, berbeda sebelah, sisihan istilah orang Jawa, satu merah satu hijau. Bahkan pernah ketika memberikan pengajian, sandalnya diambil orang. Sehingga beliau  harus pulang sambil nyeker (tanpa alas kaki).

Kedalaman ilmu dan kematangan dirinya membuat Gus Ishom menjadi sosok yang menawan, tidak senang menjadi beban orang lain, dan sebisa mungkin membantu dan membahagiakan sekelilingnya. Dalam keluarga, ketika Gus Ishom marah, tidak pernah berbuntut panjang sehingga cepat selesai. Ketika ada masalah dan beliau tidak setuju, lebih memilih tidak berkomentar dan tidak ikut cawe-cawe atau ikut campur.

Beliau fleksibel, tidak terlalu fanatik, moderat dan terbuka. Namun, dalam memegang prinsip hidup pada sesuatu yang diyakini kebenarannya beliau perjuangkan semaksimal mungkin, seperti tidak ada yang mampu menahannya. Misalnya ketika beliau sedang sakit, ada undangan pengajian di Cilacap, Pak Yusuf Hasyim melarangnya untuk menghadiri acara pengajian itu. Namun karena sudah janji, beliau tetap pergi walau dalam keadaan sakit. Ini tidak lepas dari kesadaran beliau bertanggung jawab terhadap umat. Gus Ishom lebih mementingkan kepentingan umat dari pada kepentingannya sendiri. Dalam menyampaikan ilmu, beliau menghindari kesan menggurui. Obyektivitas, kerendahdirian, dan kejujuran ilmiah sangat dijunjung tinggi. Beliau bukan sosok yang obsesif, ambisius, dan meledak-ledak. Penyampaiannya datar, suaranya enak, mudah dicerna, dan joke-joke-nya mengalir dengan segar.

Hal lain yang menarik untuk digarisbawahi dari Gus Ishom adalah beliau jarang menggunjingkan aib orang lain. Kalau ada orang yang menggunjing aib orang lain, beliau lebih memilih diam atau menghindar. Kalau beliau ikut, hanya dalam batas yang sangat proporsional, tidak berlebih-lebihan dan disana ada unsur ta’dib (mendidik). Dalam melangkah, Gus Ishom tidak tergesa-gesa, santai. Beliau mempunyai perhitungan dan pertimbangan yang matang dan tepat. Kesabaran, kedewasaan, kearifan dan kebijaksanaan Gus Ishom selalu terpancar dalam sikap perilakunya. Penghormatannya kepada guru sangat besar. Ketika salah satu gurunya, misalkan KH. Idris Marzuki menyuruhnya, tidak ada kata “tidak”, pasti dilaksanakan. Hal ini tidak hanya ketika menjadi santri, ketika menjadi orang terkenal, penghormatan terhadap gurunya tidak pernah berubah. (1)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Keluarga Kecil yang Indah

Gus Ishom menikah pada tanggal 23 Januari 2000 dengan seorang santri dari Pondok Pesantren Seblak asal Pacitan Jawa Timur, bernama Nia Daniati binti KH. Muhammad Anwar. Gus Ishom melangsungkan pernikahan dikomplek pemakaman keluarga Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, akad nikah oleh gus Dur yang saat itu menjabat presiden dengan disaksikan oleh para kyai.

Dari pernikahan ini lahirlah satu orang putra bernama Muhammad Hasyim Anta Maulana dan satu orang putri bernama La Tahzani Innallaha Ma’ana. Menurut pengakuan mertuanya KH. Muhammad Anwar, alumnus Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Ishom adalah orang yang mampu membina rumah tangga secara harmonis. Ketika sedang di rumah mertua di Pacitan, Gus Ishom tidak makan kalau tidak bersama istri. Beliau siap menunggu kadatangan Sang istri walau harus menunggu lama. Walaupun menjadi menantunya, KH. Muhammad Anwar menganggap Gus Ishom sebagai gurunya. Karena sejak di Tebuireng, ia selalu melihat Kiai Idris mencium kening Gus Ishom selepas sholat. Padahal tidak sembarang orang keningnya bisa dicium Kiai Idris. (2)

**Staff Produksi eastjavatraveler.com, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya


(1) Zahrotul-zahra.blogspot.com/2012/05/kiai-ishomuddin-hadziq.html?m=1 (Diakses pada tanggal 15 Nopember 2013)

(2) https://wiki.aswajanu.com/Gus_Ishomuddin_Hadziq (Diakses pada tanggal 15 Nopember 2013)

SebelumnyaWartawan Senior Tempo Beri Motivasi Penulis Muda Tebuireng
BerikutnyaNyai Solichah Wahid, Ibu Bangsa