Sumber foto: https://satriabajahitam.com/resensi-novel-tere-liye-rindu/

Judul Novel      : Rindu

Pengarang       : Tere Liye

Penerbit          : Republika

Tahun Terbit   : 2014

Tebal Buku      : 544 halaman

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Peresensi         : Fitrianti Mariam Hakim*

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.” (Sebuh kutipan dari sinopsis novel Rindu yang dikarang oleh Tere Liye).

Rindu, novel yang berjudul romantis ini berhasil menjadi novel yang best seller di tahun 2015. Ia masuk pada ketegori fiksi dewasa terbaik dalam acara Islamic Book Award. Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang sebuah kerinduan. Perjalanan kerinduan yang membawa banyak hal yang terbeban di hati. Mulai dari bagaimana ia menghadapi perjalanan dengan penuh dosa di masa lalu. Lalu seseorang yang melakukan perjalanannya dengan penuh kebencian. Ada punya dia yang kehilangan cintanya menjadi sebab mengapa ia melakukan perjalanan ini.

Cerita pada novel ini,  berlatar waktu pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Yakni pada masa ketika Belanda masih menduduki Indonesia. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memberikan layanan perjalanan haji untuk rakyat pribumi yang memiliki cukup uang. Perjalanan dilakukan lewat laut yakni menggunakan kapal uap besar yang merupakan perkembangan teknologi transportasi tercanggih pada masa itu. Salah satu kapal yang beroperasi untuk melakukan perjalanan haji ini adalah Blitar Holland. Di kapal besar inilah segala kisahnya dimulai.

Pada novel ini, Tere Leye meracik cerita dengan begitu menarik dan menggelitik. Dengan geliat alur ceita dan nuansa yang berbeda bak kehidupan nyata di atas kapal uap besar, mampu mengajak pembaca hidup dengan imajinasi nyatanya. Ditambah  di atas kapal juga terjadi interaksi sosial antar penumpang kapal. Selain itu, juga terdapat fasilitas-fasilitas umum seperti kantin, masjid, dan tukang jahit kapal.

Diceritakan dalalm novel ini, mengenai keluarga Daeng Andipati yang terdiri dari orang tua, seorang pembantu rumah tangga, serta dua anak yang mengikut perjalanan haji ini, yakni Anna dan Elisa. Mereka menjalani lamanya waktu perjalanan haji dengan riang gembira. Seakan tidak pernah mengerti tentang apa yang terpendam di hati Daeng, ayah mereka.

Ada pula tokoh yang bernama Ambo Uleng. Dia adalah seorang pelaut. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas lautan. Ambo Uleng rupanya menuruni sifat ayahnya yang seorang pelaut juga. Ia menaiki kapal Blitar Holland tidak dengan tujuan apapun. Tidak untuk bekerja, mengumpulkan uang, atau apapun. Ia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya meninggalkan tanah Makassar yang ia jalani melalui kisah pilunya.

Di sisi lain, ada seorang keturunan Cina. Ia sering mengajari ngaji anak-anak di mushola kapal sepanjang perjalanan haji. Anak-anak biasa memanggilnya Bonda Upe. Bonda Upe ini rupanya sedang memendam masa lalunya sebelum memeluk Islam. Hingga tiap malam ia selalu menangisi dosa-dosanya yang dulu.

Dari sini pula diceritakan Gurutta Ahmad Karaeng, ulama tersohor asal Makassar yang mengikuti perjalanan haji. Beliau rutin melaksanakan shalat berjamaah bersama penumpang lain. Secepat itu pula Gurutta meminta izin kepada kapten untuk mengadakan pengajian di atas kapal. Beliau adalah sosok yang selalu memberikan jawaban terbaik atas pertanyaan orang-orang. Namun ternyata ia sendiri telah memendam lama sebuah pertanyaan yang tak mampu seorang pun menjawab.

Adapun kelebihan buku ini adalah alur ceritanya yang begitu menarik dan mengalir untuk dibaca. Juga menyajikan nuansa latar yang berbeda. Yakni peristiwa kehidupan yang terjadi di atas kapal ibarat kapal uap besar itu adalah sebuah kampung. Namun, sayangnya kekurangan buku ini terletak pada sampul buku yang kurang begitu menarik. Tidak sebanding dengan isinya yang begitu menarik untuk dibaca.

Selain itu, di dalam buku ini, kita akan menemukan bahwa ‘lima kisah’ yang disebutkan dalam blurb di atas membuat kita ingin cepat-cepat memecahkan setiap masalah dari kisah-kisah itu, lantaran tebakan kita sering kali meleset. Seperti Ambo, lelaki yang ingin pergi jauh dari Gowa karena sakit hati mendengar orang yang dicintainya akan dijodohkan dengan orang lain. Sebenarnya, kita pasti sudah bisa merasakan bagaimana sakitnya jika kita ada di posisinya. Membuat kita merasa simpati. Namun, ternyata, rasa simpati kita pada lelaki yang pernah bekerja di kapal Phinisi ini menguap karena ia yang harus kita salahkan. Ia yang tak ingin mendengar lebih lanjut tentang rencana perjodohan itu. Bahwasanya, sang kekasih dari dulu memang akan dijodohkan dengannya, anak dari teman ayah si perempuan yang dicintai.

Adapun kelemahan novel ini terletak pada adanya lima masalah yang harus diselesaikan, novel ini memiliki halaman yang terbilang banyak. Selain itu, bahasa yang digunakan juga bertele-tele. Walaupun kita ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah-masalah dalam buku ini, pasti juga ada rasa bosan karena sebelum selesai satu konflik, konflik baru sudah datang. Saat pemecahan konflik, kita harus membaca ulang halaman-halaman sebelumnya agar tidak lupa dengan konflik yang sudah kita baca sebelumnya, karena setiap konflik tidak dipecahkan di tempatnya masing-masing. Menurut penulis, jikalau Bang Tere Liye bisa menuntaskan satu persatu masalah sebelum menarik diri masalah baru, akan sangat lebih bagus.

Rindu, dari novel ini, Bang Tere mengajarkan kita tentang bagaimana memaknai kehilangan, tentang memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Apa itu hakikat cinta sejati dan tentang penerimaan atas takdir Allah. Berbagai permasalah hidup memang terbilang rumit, menyakitkan, sembilu, bahkan menghimpit dada. Namun tidak untuk Bang Tere. Dari novel Rindu ini, ia menggambarkan permasalah-permasalahn tersebut dengan bingkai yang indah dan penuh kesederhanaan. Inilah yang membuat novel Rindu ini begitu istimewa. Ia menyimpan beribu-ribu kebaikan dalam setiap kalimatnya. Ia memberikan pemahaman-pemahaman terbaik dari paragrafnya.


*Mahasantri putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSistem Terdigitalisasi, Perpustakaan Unhasy Jadi Rujukan
BerikutnyaTragedi Cimindi, 65 Tahun Gugurnya Sang Pembaharu